Kata Mereka

Juli 31, 2011 § 24 Komentar

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Malam tadi, melihat jurnal mbak Jar yang ini membuat saya ingat akan postingan yang hampir saya buat beberapa waktu lalu. Temanya sih nostalgia juga, walau gak senarsis punyanya mbak Jar.

Dengan kejadian yang sama, yaitu ketika kawan-kawan seperjuangan menuangkan apa-apa yang ada di benak mereka tentang bagaimana sosok seorang Heru di mata mereka. Hal ini menjadi sangat berharga untuk saya, sebagai bahan renungan akan perbaikan diri. Kalau secara psikologis, citra diri seseorang juga dipengaruhi oleh pandangan orang lain terhadap diri kita. Pandangan orang lain inilah sebagai dasar atau landasan kita dalam menilai sejauh mana diri kita bermakna untuk orang lain.

Langsung menuju tanggapan mereka tentang seorang Heru. Oh ya, tapi sebelumnya saya mau menjelaskan dulu aturan main tentang penulisan testimoni ini. Testimoni terdiri dari dua hal kertas berwarna biru dan merah muda. Warna merah muda untuk menuliskan hal yang disukai dari orang tersebut, sedang warna biru untuk menuliskan saran atau kritik untuk orang tersebut.

Gawatnya, kenapa kertas yang saya temukan tinggal yang biru saja? Yang merah muda mana yaa? Ah, sudahlah, mungkin memang saya harus kembali mengevaluasi apa-apa yang menjadi kekurangan saya.

Beginilah saran mereka teruntuk seorang Heru:

· Rajin cuci muka ya

· Ngomongnya sistematis ya, biar gak lama-lama

· Jenggot dirapihin, kalo bisa dicream-bath hehe

· More powerfull

· Ngomongnya jangan bertele-tele

· Sedikit menyelam lebih dalam sebelum berkoar keluar

· Sudut pandang itu lebih dari 3

· Tetap istiqomah

· Walau banyak kegiatan, IP harus meningkat akh

· Ati2, GB yah!!

Ya begitu lah bahasa yang kami gunakan. Bahasa yang nyaman menurut saya, strick to the point dan khas cowok sekali. Mereka yang saya anggap sebagai kawan dekat adalah mereka yang sudah bisa mengkritik saya tepat sasaran. Membenarkan disaat salah, meluruskan di saat bengkok, atau sekedar membersamai disaat lelah.

Insya Allah, saya ubah apa-apa yang tidak baik dan beristiqomah dalam hal yang baik. 🙂

Terima kasih, kawan..

[enjoythelastmomentwiththem]


ini ceritaku, mana ceritamu?

sumber gambar di sini

Iklan

BERBAGI CATATAN HIKMAH #8: Namaku Izzah..!

Juli 31, 2011 § 1 Komentar

MENOLAK LUPA!! Atas terjajahnya kaum muslimin di belahan bumi lain sedang dunia mengabaikannya.

Selipkan do’a di Ramadhan Mubarok untuk mereka, saudara kita..



Namaku ‘Izzah dari Najaf

Namaku Izzah umurku 6 tahun…
Aku tinggal di Najaf , Irak tengah
Aku amat sayang pada ummi-ku…


Karena dia selalu bercerita setiap aku mau tidur..
Suatu ketika ummiku bercerita tentang seorang lelaki
pilihan Tuhan bernama Ibrahim Yang lahir seperti
aku, di tanah Najaf yang kuinjak ini ..

Dilain ketika ia bercerita tentang kebesaran bangsaku
di masa lalu…,
Dengan sorat mata bangga ia berkata.. “Izaah anakku
kaum kita adalah keturunan orang -orang hebat”
..
Tetapi beberapa malam ini tidak kudengar lagi
ceritanya….,


Bersama abi dan kakak-ku ia sibuk menggali tanah di
belakang rumah-ku …,

Waktu kutanya untuk apa ini mi ? ..
dengan airmata di sudut matanya ia berkata .. “Tidak
apa-apa anakku… kita hanya akan bermain petak umpet nanti….”

Pada
waktu kutanya buat apa roti dan botol air dibawa kut bermain petak umpet
dilubang itu?

Ummi-ku hanya tersenyum, sekali lagi dengan genangan di
sudut matanya ..

Suatu malam kudengar suara sangat keras, dan langit
kelam berubah menjadi terang oleh kilatan-kilatan
cahaya ..

Saat itu ummi menarikku dari tempat
tidur dan berkata ..“Izzah anakku.. ini saatnya kita
bermain petak umpet nak …”,

Sekali lagi kulihat genangan
di sudut matanya….

Waktu kutanya .. sinar kilatan apa itu di langit mi?…..
Apakah itu bom seperti yang pernah diceritakan
Shadeeq kakakku….?

Sambil memelukku dengan keras,
ummi berkata .. “Bukan Izzah .. itu adalah kembang api
dari langit…, siapa yang terkena olehnya akan
langsung masuk surga , .”
,

Kalau demikian biarkan aku menontonnya
ummi… kataku .. Kulihat ummi-ku menutup muka … dengan ujung
jilbabnya….

Malam itu .., sambil mengelus rambut ikalku… ummi
mulai bercerita kembali..
Dalam ceritanya ummi bercerita .. tentang orang –
orang berkulit putih dengan pakaian dan topi yang aneh
yang akan datang menginjak – injak tanah kami…


Tiba-tiba suara keras terdengar sangat dekat…. aku
merasakan sakit yang belum pernah aku rasakan
sebelumnya.., kemudian semuanya terasa gelap.., rasa sakit
hilang dan kulihat titik sinar yang semakin membesar
badanku terasa terbang….,

sewaktu kulihat ke
belakang .. kulihat ummi-ku sedang menangisi sesosok
anak perempuan berambut ikal.. persis seperti
rambutku…, dari mulutnya keluar do’a, tangisan dan kemarahan
pada orang – orang berkulit putih dan bertopi aneh
yang diceritakannya padaku tadi malam….

Ingin sekali kuhibur ummi-ku …. , ingin kukatakan
bahwa akan kudatangi orang-orang bertopi aneh itu
dan akan kumarahi mereka…” ..

Hai Orang putih bertopi aneh ….
Namaku Izzah dari Najaf … kalian nakal .. kalian
telah membuat ummi-ku menangis ….”

Selamat tinggal ummi …., akan kutunggu engkau di
pintu surga… dengan kembang api di tanganku …,
nanti bisa engkau teruskan ceritamu … tentang
kebesaran leluhur kita..dan kita akan bebas bermain
petak umpet..tetapi kali ini tanpa perlu membawa roti
dan botol air dan juga tanpa suara – suara keras yang
memekakan telinga…..

Namaku Izzah dari Najaf…. Abu Azka , Maret 2003 Catatan : Izzah dalam bahasa arab berarti harga diri…

BERBAGI CATATAN HIKMAH #7: Pribadi Mutsaqqaf

Juli 29, 2011 § 12 Komentar

Jurnal kali ini bukan tentang membahas siapa saya lho ya, tapi membahas pribadi mutsaqqaf (ulama). Beda lho ya mutsaqqaf dan mutsaqqif, bedanya sedikit qo. mutsaqqaf artinya yang memiliki wawasan (ulama), sedang mutsaqqif adalah yang memberi wawasan (guru). Nama ini (mutsaqqif) saya dapat dari seorang senior saya tercinta di kampus ini.

Silakan dibaca semoga bermanfaat. . .


