REMAJA?

Mei 20, 2011 § 19 Komentar

Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillah diberi kesempatan lagi untuk menulis setelah beberapa saat vakum menulis. Sebenernya, kemaren – kemaren sih nulis juga, bahkan sampai 93 halaman, tapi itu nulis Tugas Akhir (curcol). Banyak ide yang ingin dituangkan dalam tulisan, tapi yang ini dulu saja, yang paling meresahkan saya hari ini.

Sore tadi, mendapat sms dari seorang kawan yang sedang resah-resahnya dengan dua orang menteenya. Bagaimana tidak resah, dia bercerita bahwa sang mentee punya kebiasaan aneh, bahkan kebiasaan itu sudah berkembang menjadi hal yang membuat mereka berdua kecanduan. Tahukah kawan apa kebiasaan mereka itu? Mereka gandrung untuk menonton film tentang gay, suka anime tentang gay, dan bahkan ikut komunitas pecinta gay. Astaghfirullah. . .
eits, saya lupa belum memberitahu kalau kawan saya perempuan dan tentu saja menteenya juga perempuan. Super aneh! And one more thing, mereka masih duduk di bangku SMP! Luar biasa. . .miris sekali mendapat kabar ini.

Astaghfirullah. . .

Sudah separah inikah keadaan remaja saat ini? Atau ada hal lebih parah yang belum pernah saya dnegar? Atau ini hanya bagian sangat kecil dari sebuah generasi yang sebenarnya generasi unggulan? Semoga Allah menjadikan generasi penerus ini sebagai generasi madani. Aamiin.

Tentang fenomena seperti ini, saya teringat akan sebuah buku yang saya jadikan referensi untuk sebuah penelitian kecil-kecilan ketika masih di bangku SMA. Ketika itu penelitian saya dan kawan-kawan mengenai keadaan remaja yang bekerja sebagai pengamen, penjual asongan, dan pekerjaan lain yang lazim ada di sebuah terminal. Di satu bagian makalah, harus mencantumkan pengertian dari remaja. Oleh karena itu, hunting buku pun dilakukan dan bertemu lah saya dengan buku tersebut.

Dalam pembahasan buku tersebut, benar-benar mengupas habis tentang bagaimana kehidupan remaja. Namun, ada satu pembahasan menarik dalam buku itu yang sebelumnya belum pernah saya temui. Sebuah pembahasan mendalam untuk menjawab satu pertanyaan sederhana, “Apakah usia remaja itu benar-benar ada?”. Pertanyaan yang menembus langsung menuju eksistensi sebuah masa dalam hidup manusia. Kesimpulan yang akhirnya diusung oleh buku ini adalah TIDAK ADA USIA REMAJA!

Kenapa tak ada usia remaja?

Beberapa alasan kuat yang ditarakan dalam buku tersebut yaitu

Usia remaja adalah sebuah bentukan “baru” dari dunia modern saat ini. Mengapa hal ini menjadi masalah? Tentu saja masalah, dunia bentukan baru saat ini secara global saja sudah bertumpu pada materialisme, hedonisme, dan isme-isme lain yang berdampak buruk pada penerapan nilai dan norma pada generasi muda. Berkaca pada kebudayaan dan kebiasaan masa lalu, sebelum isme buruk itu masuk, hanya ada dua masa pada manusia, masa anak-anak dan masa dewasa. Setelah seseorang dinilai pantas memasuki masa dewasa maka akan ada uji coba khusus yang dilakukan, entah ini upacara ritual atau sebagainya. Dalam Islam pun, hanya ada dua masa itu, anak-anak dan baligh. Tak ada masa qobla baligh atau masa transisi seperti masa remaja.

Masa remaja memiliki ketidakjelasan hak dan kewajiban. Kok bisa? Yap. Dua masa yang sudah jelas, yaitu anak-anak dan dewasa punya tataran kewajiban dan hak yang jelas. Anak-anak punya kewajiban lebih sedikit dibanding haknya. Anak-anak berada dalam pengawasan dan perhatian penuh dari kaum dewasa, hak mereka lebih banyak. Namun, kewajiban untuk bertanggung jawab atas perbuatannya belum bisa ditanggung pada masa anak-anak. Sebaliknya pada masa dewasa, mereka punya hak kebebasan bertindak, akan tetapi mereka pun dibebani dengan tanggung jawab atas perbuatan mereka. Bagaimana dengan masa remaja? Absurd! Ketika “remaja” sudah diakui sebagai sebuah masa dalam hidup maka perlakuannya akan aneh. Mereka yang berada pada masa remaja menuntut kebebasan layaknya orang dewasa, akan tetapi belum bisa dan bahkan belum mampu dibebani tanggung jawab dari perbuatan tersebut. Hal ini lah yang mengakibatkan kebablasannya kebebasan pada remaja tanpa ada tanggung jawab. Orang tua pun akan sangat kesulitan jika menghadapi masa remaja dengan ketidakjelasan peran, hak, dan kewajiban ini.

Maka dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa jangan pernah perlakukan anak layaknya “remaja”. TIDAK ADA MASA REMAJA! Perlakukan mereka sebagai anak-anak atau sebagai orang dewasa. Tak ada “masa transisi” yang disebut remaja, yang ada hanya “waktu untuk naik tingkat” dari anak-anak menuju dewasa. Ketika sudah ada masa remaja dan diperlakukan layaknya remaja maka yang ada hanyalah ketidakjelasan peran, hak, dan kewajiban dari si anak. Dan saatnya lah sekarang kembali pada ajaran terbaik dari Rasulullah saw, bagaimana tak ada masa remaja, hanya ada anak-anak atau orang dewasa.

Hmmmmmm…..tapi qo sampe sekarang saya masih aja gak inget judul buku itu ya? (hahaha)

Semoga tulisan kali ini bermanfaat. Ditunggu lho ya kalau ada koreksi dan tambahan… J

wallahu a’lam. . .

Iklan

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Mei, 2011 at Mutsaqqif.