Tak Bangkit

Agustus 14, 2011 § 22 Komentar

Tak Bangkit

Walau lembutnya rasa syahdu telah meresap pori hati, ku tak bangkit

Walau pekat gelap menutup celah cahaya jiwa, ku tak bangkit

Walau suara sejuk menelisik masuk menggetar hati, ku tak bangkit

Menjejak lah memori lama merusak saraf

Menyusup lah bayang usang merobek logika

Merasuk lah hawa busuk membau jiwa

Jelas ku tak bangkit,
hatiku tak tergerak
jiwaku tak menggerak
ragaku tak bergerak

Simpuh pinta pada-Mu
dalam senyap langit hitam
dalam lirih lemah wujud sembah
dalam taat yang tak sesaat

Bangkitkan Aku!
Dalam ketaatan Pada-Mu. . .

_15 Ramadhan 1432H_
menunggu kelopak tertutup sayup

Iklan

Puisi

Agustus 13, 2011 § 19 Komentar

Yang kusuka
“esensia puitika”
semau gue!

Yang tak kusuka
kalimat “…kau bagaikan bulan/mawar/mentari/dll…”

Yang kusuka
rima yang selaras jatuh lembut diakhir kalimat

Yang tak kusuka
dibaca dengan nada turun-naik-turun, nada yang sama

Yang kusuka
rangkaian indah diksi unik menarik

Yang tak kusuka
berisi cinta picisan gaya anak muda jaman sekarang

Yang kusuka
makna bersembunyi dibalik kata

Yang tak kusuka
kata entah apa maknanya

Yang kusuka
menunggu hingga titik akhir, sejenak, dan terucap “oh…”

Yang tak suka
berpikir lama tentukan kata, tak spontan!

Yang kusuka
bentuk yang tak hanya baris, bentuk yang juga bermakna

Yang kusuka
Gus Mus, Sutardji Calzoum Bahri, dll

_P U I S I_

Yang kusuka = 7
Yang tak kusuka = 6

Mohon maaf

Agustus 13, 2011 § 22 Komentar

Dulu kita akrab, dekat, dan bersepakat. Tentu lah tak sulit, karena kita punya pemikiran yang sama, kehidupan yang sama, dan kesukaan yang sama. Apa yang kubilang benar kau bilang betul. Apa yang kubilang salah kau bilang tak tepat. Apa yang kubilang jelek kau bilang buruk. Mudah saja untuk kita. Mudah.

Namun, langkah kaki telah sampai di persimpangan jalan. Kau ke sana, ku ke sini. Aku belajar tentang ini, kau belajar tentang itu. Aku jalani kehidupanku, kau jalani kehidupanmu.

Kita berbeda. Namun, bukan perkara aku yang benar-kau yang salah. Aku salah dengan khilafku, kau benar dengan prinsipmu. Aku benar dengan prinsipku, kau salah dengan khilafmu.

Berbeda dan tak salah.

Pandanganku di seberang pandanganmu. Nasihatku bagai cacian untukmu. Tingkahmu bagai cacat untukku. Berbeda. Tapi kita sama, punya benar dan punya salah.

Berbeda.

Tapi kita kawan. Langkahmu yang ke sana tak mengubahmu menjadi lawanku. Pandanganmu yang ke seberang tak mengubahmu menjadi lawanku. Tingkahmu yang begitu tak mengubahmu menjadi lawanku.

Kita kawan.

Maka maafkan
atas pandangan yang tak sejalan

Maka maafkan
atas tindakan yang menyakitkan

maka maafkan
atas nasihat yang dirasa bagai cacian

aku salah. . .
Tapi sungguh aku tak menyalahkanmu

aku benar. . .
Tapi sungguh aku tak membenarkan semua sikapku

Inilah perbedaan, bukan kesalahan

Aku mohon maaf, kawan. . .

Rindu

Agustus 10, 2011 § 13 Komentar

Rindu

Selalu saja rindu hadir di situ

di masa antara garis bulan menuju garis bulan lainnya

Selalu saja rindu hadir di situ

tertuju pada yang tak menahu

Selalu saja rindu hadir di situ

sesaat syahdu, sekejap sendu, terakhir kelu

Selalu saja rindu hadir di situ

jika kata bertutur malu
maka biar hati ini menunggu

Selalu saja rindu hadir di situ

tidak teruntuk paras ayu
tidak terpaku laku kemayu
tidak tertuju pandangan sayu

Selalu saja rindu hadir di situ

tak tahu
tak tahu
tak tahu

tuk apa
tuk siapa

rindu hadir di situ

yang ku tahu

aku rindu.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Agustus, 2011 at Mutsaqqif.