Pribadi Mutsaqqaf

Oleh: DR. Amir Faishol Fath



Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam warna (dan jenisnya). Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warna (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba–Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. (Fathir: 27-28)

Ayat di Atas berbunyi:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ. وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Pentingnya Ilmu Pengetahuan (tsaqafah)

Ayat di atas menggambarkan pentingnya ilmu pengetahuan (baca: tsaqafah) dalam Islam. Perhatikan Allah mendefinisikan pribadi seorang ulama (baca: mutsaqqaf) sebagai pribadi yang menyadari keagungan-Nya dengan memahami hakikat ciptaan-Nya. Kata Alam tara (Tidakkah kamu melihat) merupakan ajakan untuk membaca lembaran-lembaran alam, yang menunjukkan bukti-bukti mengagumkan, akan keagungan Allah, di mana tidak seorang manusia pun yang mampu melakukannya sekalipun didukung dengan segala fasilitas yang dimiliki, bahkan dengan kecanggihan teknologi yang telah mereka capai. Allah mengajak agar manusia segera melakukan iqra’ terhadap hakikat tersebut, iqra’ terhadap air hujan yang diturunkan dari langit, darinya pohon-pohon menjadi tumbuh, iqra’ terhadap aneka warna buah-buahan, garis-garis gunung yang beragam warnanya, tak terkecuali manusia yang beraneka suku, warna dan kebangsaannya. Iqra’ di sini bukan untuk semata pengetahuan melainkan lebih dari itu untuk membangun kesadaran kehambaan kepada-Nya. Dari sini setidaknya ada beberapa pesan:

Pertama: Bahwa Islam tidak ingin umatnya menjadi sekadar kelompok manusia yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan. Islam berupaya untuk mengangkat umatnya menjadi manusia-manusia mutsaqqaf, yaitu manusia yang menyadari hakikat dirinya dan tugas-tugas yang harus dicapai untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Pribadi mutsaqqaf dalam Islam adalah pribadi yang berwawasan luas, mengerti akan tugas yang harus dijalankan, bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan setiap apa yang ia lakukan mempunyai dasar yang kuat. Kemampuannya dalam menangkap pesan syariat senantiasa membuatnya serius dalam mengoptimalkan semua potensinya untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pribadi mutsaqqaf tidak pernah main-main dalam hidupnya, karena ia tahu bahwa tugas dan kewajibannya lebih banyak dari jatah waktu yang dimiliki. Pribadi mutsaqqaf senantiasa mengerjakan tugas dan kewajibannya bukan atas dasar kepentingan sesaat, melainkan atas dasar ketakwaan kepada Allah. Sebab ia tahu bahwa sekecil apapun yang ia lakukan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah yang Maha Mengetahui.

Kedua: Bahwa hakikat Islam adalah ajaran yang berdasarkan ilmu, bukan sekadar karangan akal manusia (baca: khurafat) yang tidak mempunyai kebenaran absolut. Sumbernya langsung wahyu yang mengandung kebenaran mutlak. Diharuskan setiap umatnya menggunakan kecerdasan akalnya, agar bisa memahami pesan-pesan wahyu. Bagi yang tidak berakal dibebaskan dari beban (taklif). Di dalamnya ada perintah dan larangan (halal-haram), tuntunan moral dan lain sebagainya, di mana menuntut setiap individu pemeluknya untuk mempelajari secara seksama. Semakin dalam ilmu pengetahuan seorang muslim semakin kuat cahaya keimanannya dan semakin istiqamah jalan hidupnya. Karenanya dalam banyak kesempatan Rasulullah saw. senantiasa menekankan pentingnya ilmu: Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah bersabda, “…orang yang menempuh jalan mencari ilmu, ia akan dipermudah jalan menuju surga..” (HR. Muslim, no.38). Abu Hurairah juga meriwayatkan hadits lain, Rasulullah bersabda, “Bila seorang meninggal dunia semua perbuatannya telah putus kecuali tiga: sadaqah jariah (pahalanya mengalir), ilmunya yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya” (HR. Muslim, no.14). Imam Bukhari menulis bab khusus dalam buku haditsnya “aljami al Sahih”: Bab al ilmi qabl al qauli wal amal (bab ilmu sebelum berbicara dan berbuat). Semua ini menunjukkan bahwa masalah ilmu dalam Islam bukan sekadar sampingan, melainkan kebutuhan dasar yang harus diprioritaskan.

Ketiga: Banyak ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan pentingnya posisi keilmuan dengan gaya ungkap yang berbeda, di antaranya ayat fa’lam annahuu lalilaha illallah (QS. 47:19), suatu indikasi bahwa ilmu merupakan fondasi aqidah. Kata fa’lam adalah perintah untuk meraih ilmu sebelum meraih lailaaha illallah (baca: akidah). Akidah tanpa ilmu akan menjadi hampa. Ia akan menjadi semata tonggak yang mati tidak menggerakkan penganutnya. Dalam ayat lain Allah menegaskan, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 58:11). Lebih dari itu ayat yang pertama kali Allah turunkan adalah perintah iqra’, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam” (QS.96:1-4). Ini menunjukkan bahwa posisi iqra’ adalah titik permulaan segala sesuatu. Sebuah rumah tidak akan kokoh dan tidak akan memberikan rasa aman tanpa fondasi, demikian juga ber-Islam tanpa iqra’, tidak akan kokoh dan tidak akan memberikan ketenangan. Perhatikan bagaimana Allah sangat meninggikan posisi ilmu, sedemikian rupa sehingga derajat orang-orang yang berilmu dan berwawasan luas (mutsaqqaf ) mendapat posisi sejajar dengan-Nya, dan para malaikat dalam memberikan persaksian atas hakikat tauhid dan kemahaadilan-Nya, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan, (begitu juga) Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (menyatakan) Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 18)

Keempat: Ajakan untuk menyaksikan bukti-bukti keagungan Allah di alam semesta seringkali diulang-ulang dalam Al-Qur’an. Di antaranya –selain ayat di atas- Allah berfirman, “Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Al-Ghasyiyah: 17-20) Dalam Surat An Naba’ Allah menyebutkan bukti-bukti lain mencakup apa yang di langit dan di bumi, bahkan termasuk bukti-bukti yang terdekat dengan manusia dan yang sering mereka rasakan (lihat An-Naba’: 6-16). Diulangi lagi pembuktian ini dalam surat An-Nazi’at dengan gaya ungkap yang lain lagi (lihat QS. 79:27-33). Ini semua menunjukkan bahwa Islam sejak dini secara tidak langsung telah memerangi kebodohan, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak berilmu, lalu kelak di hari kiamat berkata : kami tidak beriman karena kami tidak mempunyai ilmu. Perhatikan bagaimana Allah menggambarkan orang-orang kafir, dengan sebutan bahwa mereka seperti binatang, perasaan mereka mati, mata mereka buta dan telinga mereka tuli, mengapa? Itu bukan karena mereka tidak berilmu, segala bukti-bukti telah mereka dapatkan tetapi mereka tidak mau menerimanya, Allah berfirman, “Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti” (Al-Baqarah: 171). Dalam ayat yang lain Allah berfirman menggambarkan ungkapan penyesalan penghuni neraka, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10)

Semua Ilmu dari Allah

Merenungi rangkaian ayat di atas, timbul sebuah pertanyaan: mengapa kok sebutan seorang ulama justru digabung dengan ajakan untuk mempelajari ciptaan Allah yang terdapat di alam semesta? Lebih detil lagi untuk mempelajari secara mendalam keanekaragaman warna yang tak terhingga. Warna-warna buah-buahan yang berbeda-beda sekalipun satu jenis. Warna garis-garis pegunungan yang bervariasi: putih merah dan hitam pekat. Warna manusia dan binatang-binatang di mana masing-masing mempunyai ciri dan tabiatnya sendiri?

Di sini nampak bahwa ilmu yang dimaksud tidak terbatas pada ilmu tentang ibadah saja. Islam tidak mengenal pembatasan antara ilmu akhirat dan ilmu dunia, karena semua ilmu dari Allah Taala. Seorang muslim tidak boleh memilah antara ilmu yang satu dengan lainnya. Allah Taala tidak membekali Rasulullah saw hanya dengan ilmu mengenai shalat, puasa zakat haji, melainkan juga ilmu mengenai bagaimana berperang, mengurus masyarakat dan bahkan Negara. Di dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits tidak ada pengotakan antara disiplin ilmu. Semua ilmu bermanfaat, dan bisa mengantarkan manusia pada kemajuan.

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ustadz Sayed Quthub mengatakan: bahwa seorang ulama bila benar-benar mempelajari semua hal tersebut ia akan sampai pada derajat di mana ia benar-benar merasa takut kepada Allah (lihat, Fi dzilalil Qur’an, vol. 5, h.2943). Benar, seorang ulama tidak boleh membatasi dirinya pada ilmu mengenai ibadah saja, lalu menolak ilmu yang lain. Semua ilmu yang meluaskan cara berpikir, membuka wawasan, menerangkan hati agar lebih tenang, mengantarkan pada kehidupan yang lebih bersih dan maju, dengan segala dimensinya, ia juga harus dipelajari.

