Catatan Hikmah #7: Tanya Manusia dan Jawab Al Qur’an

September 19, 2011 § 13 Komentar

Manusia Bertanya : Bolehkah aku frustrasi ?

Qur’an Menjawab : Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imraan : 139)

Manusia Bertanya : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?

Qur’an Menjawab : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya………. (Al-Baqarah : 286)

Manusia Bertanya : Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik ?

Qur’an Menjawab : ………. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)

Manusia Bertanya : Kenapa aku diuji ?

Qur’an Menjawab : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabuut : 2). Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabuut : 3)

Manusia Bertanya : Bolehkah aku berputus asa ?

Qur’an Menjawab : ………..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf : 87)

Manusia Bertanya : Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?

Qur’an Menjawab : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imraan : 200)

Manusia Bertanya : Bagaimana menguatkan hatiku?

Qur’an Menjawab : ….Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal……. (At-Taubah : 129)

Manusia Bertanya : Apa yang kudapat dari semua ujian ini?

Qur’an Menjawab : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka………. (At-Taubah : 111)

Iklan

Tentang Bulan

September 11, 2011 § 17 Komentar

Bersumpah dengan “bulan ketika mengiringinya (matahari)” dengan cahayanya yang halus dan lembut, indah dan jernih. Antara bulan dan hati manusia terdapat jalinan kasih sejak dahulu dan terhunjam dalam relung dan kedalamannya. Jalinan kasih yang melimpah ruah dalam semua sudut qalbu, yang menjadikan hati bangun dan tergugah ketika berjumpa dengannya dalam kondisi apa pun.

Bulan memberikan bisikan-bisikan dan isyarat-isyarat kepada hati, pengagungan dan penyucian kepada Yang Maha Pencipta, yang hampir dapat didengar oleh hati yang peka pada cahaya bulan yang mengembang. Hati sendiri kadang-kadang bertasbih di dalam limpahan cahaya yang memancar pada malam padang rembulan, mencuci kotoran-kotorannya, mereguk siramannya, dan merangkul cahaya tercinta ini. Sehingga, ruh yang diciptakan Allah padanya memperoleh kelegaan dan kesenangan.

[Sayyid Quthb dalam tafsir Fii Zhilalil Qur’an Surat Asy-Syams ayat 2]

Nb: besok jangan lupa shaum ayamul bidh ya.. 🙂

Cerita Jakarta #1: Pandangan Pertama, Hai Jakarta!

September 9, 2011 § 31 Komentar

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Pembuka

Tak terasa tiga tahun sudah berdomisili di daerah sekitar Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan. Keharusan mengejar cita-cita berkuliah di kampus kedinasan membawa saya ke tempat ini. Tempat di mana banyak hal berbeda saya temui. Beda dari kebudayaan di kota asal, beda masyarakat, beda fasilitas, dan masih banyak beda lainnya. Memang benar apa-apa yang dikatakan alim ulama tentang berhijrah, beruntunglah diri ini merasakan hijrah, walaupun hanya berjarak 2,5 jam. Hehehe..


Selama tiga tahun berdomisili sekaligus beraktivitas di Ibu Kota (dan sekitarnya) memberi banyak sekali kenangan, pengalaman, dan pelajaran. Mulai dari hal remeh-temeh sampai hal yang sangat besar dampaknya. Dari mulai kosan sampai penjuru Ibu Kota, semua memberi pelajaran hidup yang berharga. Nah, berhubung sebentar lagi saya akan penempatan dan entah di mana penempatannya kelak, saya bermaksud mengabadikan berbagai kisah yang sudah dilalui di Ibu Kota ini. Selain sebagai dokumentasi, siapa tahu kisah ini menginspirasi dan bisa bermanfaat. Ya khan? Tulis-Tebar-Manfaat!


Cerita Jakarta ini akan terdiri dari beberapa bagian, tentunya pembagiannya sesuai keinginan saya saja. Hahaha. Untuk episode perdana ini akan saya buka dengan pandangan pertama tentang Jakarta. Selamat menikmati J


Pandangan Pertama, hai Jakarta!

Kampung halaman saya adalah kota Serang, ibu kota Provinsi Banten. Tak begitu jauh dari Jakarta, hanya butuh waktu tempuh normal dengan kendaraan pribadi 2 jam saja. Dengan jarak yang dekat ini, saya sedari kecil sudah sering mengunjungi Jakarta. Mengunjungi sanak saudara menjadi alasan utama saya mengunjungi Jakarta. Tiga kakak dari Ayah berdomisili di Jakarta, sehingga sering bagi kami sekeluarga menyambangi mereka di Jakarta.


Apa kesan pertama saya melihat Jakarta? Excited! Inilah kota di mana artis-artis yang sering saya lihat di televisi itu tinggal, kota di mana banyak tokoh kenamaan tinggal, kota dengan banyak sekali pusat perbelanjaan, dan kota yang menjadi kiblat modernisasi negara ini. Heru kecil selalu saja semangat jika pergi Jakarta. Harapnya bisa bertemu artis atau sekedar melihat Monumen Nasional. Walau ternyata, Heru kecil tak pernah bertemu artis di masa kecilnya. Hahaha..


