Nite-Walking dan Sebuah Renungan

Maret 18, 2011 § 21 Komentar

Bismillahirrahmanirrahiim. . .

Tergerak berinteraksi dengan tuts-tuts keyboard untuk menggoreskan tinta digital malam ini. Setelah melakukan hobi saya, “Nite Walking”. Mungkin kawan-kawan agak aneh mendengar aktivitas yang saya sebut “Nite Walking” ini. Aktivitas ini sering juga saya sebut sebagai kontemplasi berjalan. Secara teknis, “Nite Walking” yaitu jalan kaki di malam hari. Namun, Nite Walking bukan sekedar jalan kaki di malam hari, tapi saya sering gunakan aktivitas ini untuk merenungi sesuatu.

Nite walking malam ini ditemani Super Moon, lagu Cahaya Bulan karya Eross SO7, dan sebuah perenungan.

Sebuah renungan akan apa-apa yang telah saya lakukkan selama ini, terutama sekali di masa-masa akhir perkuliahan ini. Mengingat sudah banyak kekacauan yang saya lakukan di berbagai tempat dan ke beberapa orang. Betapa semrawutnya hidup saya akhir-akhir ini.

Terlintas semua perbuatan buruk saya selama ini dan betapa jauhnya saya dari perjuangan memperbaiki diri. “Ya Rabb, jangan sampai apa yang terlihat dari luar lebih baik dari apa yang ada di dalam diri yang lemah ini” pinta lirih dalam hati.

Terlintas pekerjaan-pekerjaan yang terbengkalai begitu saja. Tumpukan data tugas akhir di kamar, tumpukan data-data mahasiswa yang harusnya sudah saya susun,dan buku-buku terbaik sepanjang zaman yang hanya teronggok di kamar belum terbaca dan belum ter-amalkan.

Terlintas wajah kedua orang tua yang selalu berharap anaknya menjadi yang terbaik sedang si anak masih saja bergelut dengan kesemrawutan hidupnya sendiri.

Terlintas semua kesemrawutan itu. . .

Sekejap, terlintas pula sebuah cita untuk hidup dalam sebuah perjuangan menuju peradaban yang lebih baik. Terbayang kisah-kisah perjalanan hidup pejuang-pejuang peradaban.

“Cita ini tak boleh diam menjadi angan, tapi harus bergerak menuju kenyataan..” kata hati untuk menyemangati diri.

Bismillah…jalan baru harus terbentuk!

Satu…satu…satu…masalah harus diselesaikan

Satu…satu…satu…perbaikan harus dilaksanakan

Pasti Bisa!!

Renungan dalam Nite Walking kali ini pun selesai ketika langkah ini terhenti di depan gerbang kosan.

“….Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (Qs Ar-Ra’d:11)



Kosan 00.34 WIB

19 Maret 2011

Iklan

BERBAGI PDF: RIYADHUS SHALIHIN

Maret 17, 2011 § 9 Komentar

Dalam rangka berbagi manfaat, kali ini saya suguhkan untuk kawan2 kitab riyadhus shalihin jilid 1 dan 2…

semoga bermanfaat. . .

SAHABAT UNTUK DIBERI

Maret 14, 2011 § 1 Komentar

Bismillahirrahmanirrahiim. . .

Tergugah untuk membuka kembali dan menuliskan kembali untuk kawan-kawan MP-ers sebuah buku apik karya Ust. Salim A. Fillah yang berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah. Tergugahnya hati saya untuk menulis kembali bagian dari buku Dalam Dekapan Ukhuwah ini setelah melihat tulisan seorang kawan Menjaga, Menata, Lalu Bercahaya.

Walau saduran, semoga bermanfaat. . .

Sebuah kisah kelanjutan tentang ukhuwah luar biasa dari Salman Al Farisi dan Abud Darda’

Pada suatu hari Salman berjumpa degan istri Abud Darda’. Dilihatnya ada kabut membayang di wajah wanita shalihah yang pernah menjadi pilihan hatinya itu. Diberanikannya untuk menyapa karena dia telah berjanji pada dirinya untuk melakukan segala yang dibisa demi kebahagiaan mereka berdua. Duka mereka pasti akan menjadi urusannya.

“Bagaimana keadaanmu dan suamimu?” tanya Salman. “Kami baik alhamdulillah.” Jawab Ummud Darda’ sembari menunduk. “Adapun Abud Darda’, adalah dia tak lagi punya kepentingan dengan urusan dunia.”