Dengan demikian segala upaya untuk mengotakkan disiplin ilmu adalah tidak benar. Mengapa, sebab masalah kemanusiaan sangat kompleks mencakup: sisi sosial, ekonomi, politik, kedokteran astronomi dan lain sebagainya. Semua disiplin ilmu tersebut saling berkait dan saling mendukung. Maka tidak bisa diterima adanya pembatasan yang ketat antara berbagai disiplin ilmu sampai ke tingkat pemisahan antara ilmu agama dan ilmu-ilmu sosial. Sebagai ilustrasi bahaya terlalu ketatnya spesialisasi ini nampak ketika sering diucapkan misalnya oleh seorang mahasiswa jurusan bisnis kepada kawannya dari jurusan agama, “Lho jangan ikut-ikutan membicarakan halal haram di sini, tugas gue bukan itu, melainkan hanya bagaimana mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya, halal maupun haram”. Spesialisasi besar-besaran memang di satu sisi telah melahirkan kemajuan pesat dalam berbagai bidang keilmuan dan teknologi, tetapi di sisi lain ia telah melahirkan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Perhatikan bagaimana pembuatan senjata pemusnah massal terus berlangsung, padahal kelak yang akan menjadi korban adalah manusia, jika ditegur ia segera menjawab, “Bila ternyata manusia harus menjadi korban itu bukan urusan gue, urusanku yang paling penting adalah bagaimana memproduksi senjata sebanyak-banyaknya”.

Dari sisi ini nampak semakin kuat rahasia mengapa ayat di atas menggabung antara pembahasan mengenai hakikat penciptaan dengan pembahasan mengenai pribadi seorang ulama. Artinya ini suatu indikasi bahwa seorang muslim tidak-bisa tidak harus mempunyai wawasan keilmuan yang luas. Karena ternyata penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern mengenai hakikat alam semesta itu tidak kalah pentingnya dengan ilmu tentang shalat, puasa dan lain sebagainya. Bahkan tidak jarang dari penemuan-penemuan tersebut, bisa membuat seseorang beriman kepada Allah, dan bagi yang telah beriman bisa membangun keyakinannya semakin kokoh. Dari sini kemudian banyak ulama melihat pentingnya pembahasan mengenai I’jazul ilmi, sebab ternyata memang banyak hal dalam Al-Qur’an yang harus diuraikan berdasarkan penemuan-penemuan baru ilmu pengetahuan.

Apa yang ingin ditegaskan dari uraian di atas adalah bahwa semua ilmu pengetahuan pada hakikatnya sejajar dengan ilmu agama dalam membangun peradaban manusia. Keduanya harus berjalan secara seimbang. Tidak boleh saling menuding dan saling melecehkan. Pada dataran ini kita tidak bisa mengatakan bahwa ilmu fiqih lebih penting dari pada ilmu kedokteran, atau ilmu Tafsir lebih penting dari pada ilmu manajemen dan seterusnya. Tidak, semuanya sama-sama sangat penting. Ahli fiqih jika suatu saat sakit ia akan lari kepada seorang dokter, sebagaimana seorang dokter dalam hal-hal tertentu bila berbenturan dengan masalah fiqih ia juga harus lari kepada ahlinya. Karenanya rangkaian ayat di atas telah menunjukkan pesannya yang sangat kuat bahwa adalah suatu keniscayaan bagi seorang muslim untuk menjadi pribadi mutsaqqaf, dan bahwa Al-Qur’an tidak mengenal pengotakan ilmu pengetahuan.

Ulama Yang Memiliki Khasyyah

Allah mengakhiri ayat di atas dengan berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba–Nya, hanyalah ulama”. Penyataan ini bisa diuraikan sebagai berikut:

Pertama, kata innama berfungsi untuk makna pengkhususan dan pembatasan. Artinya: hanya ulama yang mempunyai rasa takut kepada Allah, selainnya tidak. Dengan melihat konteks ayat sebelumnya, nampak dengan jelas: (a) bahwa ulama di maksud adalah yang benar-benar mengerti, memahami dan merenungkan hakikat keagungan Allah dari ciptaan-Nya yang sangat sempurna dan tidak main-main. (b) bahwa khasyah saja tidak cukup melainkan harus ditopang dengan ilmu. Banyak sekali fenomena penyimpangan dalam ritual keagamaan (baca: khurafat) akibat semangat khasyyah yang menggebu tanpa didukung dengan ilmu yang benar. Islam adalah agama ilmu, bukan agama khurafat. Tanpa ilmu Islam tidak akan bisa tegak dengan sempurna. Sudah barang tentu bahwa seorang muslim untuk menjadi pribadi muslim sejati, harus berilmu dan takut kepada Allah. Takut dalam arti senantiasa mengagungkan-Nya. Mengapa? Sebab seperti yang ditegaskan dalam penutup ayat di atas, “Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun”.

Kedua, kata khasyyah yang disebutkan sebagai ciri utama pribadi seorang alim telah menunjukkan makna yang sangat dalam. Imam Az Zamakhsyari menyebutkan bahwa khasyyah merupakan kunci segala kebaikan ( lihat: Az Zamakhsyarai, al Kasysyaf, vol. 4, h.695). Tidak mungkin seorang melakukan kemaksiatan bila rasa takut menguasai dirinya. Terjadinya perbuatan maksiat adalah karena khasyyah kepada Allah tidak ada. Seorang boleh jadi mempunyai ilmu, tetapi khasyyah tidak ada, ia akan menjadikan ilmunya sebagai perangkat kejahatan dan pengrusakan di bumi. Sudah banyak bukti-bukti di mana kerusakan terjadi justru di saat pelakunya dianggap orang pintar, tetapi tidak mempunyai rasa takut. Orang yang mempunyai rasa takut tidak akan pernah melanggar hukum Allah. Karenanya ketika Allah menerangkan jalan ke surga ditegaskan dua hal: takut kepada Allah dan menahan hawa nafsu “waama man khaafa maqaama rabbihi wanahan nafsa anil hawa fainnal jannata hiyal ma’wa” (An-Nazi’at: 40). Perhatikan hubungan khauf dengan menahan nafsu, keduanya harus saling mendukung. Nafsu tidak akan mampu menguasai diri seseorang yang mempunyai khauf. Dengan kata lain Nafsu akan tunduk tanpa daya di depan seorang yang khasyyahnya tinggi kepada Allah.

Ketiga, inti utama dari ilmu pengetahuan sebenarnya adalah yang membangun khasyaah (rasa takut) kepada Allah. Seorang yang mempunyai ilmu, tetapi malah semakin durhaka kepada Allah ia bukan ulama. Ia seperti komputer yang diisi dengan data-data ilmu pengetahuan namun ia tidak mengerti apa maksud dari ilmu tersebut. Al-Qur’an mengumpamakan: kamatsalil himaari yahmilu asfaraa (seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal) (Al-Jumu’ah: 5). Semua ilmu sebenarnya bukan semata untuk ilmu, tetapi untuk keperluan manusia supaya semakin dekat kepada Allah. Ilmu kedokteran misalnya, bagi seorang dokter seharusnya tidak semata melihat keilmuannya sebagai keahlian saja, melainkan ia hendaknya memperkuat keimanannya melalui proses ketika menyaksikan bukti-bukti keagungan-Nya dalam menyembuhkan berbagai penyakit, atau ketika melihat kerapian system dalam tubuh manusia yang di luar kemampuannya. Demikian juga ilmu astronomi dan lain sebagainya. Dari sini nampak bahwa dunia spesialisasi tidak mesti dengan cara memisahkan keilmuan dari inti utamanya, dengan menjadikan ilmu semata bahan kajian dan penelitian yang kering jauh dari makna keimanan.

Keempat, ilmu yang melahirkan khasyyah adalah yang diperoleh melalui tafakkur tentang ciptaan Allah bukan dzat-Nya. Dzat Allah tidak bisa dijangkau oleh akal. Maka berdebat mengenai Dzat Allah tidak akan mengantarkan pada titik khasyyah, melainkan malah akan membuat rohani semakin kering dan gersang. Dalam dunia ilmu kalam perdebatan tentang Dzat Allah telah melahirkan ketegangan intelektual tanpa ujung akhir. Banyak para ulama yang menjadi korban karenanya. Dari sini nampak rahasia mengapa ayat di atas mengaitkan kata khasyyah dengan ajakan mempelajari hakikat ciptaan Allah. Satu hal, bahwa jalan untuk membangun keimanan secara kokoh adalah dengan merenungkan ciptaan-Nya, bukan dengan merenungi dzat-Nya.

Kelima, seorang yang berilmu belum tentu seorang ulama. Banyak orang yang berilmu, tetapi perilakunya semakin durhaka kepada Allah. Dari sini nampak bahwa keilmuan yang luas tidak akan berfungsi secara maksimal, dan bahkan boleh jadi akan membawa malapetaka bagi kemanusiaan, bila yang mengendalikannya adalah orang-orang yang tidak takut sama sekali kepada Allah. Apapun keilmuan seseorang bila tidak melahirkan khasyyah itu tidak akan pernah mengantarkannya pada derajat ulama. Karena ciri utama ulama adalah takut kepada Allah Taala. Wallahu a’lam bish shawab.

SISI GELAP HARRY POTTER (4)

Juli 29, 2011 § 27 Komentar


Sebagai seorang yang telah mendalami sihir dan okultisme di Exeter University, Rowling tidak sembarangan mencomot nama bagai karakter-karakternya. Semua nama karakternya memiliki simbolisme atau terkait dengan nama-nama atau istilah okultisme.

Tidak salah jika banyak orang menganggap serial pertama Harry Potter sebagai sejenis buku pengantar ke dalam dunia sihir. Dalam serial pertamanya, Harry kecil, anak seorang Muggle (kaum yang tidak suka pada sihir), diperkenalkan dengan dunia sihir. Hal itu mengubahnya menjadi seorang anak yang sangat gandrung dengan sihir. Hal yang sama, mungkin tanpa disadari, juga dialami jutaan anak kecil yang membaca dan melihat film pertamanya. Jutaan anak-anak di dunia yang tadinya awam dengan dunia sihir, bisa diubah seratus delapan puluh derajat. Apa yang dialami Harry Potter, juga dialami jutaan anak-anak tersebut.

J.K. Rowling sangat paham jika nama-nama karakter di dalam novel (juga di dalam film) sangat besar pengaruhnya bagi orang yang membaca atau memirsanya. Sebagai seorang yang telah mendalami sihir dan okultisme di Exeter University, Rowling tidak sembarangan mencomot nama bagai karakter-karakternya. Semua nama karakternya memiliki simbolisme atau keterkaitan dengan nama-nama atau istilah okultisme. Inilah beberapa di antaranya:

Harry Potter


Harry adalah sebutan akrab untuk “Harold” yang memiliki arti sebagai “Panglima Perang”. Konon, nama ini diambil oleh Rowling dari nama seorang sahabatnya sewaktu masih anak-anak.

Ron Weasley


Dia merupakan sahabat dekat Harry Potter bersama Hermione Granger. Ron Weasley bisa diterjemahkan sebagai “Running Weasel” dalam bahasa yang lain. Hal ini terkait dengan mitologi tentang jagoan main catur Dinasti Keenam. Ron juga berarti “Penasihat Sang Raja.”

Hermione Granger


Hermione Granger adalah gadis cantik yang bersama Ron Weasley merupakan sahabat dekat Harry Potter. Hermione memiliki arti sebagai “Sang pembawa pesan”. Dalam mitologi Yunani, Hermione disamakan dengan Hermes, The Messenger of the Gods. Hermione juga dipakai oleh Shakespeare sebagai nama seorang ratu dalam “The Winter Tale”.

Albus Dumbledore


Albus Dumbledore merupakan Kepala Sekolah Hogwarts. Albus merupakan istilah latin untuk “Putih”, sedangkan Dumbledore sebuah istilah Inggris kuno yang berarti “lebah besar yang berbulu”. Untuk istilah yang terakhir, Rowling menyatakan jika dia menamakan karakter ini karena orangua berjanggut putih panjang ini suaranya seperti bergumam, mirip dengan dengungan lebah. Hanya saja, istilah “Albus” sebenarnya nama figur Geomancy (sejenis Feng Shui) yang memiliki arti sebagai Yang Bijak, Pemecah Masalah Yang Baik, dan juga merujuk pada Yang Tercerahkan. Arti yang terakhir ini sama artinya dengan istilah Illuminatrix atau Iluminaty.


Minerva McGonagall


Dia adalah wakil dari Albus Dumbledore. Minerva adalah nama Dewi Kebijaksanaan dan Dewi Kesenian bangsa Romawi, juga Dewi Perdagangan dan Seni Perang. Sedangkan “McGonagall” merupakan nama Skotlandia yang berarti Pemberani.

Argus Filch


Argus Filch merupakan salah seorang pejabat di Hogwarts. “Argus” adalah nama sebuah monster dalam mitologi Yunani yang memiliki ribuan mata. Sedangkan “Steal” artinya “Pencuri”.

Sirius Black


Sirius Black merupakan bapak baptis dari Harry Potter. Sirius merupakan nama sebuah rasi bintang berbentuk seekor anjing, sebab itu Sirius juga disebut sebagai “Bintang Anjing”. Ini merupakan bintang paling terang di angkasa. Dalam bahasa Yunani, Sirius ditulis sebagai “Seirios” yang artinya “Membara”. Namun Rowling menggandengkannya dengan kata “Black” yang tidak ada arti lain selain kegelapan. Rowling jelas tengah memainkan lakon “Seni Manipulasi Illuminaty” yang memang sering memainkan logika manusia dengan dua hal yang saling bertolak-belakang.

Hampir semua keluarga Sirius Black diberi nama bintang: Bellatrix, Regulus, Andromeda dan Draco. Ritual Mesir kuno, Kabbalah, memang gemar dengan perhitungan perbintangan.

Rubeus Hagrid


Dia merupakan satu-satunya sahabat dan pelindung Harry Potter yang bertubuh raksasa. Hagrid sendiri bisa berarti Raksasa, namun juga memiliki arti sebagai Peminum. Rubeus Hagrid merupakan dewa yang paling ramah. Walau demikian, Hagrid dituduh oleh Hades untuk ikut bertanggungjawab atas terbunuhnya anak Perseus yang telah membunuh Medussa, sebab itu dia dilarang ke Olympus. Oleh Zeus, Dewa Tertinggi, Hagrid dikasihani dan dia memberikan Hagrid suatu tugas untuk menjaga seekor monster yang baik (suatu kontradiksi lagi seperti halnya Sirius Black) yang berada di Olympus.

Draco Malfoy


Musuh Harry Potter, penghuni asrama Slytherin. Draco dalam
bahasa latin berarti Naga. Dalam legenda latin kuno, merujuk pada monster naga. Sedangkan “Malfoy” sesungguhnya dua nama yang disatukan: Mal dan Foy. “Mal” dalam bahasa latin dan Spanyol berarti “Yang jelek” yang biasanay merujuk pada sosok Setan. Sedangkan “Foy” dalam bahasa latin berarti “Kepercayaan”. Sebab itu, Malfoy bisa diartikan sebagai “Kepercayaan kepada Setan”.

Lucius Malfoy


Ini nama ayah dari Draco Malfoy. Lucius adalah istilah lain untuk Lucifer, yang diyakini sebagai nama Dajjal. Namun bagi kalangan okultis, Lucius atau Lucifer diartikan sebagai Sang Cahaya (Luciferis), sama artinya dengan istilah “Illuminaty” (Cahaya). Nama Lucius juga dipakai oleh salah seorang penguasa Roma, bernama Seneca yang memiliki nama lengkap Lucius Annaeus Seneca, seorang negarawan ternama, filsuf, dan orator. Tiga Paus juga dilahirkan dengan nama Lucius. Walau demikian, sekarang ini sepertinya nama Lucius sudah dianggap menjadi nama banyak orang-orang penting dunia.

Narcissa Malfoy


Isteri dari Lucius Malfoy dan ibu dari Draco Malfoy. Dalam mitologi Yunani Kuno, nama Narcissa merujuk pada seorang tokoh yang mencintai dirinya sendiri saat dia melihat bayangan dirinya di danau yang jernih. Istilah “Narsis” sekarang ini berasal dari mitologi Narcissa.

Severus Snape


Dia adalah Kepala Asrama Slytherin. Severus adalah nama lain dari “Severe” yang memiliki arti sebagai Kasar, Berbahaya, Tidak disukai banyak orang karena kehadirannya selalu menimbulkan kegelisahan, Memiliki ego yang besar, dan sebagainya. Sedangkan “Snape” merupakan nama seekor ular di Slytherin.