“Jelaskanlah!” desak Salman. “Alhamdulillah tak satu pun siang hari berlalu kecuali dia menjalaninya dengan berpuasa. Dan alhamdulillah, dia shalat malam dan membaca Al qur’an sepanjang gelap dari Isya hingga Subuhnya.”

Bayangkanlah diri kita sebagai seorang lelaki pada umumnya. Lelaki yang kini mengetahui bahwa wanita yang pernah menjadi hasil istikharah kita tetapi lebih meilih sahabat kita itu, telah ‘disia-siakan’ oleh suaminya. Ada godaan-godaan tentunya untuk bicara tak sepantasnya. Ada peluang-peluang untuk menuipkan sesal bagi dia yang tak memilih kita. Ada bisikan-bisikan untuk mengambil kesempatan di kala persoalan sedang membelit mereka.

Tetapi Salman bukan kita. Dan Abud Darda’ bukannya menyia-nyiakan istrinya dalam arti yang akrab di kehidupan kita hari ini. Dia hanya terlalu bersemangat menenggelamkan diri pada kekhusyu’an ibadah hingga agak abai pada hak-hak keluarganya. Maka mari belajar pada Salman tidak hanya untuk tak ikut campur pada urusan rumahtangga orang lain, melainkan juga bertindak demi kebahagiaan mereka yang dicintai.

“Serahkanlah urusan ini padaku,” juar Salman pada wanita itu.

Maka pada malam itulah Salman bertamu ke rumah saudaranya yang terkasih, Abud Darda’. Bahkan dia meminta izin untuk menginap di rumah sang kawan sekaligus tidur di kamar Abud Darda’ yang telah berubah menjadi mushalla.

“Baiklah, silakan wahai Saudaraku dalam rahim Islam,” ujar Abud Darda’ jengah.

Malam pun beranjak dan tiba saatnya Abud Darda’ berdiri menghadap Allah sesuai waktu yang telah dijadwalkannya sendiri. “Salman Saudaraku,” ujarnya, “Silakan beristirahat. Aku harus berdiri untuk menunaikan hak Rabbku.”

Salman tersenyum. “Saudaraku,” kata Salman sembari menatap Abud Darda’, “Aku bersumpah dengan Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, mulai malam ini kedua kelopak mataku takkan kukatupkan selamanya hingga akhir hidup. Kecuali engkau pun juga mau tidur sebagaimana aku beristirahat.”

“Apa maksudnya itu?”

“Demikianlah sumpahku telah terucap.”

“Cabutlah!”

“Tidak.”

Malam itu keteguhan hati Salman untuk membujuk Abud Darda’ beristirahat telah meluluhkan niat sahabatnya dalam menghabiskan malam untuk ibadah. Abud Darda’ pun turut tertidur. Hingga menjelang subuh, Sa
lman membangunkan sahabatnya itu. ”Masih ada sedikit waktu setelah istirahatmu,” kata Salman, “Untuk memenuhi hak Rabbmu.”

Pagi menjelang dan Abud Darda’ tampak lebih segar dari biasanya. Sang istri memasak hidangan istimewa untuk mereka berdua. Meja telah disesaki kurma, susu, roti tepung sya’ir, dan paha kambing yang harum. Abud Darda’ mempersilakan tamunya ke ruang jamuan.

“Makanlah Saudaraku!” ujar Abud Darda’, “Adapun aku telah berniat untuk puasa hari ini.”

Lagi-lagi Salman tersenyum. “Aku juga bersumpah dengan Szat yang jiwaku dalam genggaman-Nya,” kata Salman, “Bahwa sejak pagi hari ini takkan ada sesuap pun makanan yang akan lewat di kerongkonganku hingga ajal menjemput. Kecuali kau juga makan bersamaku di pagi yang indah ini.”

“Demi Allah itu sumpah yang batil!”, tukas Abud Darda’.

“Hanya engkaulah yang bisa membatalkannya dengan ikut makan bersamaku.”

Lagi-lagi, Salman berhasil meruntuhkan niat Abud Darda’ untuk berpuasa di hari terik itu. Abud Darda’ dengan terpaksa ikut makan. Tapi harus diakuinya, bahwa hidangan pagi ini memang begitu istimewa dan terasa lezat baginya. Usai menikmati santapan yang nikmat itu tampillah Salman dengan nasihat agungnya.

“Sesungguhnya,” tegas Salman, “Rabbmu memiliki hak atas dirimu. Dan sesungguhnya, tubuhmu juga memiliki hak atas dirimu. Dan sesungguhnya kkeluargamu juga memiliki hak atas dirimu. Berbuat adillah kepada mereka dalam mengabdikan diri kepada Rabbmu.”