The Grey Lady


Dia adalah nama hantu yang menghuni sekolah Hogwarts. Sosok yang satu konon benar-benar nyata dan menjadi satu legenda di Benteng Chilingham di Alnwick, Northumberland. Benteng atau Kastil tersebut terkenal angker karena pernah dalam sejarahnya banyak orang disiksa hingga mati di salah satu kamarnya. Salah satu hantu yang paling terkenal, bernama The Grey Lady, yang sering menganggu orang dengan rintihan dan bunyi tapak kaki di gang-gang dan tangga. Entah disengaja atau tidak, film Harry Potter juga mengambil lokasi di kastil angker tersebut. (bersambung/ridyasmara)

SISI GELAP HARRY POTTER (2)

Juli 29, 2011 § 12 Komentar

Wawasan JK. Rowling yang begitu dalam mengenai ritual dan simbol pagan-okultisme diyakini berasal dari dua latar belakang kehidupannya: Edinburgh dan Universitas Exeter.

Wawasan JK. Rowling yang begitu dalam mengenai ritual dan simbol pagan-okultisme diyakini berasal dari dua latar belakang kehidupannya: Pertama, dari sejarah masa lalu kota Edinburgh di mana JK. Rowling menggarap novel Harry Potter pertamanya, dan kedua, dari Universitas Exeter yang memang dikenal sebagai lembaga pendidikan yang sarat dengan pengajaran okultisme. Inilah penjabarannya :


Edinburgh

Kota Edinburgh berada di Teluk Fort yang berhadapan langsung dengan Laut Utara. Ia berada di Barat Skotlandia, berbatasan dengan kota Berwick on Tweed di Utara Great Britain. Sebelah timur Edinburgh berdiri kota Glasgow yang juga berada di dataran rendah.


Sejarah dunia mengenal kota kelahiran Harry Potter, Edinburgh, sebagai tempat pelarian utama para Ksatria Templar ketika Paus Clement V dan Raja Philip le Bel dari Perancis menumpasnya dari daratan Eropa di tahun 1307.


Kala itu, Skotlandia merupakan satu-satunya wilayah di Eropa yang bebas dari pengaruh Vatikan karena tengah diekskomunikasikan. Para Templar diterima dengan tangan terbuka oleh Raja Skotlandia, Robert de Bruce, dan mereka akhirnya menguasai serikat tukang batu bernama Mason yang kemudian dari nama ini para Templar mendirikan organisasi rahasia mereka yang baru: Freemasonry.


Sampai sekarang, markas para Freemason di seluruh dunia dinamakan “Loji”, “Loge”, atau “Lodge”, yang berasal dari sebutan gilda atau asrama tukang batu Skotlandia yang memang bernama Loji. Gedung Bappenas sekarang yang ada di Menteng, Jakarta Pusat, merupakan salah satu dari banyak Loji Freemasonry yang masih aktif sampai dengan tahun 1962.


Di Edinburgh inilah, para Mason Bebas mempraktekkan ilmu sihir Kabbalah dan menyelenggarakan ritual Luciferianistiknya. Di atas sebuah bukit, dekat Edinburgh dan hanya berjarak 15 kilometer dari pusat Templar kuno di Balantrodoch, para Templar mendirikan sebuah kapel yang awalnya diakui sebagai kapel keluarga, walau setelah pembangunannya selesai, kapel yang ada sama sekali tidak bisa disebut sebagai kapel keluarga karena terlalu mewah, besar, dan bernilai jika hanya dipakai oleh keluarga. Namun kalau yang dimaksud dengan istilah ‘keluarga’ adalah “Keluarga Besar Templar” atau “Persaudaraan para Templar” maka ini bisa saja. Pembangunan kapel ini dipimpin langsung oleh William St Clair.

Para Mason dan Rosicrusian terpilih didatangkan dari sejumlah negara Eropa untuk membangun kapel yang dinamakan Rosslyn Chapel. Selain didedikasikan kepada para Templar dan para leluhurnya, juga sebagai bentuk penghormatan pada para dewa-dewi, Kapel Rosslyn dipercaya didirikan sebagai bentuk tantangan kepada Gereja Katolik dan Paus. “Kami masih ada dan berdiri tegak setelah 150 tahun engkau menumpas kami!” mungkin seperti ini pesan para Templar terhadap Gereja.

Tidak seperti gereja pada umumnya, pembangunan dan arsitektur Kapel Rosslyn yang diselesaikan pada tahun 1450 sungguh-sungguh kental dengan segala ornamen dan simbol yang merepresentasikan keyakinan para Mason. Selain gereja, di sekeliling daerah itu juga dibuka sebuah perkampungan guna dijadikan tempat penampungan para Mason dan Rosicrusian yang bekerja membangun gereja ini.


Arsitektural kapel tersebut sungguh unik dan tiada duanya di seluruh daratan Eropa, bahkan dunia. Mungkin hanya Kuil Herod (Haikal Sulaiman) yang mampu menyamai kerumitan dan keindahan, sekaligus keseraman, arsitektural Rosslyn. Kapel ini dengan sangat tepat menangkap atmosfir Kuil Herod. Nyaris seluruh bagian dari kapel ini dihiasi dengan simbol-simbol Masonik. Di antara simbol itu adalah relief di dinding-dinding dan lengkungan-lengkungan yang menggambarkan kepala Hiram Abiff dan pembunuhnya, sebuah relief dari suatu upacara pembaiatan, dasar-dasar dari lengkungan, dan kompas-kompas.


Kapel ini diwarnai oleh warna paganisme dan okultisme yang kental, di mana di dalamnya bercampur elemen arsitektural gaya Mesir, Yahudi, Gothik, Norman, Celtik, Skandinavia, Templar, dan Masonik. Inilah puncak dan maha karya dari para tukang batu (Mason) saat itu. Salah satu aspek yang paling unik adalah puncak-puncak tiangnya yang didekor dengan motif bunga lili, kaktus, dan jagung, di samping bermacam-macam bentuk tanaman lainnya.


Dikarenakan banyaknya elemen dekoratif pagan di dalam kapel ini, sehingga seorang pendeta, yang menuliskan kisah tentang pembaptisan yang dilakukan oleh Baron Rosslyn, tahun 1589 mengeluh, “Karena kapel dipenuhi oleh patung-patung pagan, tidak ada tempat yang sesuai untuk menyelenggarakan Sakramen”. Ini artinya tiada tempat yang bersih dari simbol-simbol paganisme. Namun pada tanggal 31 Agustus 1592, berkat tekanan yang dilakukan terhadap Baron Oliver St. Claire dari Rosslyn, altar kapel yang bergaya pagan dihancurkan.


Rosslyn sendiri dalam bahasa Gaelik memiliki arti sebagai “Pengetahuan kuno yang diwariskan dari generasi ke generasi”, ini memiliki arti yang sama dengan Kabbalah yakni “Pengetahuan Rahasia kuno yang diturunkan secara turun-temurun lewat lisan”.

Adik kandung JK. Rowling, Diana, tinggal di kota ini. Dan ketika menggarap novel pertamanya, entah novel-novel berikutnya, Rowling menumpang di rumah Diana tersebut. Rowling biasa menulis di kafe-kafe di sekitar rumahnya itu. Tidak disebutkan apakah dia bepergian juga atau melakukan riset dengan mengunjungi Rosslyn Chapel, dan atau melakukan wawancara atau bersahabat erat dengan sejumlah tokoh Mason di sana. Namun warna Okultisme yang memang banyak di Edinburgh, memang menjadi “darah” bagi serial Harry Potter-nya.


Universitas Exeter


Motto Universitas Exeter adalah “Lucem sequimur” yang berarti “Kami Mengikuti Cahaya”. Mungkin bagi orang awam, istilah “Cahaya” di sini dipersepsikan sebagai ilmu pengetahuan. Namun dalam paganism-codex, “Light” atau “Cahaya” merupakan nama lain daripada “Lucifer”.


Wikipedia menyebut Exeter, Inggris, dengan kalimat, “Exeter ialah sebuah kota di Inggris. Merupakan ibukota Devon. Penduduknya berjumlah 100.000. Di kota ini ada sebuah katedral, reruntuhan kastil, dan sejumlah dinding peninggalan Kekaisaran Romawi. Exeter dibangun oleh bangsa Romawi, yang menyebutnya Isca Dumnoniorum. Setelah mereka meninggalkannya dan bangsa Anglo-Sakson pindah di abad ke-7, nama ini diubah menjadi Exeter. Kemudian Exeter menjadi pusat perlawanan dalam penaklukan Normandia. Sekarang kota ini menjadi tempat kedudukan Meteorological Office, yang memperkirakan cuaca di negeri ini.”


Yang menarik, di bawah keterangan ini ada sub judul “Kota Kembar” yang menyebutkan: Rennes, Perancis. Itu berarti Exeter banyak persamaan dengan wilayah di selatan Perancis yang sejak dulu memang sarat dengan kepercayaan Kabbalah. Sekurangnya ada tiga tempat di sini yang menggunakan istilah “Rennes” yakni Rennes Le Chateau (legenda Grail dengan Pastor Berenger Sauniere, dipaparkan secara panjang lebar dalam buku “The Holy Blood, Holy Grail”), Rennes Le Bans, Coustassa (misteri kematian Abbe Antione Gelis yang sampai kini tidak terpecahkan), dan Pyrennes, nama pegunungan di mana banyak kota-kota kecil ada di sekitarnya.


Di wilayah ini juga ada kota kecil bernama Provence, di mana untuk pertama kalinya ajaran Kabbalah yang biasanya diwariskan dengan lisan, dibukukan. Tahta Suci Vatikan mengenal daerah ini sebagai sarang Heresy. Sebab itu, selatan Perancis sampai saat ini merupakan daerah yang tertinggal dalam pembangunan fisik (ditelantarkan?) dan dibiarkan tumbuh dengan sendirinya.


Orang-orang di sini percaya, jasad Maria Magdalena—sosok yang sangat dipuja oleh persaudaraan-persaudaraan rahasia okultisme seperti Illuminaty, Templar, Rosikrusian, dan Freemasonry, sebab itu Maria Magdalena dianugerahi julukan ‘Iluminatrix’ yang berarti “Cahaya di atas Cahaya”, serupa dengan arti nama Lucifer—dikubur di dalam tanahnya. Sebab itu, ada larangan resmi untuk menggali tanah di sekitar daerah ini bahkan untuk menanam sebatang pohon pun!


Selatan Perancis merupakan daerah kuno yang sudah ditinggali dan sudah memiliki kepercayaan jauh sebelum agama Kristen lahir. Terdapat banyak terowongan di bawahnya yang saling terhubung satu dengan yang lainnya. Banyak rahasia dan mitos di sini, antara lain harta karun Templar dipercaya juga dipendam di dalam tanahnya. Konon, Yoseph Arimatea menyelamatkan Maria Magdalena dari Yerusalem ke Perancis Selatan ini dan Maria meninggal dunia di sini. Setiap tahun, tiap 22 Juli diselenggarakan Festival Magdalena di selatan Perancis.


Universitas Exeter, tempat dimana selama empat tahun JK. Rowling kuliah bahasa Perancis, memang dikenal sebagai lembaga pendidikan yang banyak bersentuhan dengan ritus-ritus pagan-okultisme seperti Druid, Celtics, dan Kabbalah. Hal ini tidak aneh karena kota ini memang dibangun oleh bangsa Romawi yang memang akrab dengan ritual-ritual seperti itu. Bahkan walau mereka kemudian menerima kekristenan, namun banyak simbol-simbol pagan-okultis tetap dipertahankan walau di dalam Vatikan City sekalipun, dan banyak juga yang diambil sebagai bagian dari ritual Gereja. (bersambung/ridyasmara)

SISI GELAP HARRY POTTER (1)

Juli 29, 2011 § 1 Komentar

Postingan jadul dari laman eramuslim.com sekitar bulan ramadhan dua tahun yang lalu. Sedikit “merusuh” di hiruk pikuknya demam Harry Potter.

Semoga bermanfaat. . .

Harry Potter adalah fenomena dunia satra. Banyak Kontroversi di sana. sebagian kalangan menyebut tujuh serialnya sebagai “The Handbook of Occult”. Mengapa?

Dalam suatu acara di Bogor dua pekan lalu, beberapa orang ibu meminta agar rubrik ini tidak melulu menyorot “persoalan orang dewasa” seperti politik dan sebagainya. Mereka minta agar “persoalan anak-anak” juga dikupas, khususnya bahaya fenomena Harry Potter dilihat dari akidah Islam. “Persoalan akidah sekecil apa pun bukan masalah yang bisa dianggap remeh kan, apalagi ini menyangkut jutaan anak-anak yang tersihir Harry Potter!” ujar mereka. Benar juga.


Saya sendiri jauh-jauh hari yakin jika Harry Potter bukan sekadar ceritera anak-anak biasa, namun lebih tepat sebagai “Handbook of Magic and Occult”. Apa yang “diajarkan” sekolah Hogwarts banyak persamaan dengan naskah ritual pemanggilan Dewi Iblis Lilith, isteri Lucifer dan ibu dari Baphomet, yang saya miliki. Belum lagi berbagai simbolnya dan karakternya.

Saya berusaha mengembalikan memori atas sejumlah novelnya yang telah dibaca, dan juga meneliti ke-enam filmnya secara berulang-ulang. Hasilnya, “Ini memang bukan sekadar novel!”. Para pendidik di Inggris, Amerika Serikat, dan sejumlah negara dunia, termasuk sejumlah pemuka Gerejanya, bahkan melarang anak-anak didiknya membaca atau pun menonton filmnya. Jika non-Muslim saja demikian, apalagi bagi seorang Muslim. Nah, di bulan yang penuh berkah dan ampunan ini, kami akan paparkan sisi gelap Harry Potter yang insya Allah akan menambah wawasan kita semua. Semoga menjadikan kita semua lebih aware terhadap hal-hal yang kelihatan sepele, namun sesungguhnya amat berbahaya dari sisi akidah. Selamat menyimak.


***

Maret 2000, Carol Rookwood, Kepala Sekolah Gereja St Mary’s Island di Catham, Inggris, telah mendengar jika rekan-rekan sejawatnya di Amerika Serikat telah melarang seluruh anak didiknya untuk membaca semua novel Harry Potter (saat itu film pertama Harry Potter belum rilis). Akhirnya Carol Rookwood pun mengikti jejak mereka. Dia dengan tegas melarang seluruh anak didiknya untk membaca novel Hary Potter.

“Semua novel yang dikarang perempuan penulis dari Edinburg itu bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab. …tukang sihir, setan, dan iblis semuanya jahat. Tidak ada sihir yang baik!” tandas Rookwood. (BBC, “School Bans Harry Potter”, 29/3/2000).

Sikap Rookwood dikecam The National Secular Society. Ketua “Masyarakat Sekular Inggris”, Keith Porteous Wood menyatakan, “Selama berabad-abad, imajinasi anak-anak telah tumbuh bersama kisah-kisah dongeng tentang tukang sihir dan peri. Sikap melarang membaca buku yang sangat populer itu akan sangat merugikan (anak-anak).”

JK. Rowling sendiri menjawab, “Saya tidak terlalu merisaukan kontroversi yang ada mengenai buku saya. Saya hanya menulis sesuatu hal yang sudah ada berabad lalu, pertempuran antara kekuatan kebaikan melawan kekuatan jahat. Pertempuran antara Tuhan dan Setan.”

Di Indonesia, kontroversi seperti itu juga terjadi walau tidak segencar di Inggris dan Amerika. Ada dua kemungkinan: Pertama, masyarakat di sini merasa akidahnya sudah sedemikian kuat sehingga tidak merasa cemas dengan segala dampak negatif yang ada. (Mungkin mereka ini beranggapan, “Jangankan Harry Potter, majalah Playboy saja direstui pemerintah dan dijual bebas di mana-mana, toh tidak apa-apa”). Dan yang kedua, masyarakat di sini masih minim pengetahuannya tentang akidah, sehingga demikian permisif dengan simbol dan ritual satanic yang memang banyak dipaparkan dalam novel-novel Harry Potter tersebut. Atau bisa jadi, The Mind Control yang dilancarkan kelompok “Dia yang tidak boleh disebut namanya” sudah berhasil di negeri ini sehingga apa pun boleh-boleh saja.