Kisah yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari pada perihal membuat makanan di Kitab Adab dalah Shahih-nya ini tersambung dengan menghadapnya Abud Darda’ pada sang Nabi. Diadukanlahulah saudaranya itu yang telah menggagalkan ibadah-ibadah dalam kunjungan ke rumahnya. Disampaikannya pula nasehat Salman. Maka bersabdalah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, “Salman benar adanya. Seorang penasehat yang tulus hati.”

-selesai-

Sebuah renungan mendalam untuk diri ini akan sebuah hakikat ketulusan dan ukhuwah serta kelembutan sikap hanya karena Allah. Hanya karena Allah…

LIRIK KERESAHAN HATI

Maret 12, 2011 § 4 Komentar

Rangkaian kata dalam lirik ini selalu saja dapat merefleksikan keresahan yang menggerakan dan keresahan yang menguatkan…



Cahaya Bulan by Eros SO7 feat Okta

perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang
di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih
kenapa matahari terbit menghangatkan bumi

aku orang malam yg membicarakan terang
aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang

perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
cahaya nyali besar mencuat runtuhkan bahaya
di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih
kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi

aku orang malam yg membicarakan terang
aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang

reff: cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yg takkan pernah aku tau dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati

terangi dengan cinta di gelapku
ketakutan melumpukanku
terangi dengan cinta di sesatku
dimana jawaban itu

Islamic Calendar

Maret 8, 2011 § Tinggalkan komentar

KISAH DUA BUKU (Part 2)

Maret 8, 2011 § 26 Komentar

Bismillahirrahmanirrahiim. . .

Setelah mengahdirkan kisah buku pertama yang judunya saja sudah membuat hati saya meronta-ronta, sekarang waktunya berbagi kisah buku kedua.

Kisah buku kedua ini terjadi siang hari kemarin. Diawali dari rekreasi saya ke kantor-kantor pemerintah daerah demi mendapat data yang dibutuhkan untuk tugas akhir saya. Setelah selesai, kantong celana bergetar tanda ada sms masuk, saya liat handphone ternyata dari seorang teman seperjuangan tugas akhir yang sedang mencari data pula.

Singkat cerita, kami janjian untuk makan siang bersama. Berhubung dia masih diperjalanan sedang saya sudah didekat tempat makan, jadi saya harus menunggu terlebih dahulu. Sejenak meluaskan pandangan mencari tempat teduh untuk menunggu teman. Pilihan pun jatuh pada sebuah toko buku tepat di depan saya.

Tanpa niat khusus membeli buku, saya pun melangkah masuk. Itu niat awalnya. Namun, setetlah masuk dan disuguhi berbagai macam buku niat membeli muncul juga akhirnya. Secara bijaksana dan intelek, saya sambangi rak bertuliskan “EKONOMI”. Saya mencari-cari buku referensi yang cocok untuk tugas akhir saya. AHA! Ketemu satu buku yang cocok untuk saya jadikan referensi tugas akhir, tapi sayang harganya tak cocok. Huuufft.

Kecewa di rak ekonomi saya beralih ke rak lain dan sampai pada rak favorit saya, buku-buku islami. “Hmmm….hmmm…..hmm….buku apa ya yang menarik?” hampir 10 menit saya berkata seperti itu dalam hati. Beberapa buku yang saya harapkan ada ternyata tak ada di toko buku itu. Berarti memang bukan rezeki saya dan rezeki si empunya toko buku.

Beranjak ingin keluar dari toko buku tiba-tiba mata saya sepintas melihat sebuah buku. Buku yang posisinya mirip sekali dengan posisi buku satu yang saya ceritkan sebelumnya. Di bawah, diapit buku-buku lain, dan yang ini diperparah karena jumlahnya bukunya hanya 1 eksemplar. Saya ambil buku itu dan menatapnya dalam-dalam. “Beli? Gak? Beli? Gak?” Belum pernah saya membeli buku dengan tema seperti ini. Keraguan mulai hinggap. Ok! Untuk membabat habis keraguan saya berkeliling toko buku itu sekali lagi untuk mencari “buku pengalih”. Maksudnya, buku lain yang akan menggantikan buku yang sedang saya ragukan ini. Ternyata, “buku pengalih” itu pun tak ada. Tak ada buku lain yang sanggup mematahkan pesona buku yang sedang saya pegang ini. Baiklah, saya beli saja buku ini. Semoga bermanfaat. . .