JK. Rowling, Exeter, dan Warisan Templar


Sebelum mengupas satu-persatu sisi gelap serial Harry Potter, kita sebaiknya mengetahui siapa orang yang berada di belakang semua ini. Nama asli pengarang serial Harry Potter adalah Joanne Rowling, tanpa huruf “K” di tengahnya. Namun penerbitnya menyarankan agar Rowling menambahkan huruf depan dan disingkat agar terkesan sebagai laki-laki. Mereka beranggapan jika nama perempuan saat itu belum menjamin pemasaran yang baik bagi karya novel seperti Harry Potter.


Akhirnya Rowling memilih nama “Kathleen” yang ditempatkannya di tengah. Dalam cover novel ditulis “J.K. Rowling”. Namun dalam hukum di negaranya, sisipan nama “Kathleen” tetap tidak diakui.


Rowling lahir sebagai anak pertama pasangan Peter dan Ann, keduanya mantan tentara Angkatan Laut Inggris, pada 31 Juli 1965 di Chipping Sodbury, 12 mil timur laut Bristol, Inggris. Adiknya, Diana, lahir ketika Rowling berusia satu tahun 11 bulan. Sejak kecil Rowling sudah terobsesi dengan banyak bahan bacaan. Bahkan sudah mulai menuliskan cerita pendek sederhana sejak usia 5 tahun dengan karya perdananya berjudul “Rabbit”.

Dari Chipping Sodburry, keluarganya pindah ke daerah Winterbourne saat Rowling berusia empat tahun. Di tempat yang baru ini, Rowling punya
tetangga bernama Potter dan mereka bersekolah di Sekolah Dasar St. Michael. Ketika Rowling baru 9 tahun, keluarganya pindah lagi ke Tutshill, South Wales. Rowling masuk Sekolah Menengah Wyedean Comprehensive. Lulus dari Wydean, Rowling ingin melanjutkan ke Oxford University namun gagal. Dia kemudian masuk ke Universitas Exeter di Inggris mengambil jurusan bahasa Perancis selama empat tahun, termasuk mengajar bahasa Inggris di Paris selama setahun di tahun terakhir perkuliahan. Tahun 1990 Rowling lulus dan kembali ke Inggris.

Menurut beberapa artikel kisah hidupnya, ide awal dan bab-bab pertama tentang novel Harry Potter timbul begitu saja saat Rowling tengah berada di dalam kereta api dari Machester menuju London, ketika dia masih gadis di tahun 1990. Karena tidak membawa alat tulis, Rowling menyimpan ide tentang seorang anak lelaki berkacamata bundar tersebut di dalam otaknya. Kalimat-kalimat awal novel perdana Harry Potter ditulisnya di dalam flat di Manchester namun baru diselesaikan beberapa tahun kemudian, saat dia telah berpisah dengan suami pertamanya yang seorang wartawan Portugal dan membawa seorang anak perempuan yang masih sangat kecil bernama Jessica. Bersama Jessica, Rowling menjadi Single-Parent dan menumpang hidup di rumah adiknya, Diana, di Edinburg, Skotlandia.

Di Edinburg-lah Rowling menyelesaikan novel Harry Potter pertamanya. Novel itu diberi judul “Harry Poter and The Philosopher’s Stone”, diselesaikan dengan sebuah mesin ketik tua di tahun 1995. Setelah ditolak 12 penerbit, Bloomsbury akhirnya mau menerbitkannya. Namun novel ini baru meledak di Inggris tahun 1997 dan di Amerika diubah judulnya menjadi “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” setahun kemudian. Benarkah demikian? Bisa ya, bisa pula tidak. Mengapa demikian?


Menelisik novel perdana Harry Potter yang begitu banyak istilah sihir, simbol, binatang, dan ritual okultisme purba—seperti Black-Cat, Owl, Jubah Hitam, ‘Minerva’ McGoganall, Bolt of Lightning, Ular, Sapu Terbang, Quidditch, Mirror of Erised, Nicholas Flamel “Sang Grandmaster Illuminati”, Unicorn, Batu Bertuah—yang terjalin dengan begitu cermat dalam kisah dan intrik yang dialami Harry Potter di masa awal bersekolah di Hogwarts, sulit untuk membayangkan hal itu bisa dihasilkan dari seorang ibu rumah tangga biasa yang selama ini disematkan pada sosok JK. Rowling.


Sudah bukan rahasia umum jika sebuah novel sering berlatar belakang kehidupan penulisnya. Misal, John Grisham yang seorang lawyer dikenal sebagai penulis novel-novel ber-setting peristiwa hukum (The Firm), Mario Puzo yang sarat pengalaman dengan intrik dan konflik selama Perang Dunia II dikenal sebagai penulis kisah-kisah mafia (The Godfather), Michael Chrichton yang tenaga medis dan ahli biologi dikenal sebagai penulis novel-novel bersetting yang sama (A Case of Need, Five Patients), dan sebagainya.

Dan seorang JK. Rowling yang mampu menulis tujuh novel sangat tebal, yang sarat dengan ritual dan benda sihir, okultisme, simbol-simbol paganis seperti Celtics, Druids, bahkan Kabbalah, yang dijalin sedemikian rupa dengan apik dan mengalir, bahkan tujuh serial novelnya ini disebut oleh banyak kalangan sebagai “The Handbook of Magic” atau “The Handbook of Occult”—karena secara rinci memaparkan segala pernik tentang ritual sihir, termasuk mantera-manteranya—tentulah seseorang yang menguasai apa yang ditulisnya, minimal banyak tahu tentang hal tersebut. Darmana JK. Rowling mengasai seluk-beluk sihir tersebut? Jawabannya, sementara ini, ada dua latar belakang kehidupanya. Pertama, kota Edinburg tempat dimana dia tinggal, dan kedua, Universitas Exeter tempat dia menimba ilmu. Kedua tempat itu memang dikenal dekat dengan ilmu sihir, di mana Kabbalah—ritual Osirian Mesir Kuno—menjadi sumber utamanya.

(bersambung/ridyasmara) >>eramuslim.com

My First Kopdar MPID

Juli 24, 2011 § 67 Komentar

Bismillahirrahmaanirrahiim. . .

Di tengah kegalauan menghadapi slide-slide materi Audit Sektor Publik, tiba-tiba pikiran jahat merasuk. Pikiran jahat untuk menunda agenda belajar dan menggantinya dengan menulis kisah-kisah tentang Kopdar MPID. Sayang sekali kalau harus kehilangan momentum. Apalagi barusan saja saya baca jurnal dari kak Ai dan Kak Fathia tentang kisah kopdar mereka. ok! Tulis kisah kopdar, slide Audit Sektor Publik, minggir dulu yaaa 😀

Mulai dari mana yaa? Mulai dari sini aja deh

Cobaan Sebelum Kopdar

Agenda kopdar ini sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Kalau dari tanggalnya, 23 Juli, rasanya aman. Kuliah saya jika sesuai jadwal akan selesai di hari Kamis. Itu rencananya. Nyatanya? Sang dosen tak bisa hadir di hari kamis dan pidah jadwal menuju hari Sabtu siang! Waaw!! Gimana ini agenda kopdarnya? Gaswat! Kalau kuliah mulai jam 11, selesai jam 13.30, perjalanan 1 jam, sampe tekape dah gak bersisa Mper-nya (makanannya juga). Ok! Saatnya lancarkan serangan politik dan lobi-lobi tingkat tinggi kepada ketua kelas. YESS!!! Berhasil..berhasil…berhasil…! Kuliah dimulai jam 09.00 dan selesai 11.15, masih cukup waktu untuk ikut kopdar.

Cobaan pertama, berhasil dilalui…Alhamdulillah

Di hari jum’at, ketika berkaca (haiah), baru sadar ternyata ini rambut dah gondrong, jadi mirip Glenn Alinskie gini. Saatnya cukur rambut! Malam harinya berangkat menuju tempat cukur rambut. “Potong apa mas?” tanya si tukang cukur. “dispike ya mas, tapi jangan rata gitu, dibuat kayak gini (sambil menunjukkan bentuk segitiga)” jawab saya dengan tenang. Maksud saya dengan berkata jangan rata adalah jangan buat potongan rambutnya kayak Tukul yang rata begitu. Beberapa menit berlalu, potong sana, potong sini, cukur sana, cukur sini, dan selesai! LHO???? Kenapa jadi potongan anak gahol begini? Aduuuh….! Waktu masih gondrong mirip Glenn Alinskie, kenapa waktu udah cukur malah kayak vokalis D’bagindas?

Mati lah!! Esok hari mau kopdar pula, nti di kopdar di kira anak SMA labil punya MP. Ah, tapi tak apa lah. Dengan rambut anak gahol ini, ku mantapkan kaki melangkah menuju kopdar MPID.

Cobaan kedua, sabar dilalui….Alhamdulillah

Perjalanan

Berangkat dari kos mulai pukul 11.30, perkiraan akan sampai tekape satu jam. Berbekal alamat yang ada di jurnal mbak arie dan hasil browsing google map di pagi hari. Tak begitu sulit memang menemukan lokasinya. Berada di tengah Jakarta Selatan dengan kemacetan yang lumayan. Beruntung saya dan kawan MP-er yang berada satu kampus dengan saya, Hasan (haelpe), menggunakan kendaraan roda dua, jadi bisa lebih leluasa menerjang jalanan ibu kota.

Tepat! Satu jam perjalanan telah dilalui dan di depan mata saya sudah ada TK Buana Kids. Celingak-celinguk, kok kayaknya rada aneh begini ya? Gak ada mbak sule, eh mbak suly yang jadi penerima tamu. Tak tahu pula mau menghubungi siapa, kontak yang ku kenal dekat tak bisa hadir semua. Yasudah, keluar lagi deh dari TK Buana Kids dan posting QN lewat HP berharap ada MP-er di dalam yang melihat. Saya sholat dzuhur terlebih dahulu di masjid terdekat.

Kesan Pertama

Selesai sholat dzuhur, saya dan haelpe langsung masuk menuju TK Buana Kids. Sambil berjalan masuk, saya ngempi lewat HP. Wah ternyata ada reply di QN saya, tapi kenapa yang reply orang Bontang? Saya kira Mas Iqbal masih di Bontang dan tak datang kopdar makannya saya agak kecewa. Berharap ada Mper yg hadir kopdar yang reply QN saya.

Masuk menuju aula belakang, sedang seru-serunya perkenalan dari Omali si carrotsoup. Waaaaah…saya langsung terpana melihat pemandangan kopdar MPID ini. Bagaimana tak terpana, ini kok semua yang hadir angkatan perjuangan semua. Hahahaha. Mana punya kawan seumuran di sini. Saya yang masih muda belia ini terlihat bingung mau nyapa siapa. Gak ada yang kenal :(. Kesan pertama saya wait and see dulu. Wait, nunggu siapa tahu ada yang wajahnya atau id-nya saya kenal. See, lihat-lihat qo mirip reuni SMA angkatan 80an gitu ya? (piss).

MPer di Kopdar

Setelah beberapa menit wait and see. Ting! Ada satu sosok yang saya kenali, Pak Rifky (jampang). Beliau adalah senior saya di kampus atau lebih tepatnya dosen, walau tidak mengajar saya. Lumayan deh dapet temen. Duduk sampingnya, jabat tangan, ngobrol deh. Alhamdulillah…

Selanjut
nya, siapakah yang saya temui? Di pintu dekat aula ada seorang pemuda berbatik yang sedang memasang ekspresi yang sama dengan ekspresi saya ketika di awal tadi. Ekspresi wait and see. Saya hampiri, jabat tangan, dan saling menyebutkan ID. Ternyata beliau adalah yang membalas Qn saya tadi, Mas Iqbal. Jauh-jauh dari Bontang menuju Kopdar MPID sekaligus ada tugas kantor. Beruntungnya bisa ketemu di tempat dan kesempatan ini. Tapi kok ada yang aneh ya? Katanya Bontang, tapi kok logatnya njowo beudh dah. Hahaha. Ternyata cah Pasuruan tho…

Siapa lagi ya yang saya temui? Ada bang Moes, Mas Tofan, dan satu lagi senior saya terbang langsung dari Painan, Mas Anas. Karena sudah banyak yang pulang juga ketika itu, jadi gerombolan MP-er tampan-rupawan yang ngobrol bareng saya ada Pak Rifky, Mas Tofan, Mas Anas, Mas Iqbal, dan haelpe. Ada juga sosok lain yang saya kenali, yang terhormat, Ibu Presiden kita, mbak arie. Selain itu, dari kubu hawa sempet liat Kak Ai (tadinya mau panggil dek Ai :D), nisachem05 (sekilas banged, udah lupa), Mbak Nita, Mbak Rengganiez, dan masih banyak yang lain (padahal gak inget). Oh iya, rencananya mau siap-siap berantem (lebay) sama mbak sule, eh bak suly sebagai penerima tamu, ternyata beliau pulang duluan karena ada kerjaan kantor. Gak jadi berantemnya deh. Satu lagi, ditengah persiapan pulang di halaman depan TK Buana Kids, ketemu sama rifi (rifzhara) yang telat datang. Datang dan bergegas dengan ekspresi terburu-buru. Saya tahu kalau itu rifi ya baru tahu tadi malam setelah baca jurnalnya tentang kopdar.

Yang Paling Fenomenal

Pertama. Waktu pemberian hadiah buat jawara MPID Award. Ketawa mpe gigi kering, geleng-geleng kepala sampe pegel, dan foto-foto sampe puas. Bang Dedy yang beneran narsis, doyan tampil, dan suka foto sana-sini. Haduuuuh….! Mbak Nita dengan pidato kemenangannya yang buat saya terharu :’). Serta sesi foto-foto yang hectic banget. Semua mau difoto, lha terus yang moto siapa? 😀

Kedua. Perang perebutan buku (baca: book swap). Saya kira bakal aturan khusus tentang bagaimana cara mengambil bukunya secara acak. Dikarenakan MP-er sudah bernafsu mengambil dan memilah-milih buku yang akan dirampas maka skenario berubah. Aturannya adalah tidak ada aturan! 😀 saya ingat betul bagaimana gerombolan kaum adam bingung gimana mau ikutan book swap ini. Lha wong kaum hawa sudah mengerubungi tumpukan buku. Terpaksa lah kaum adam yang menatap dan meratap menunggu buku yang tersisa. Saya ingat betul siapa oknum kaum hawa yang sudah sangat sigap dengan agenda book swap ini. Dia adalah Kak Ai.. 😀 dengan tubuh mungilnya dia sudah tepat berada di depan tumpukan buku. Selain mengambil buku, dia juga mendistribusikannya untuk kaum hawa yang lain.

Ckckckck…..luar biasa hectic.. 😀

Tapi nda apa deh, saya dapet buku Takdir Cinta, buku galau gini 😀 Oh ya, saya memberikan buku saya yang berjudul Three Feet From Gold. Hayooo siapa yang dapat buku saya itu? Biar saya tanda tangani sekalian. 😀

Ketiga. Acara sharing dengan Mbak Caesilia Intan Pratiwi. Beliau adalah penulis buku Bermain Dengan Uang. Ceritanya saya dan gerombolan MP-er tampan-rupawan baru selesai shalat ashar, sampai tekape acara sharing sudah berlangsung. Beberapa menit setelahnya, langsung ada sesi tanya jawab. Tanpa babibu, saya langsung angkat tangan dan bertanya. “perasaan baru dateng, dah mau tanya aja…” kata pak Rifky. Saya juga bingung, mau tanya apa ya? Ah,, tanya tentang hutang aja deh. Eh, ternyata dari empat penanya saya termasuk tiga penanya yang dapat buku plus tanda tangan langsung dari penulisnya. Alhamdulillah. . .

Yang Belum Ditemui

Sebenarnya ada beberapa kontak yang mau saya temui di kopdar MPID kali ini. Ada mbak Sule, eh mbak Suly (ihwatiislam), Mbak Sri (srikandilangit), dan Mbak Mpiiit (penasulung). Mbak-mbak semua :D. Soalnya yang mas-mas dah kesampean semua. Kecuali memang yang jauh dari ibu kota kayak Mas Kun (priyayimuslim), Bang Fikri (aafikri) mbak Ino (lailatulqadr), mbak Mift (avicena1986), bang ertin (badai433), Zaki (znrock), dll. Semoga nanti bisa kopdar di lain waktu. Aamiin

Segitu dulu deh cerita kopdar perdananya. Sebagai nubie, bersyukur sekali punya keluarga besar di MPID. Semoga bisa long lasting dan tetap bermanfaat. Aamiin…

Nb: ditulis tadi malam dan diposting pagi ini..

Bagi yang mau lihat foto-foto kopdar kemarin sila meluncur ke tautan ini…

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Juli, 2011 at Mutsaqqif.