Kalau di kisah sebelumnya saya khawatir akan reaksi cowok-cowok rumpi dan mba kasir, kali ini dengan buku ini, saya khawatir dengan reaksi ibunda tercinta dan dua kakak perempuan saya yang tercinta pula. Qo bisa? Ya gitu lah… Reaksi mereka akan lebih heboh dari reaksi ketika melihat buku Ma’alim Fii Ath-Thoriq yang bertuliskan “Buku Terlarang Versi Intelijen” yang pernah saya bawa pulang. Tapi tak apa lah, resikp harus saya hadapi. Baca buku ini secara diam-diam pun saya jalani.

Dan . . .

Tahukah kawan judul buku yang hanya tersisa satu dan berada pada posisi yang terpencil itu?

Tahukah kawan judul buku yang pesonanya tak bisa dikalahkan oleh buku-buku lain di toko buku tersebut?

Tahukah kawan judul buku yang akan membuat heboh Ibu dan kakak saya tercinta?

Buku itu berjudul, Kupinang Kau dengan Hamdalah karya Ustadz Faudzil Adhim.

KISAH DUA BUKU (Part 1)

Maret 7, 2011 § 23 Komentar

Bismillahirrahmanirrahiim…


Masih ingat dengan catatan kecil saya yang berbunyi “akhirnya memberanikan diri membeli buku bergenre seperti itu. . . semoga manfaat dengan membacanya…?


Yap. It’s based on true and real story. Bagaimana saya harus mengumpulkan keberanian untuk membeli buku itu benar-benar membuat saya senyum-senyum sendiri 😀

Ok! Saya tahu kalian pasti penasaran (pede!). tenang saja, saya akan bagi kisahnya. Wilujeung nyakseni. . .

BUKU SATU

Bukan main-main, untuk meyakinkan hati dan melangkahkan kaki menuju toko buku untuk membeli buku satu ini luar biasa berat. Saya harus menyiapkan berbagai strategi dan argumen untuk berjaga-jaga kalau ada kawan yang mengetahui saya membeli buku ini. Dorongan yang kuat pun senantiasa menguatkan hati dan langkah ini untuk terus melaju. Harus berani! Itu yang selalu saya ulang-ulang dalam hati.

Sudah sampai di toko buku. Di mana ya letak buku itu? Oh iya, di ujung sebelah sana! Pelan-pelan saya langkahkan kaki dan pasang muka paling dingin (cool). Melihat secara teliti tiap judul buku yang ada di rak itu. Sampai jereng mata saya mencari-cari buku yang kan saya beli.

Dan akhirnya. . .

JENG….JENG!! Buku itu ada di bagian paling bawah di rak itu dan diapit dua buku berukuran lebih besar. Sungguh terpencil sekali letaknya.

Ketika bermaksud menjulurkan tangan untuk mengambil buku itu, tiba-tiba tersentak! Baru sadar bahwa dideretan rak itu banyak kaum adam yang sedang ketawa-ketiwi gak jelas. Saya tarik lagi tangan saya dan coba menahan diri beberapa saat. Setelah cowok-cowok rumpi itu pergi dari deretan rak itu baru lah saya dengan secepat kilat mengambil buku itu dan berjalan agak cepat menuju kassa. Tersentak lagi! Baru sadar kalau sang kasir pasti kaum hawa dan akan menjadi perkara baru kalau si mba kasir memperhatikan buku yang saya beli. Keberanian saya kumpulkan lagi dan coba acuuh saja dengan hal itu. Ya memamng karena tak ada pilihan lain juga. Ternyata, mba kasir tak begitu memperhatikan dan tak bereaksi apapun atas judul buku yang saya beli. YES!! Misison Accomplished!

Tambah penasaran khan? Kenapa saya sampai se-lebay itu hanya karena membeli buku. Tunggu dulu….! saya belum ungkap judul bukunya. Mau tahu?

Tahukah kawan judul buku yang membuat saya harus mengumpulkan keberanian untuk melangkah menuju toko buku?

Tahukah kawan judul buku yang membuat saya tak jadi mengambil buku itu di depan kaum adam?

Tahukah kawan judul buku yang membuat saya khawatir akan reaksi si mba kasir?

Tahukah kawan?

Buku itu berjudul. . .berjudul. . .KUPAS TUNTAS IMPOTENSI DAN EJAKULASI DINI!!

JENG-JENG!!!

Buku ini pesanan seorang kawan yang kuliah di bidang medis dan sedang menjalani proses tugas akhir. Di kotanya sulit menemukan buku ini. Sebagai seorang kawan, mudah saja bagi saya membantu dia untuk membelikan buku ini, akan tetapi sebagai laki-laki, hati saya meronta-ronta harus membeli buku ini. 😀


(to be continued)

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Maret, 2011 at Mutsaqqif.