Ibu dan Ayah selalu saja membicarakan Jakarta jika dalam perjalanan. Mereka selalu berpesan, “kalo gak kaya-kaya banget, mending jangan hidup di Jakarta deh! Repot!”. Saya ingat betul dengan pesan itu. Sampai sekarang pun pesan itu masih melekat dan coba saya realisasikan. Saya paham alasan mereka berpesan seperti itu. Setiap perjalanan menuju Jakarta, Ayah selalu marah dengan parahnya kemacetan lalu lintas, pengedara yang sudah tidak peduli ketertiban, dan kriminalitas yang siap menghadang di manapun. Ayah sudah paham betul dengan Jakarta, ia sudah bertahun-tahun berkutat di kota ini dengan segala hiruk-pikuknya. Oh iya, satu hal yang sangat menyentuh saya adalah pemandangan antara si kaya dan si miskin! Sangat miriiiiisssss. Jajaran perumahan kumuh berada tepat di samping hotel kenamaan ibu kota. Pemandangan ini membuat saya ciut untuk tinggal di Jakarta. Jakarta sangat kejam. Begitu gumam saya dalam hati.


Waktu membawa saya menuju bangku kuliah. Awalnya saya diterima di Universitas Indonesia, jurusan Kimia. Dengan begini, saya mau tak mau tinggal di kisaran Jakarta atau lebih tepatnya Depok. Bersyukurlah, masih dipinggiran Jakarta tidak sampai di tengah kota Jakarta yang penuh sesak. Walau sebenarnya jalan Margonda di Depok juga sudah sangat padat dan sesak juga (hahaha). Sebulan di Depok, datang kabar bahwa saya diterima di STAN. Dari Depok menuju Bintaro. Alhamdulillah masih dipinggir kota Jakarta juga. Mulai di bangku kuliah ini lah saya menikmati Ibu Kota dengan segala pernak-perniknya. Dan ternyata excitement saya tentang Jakarta sewaktu kecil bangkit kembali di masa kuliah ini. Saatnya berpetualang di Jakarta!!

~bersambung

Ada Apa Setelah Ramadhan?

September 7, 2011 § 40 Komentar

Ada Apa Setelah Ramadhan?

Suatu hari, Sang Singa yang Menyembunyikan Kukunya, Sa’ad ibn Abi Waqqash, meminta sesuatu yang istimewa kepada Rasulullah saw. Permintaan cerdas yang ditujukan kepada orang yang tepat. “Ya Rasulallah..do’akanlah pada Allah agar do’a-do’aku ini mustajab..”, demikian pinta sahabat yang dijanjikan surga ini kepada Rasulullah. Sebuah pinta yang amat cerdas, permintaan yang sesungguhnya menjadi permintaan bagi tiap-tiap manusia yang berdo’a pada Tuhan. Permintaan yang membuat harap seorang hamba selalu terjaga menegakkan optimismenya. Terpujilah Sa’ad ibn Abi Waqqash atas iman dan amalnya kepada Allah yang membuat kemurnian pintanya.

Rasulullah yang sangat mencintai Sa’ad tak langsung mengiyakan pinta itu. Ada satu syarat yang Rasulullah berikan untuk sahabat yang sudah dianggap sebagai pamannya ini. Syarat ringan jika dibanding dengan permintaannya. “Wahai Sa’ad, bantulah aku dengan memperbaiki makananmu…bantulah aku dengan memperbaiki makananmu…”. itu lah syarat ringan dari Rasulullah.

Pada hari yang lain, seperti yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya, Rasululllah saw berkata kepada Rabi’ah bin Ka’ab Al Islami, “Mintalah!”. Rasulullah yang agung menawarkan permintaan kepada sahabat yang sedang menyiapkan air wudhu dan kebutuhan Rasul yang lain. Lalu apakah hal yang diminta sahabat mulia ini? Ternyata kesucian hatinya membuahkan jawaban yang sangat mulia, “Aku minta kepadamu agar dapat menemanimu di surga”. Cerdas dan Mulia! Bayangkan saja kawan, apalagi kenikmatan selain membersamai Rasulullah saw di surga. Jangan kau lupa kawan, surga bagi Rasulullah adalah surga dengan tingkatan tertinggi, Surga Firdaus.

“Tidak ada permintaan lain?” tawaran berikutnya Rasul berikan kepada Rabi’ah bin Ka’ab Al Islami. “Itu saja”, jawab Rabi’ah bin Ka’ab dengan lembut mencukupkan diri dengan satu pintanya itu. Ternyata, Rasul pun memberikan sebuah syarat pada permintaan ini. “Bantulah aku dengan banyak sujud”. Lagi-lagi, syarat yang ringan jika dibanding dengan permintaannya.

Menjaga Makanan dan Sujud

Adakah dua aktivitas ini sudah umum terdengar oleh kita? Dua aktivitas tersebut pada hakikatnya adalah shaum dan shalat. Menjaga apa-apa yang menjadi makanan kita sekaligus menahan segala hawa nafsu lainnya adalah ibadah yang kita sebut shaum atau puasa. Sujud? Dalam aktivitas apa kita melakukan sujud? Paling banyak pastilah sholat. Dalam sehari minimal sekali kita akan sujud 34 kali. Dua aktivitas ini yang Rasulullah syaratkan untuk mendapat dua permintaan yang agung tersebut. Kenapa bisa? Bisa!

Kita mulai dengan menjaga makanan, yang lebih jauh adalah ibadah shaum. Syarat ini diberikan Rasul untuk mendapatkan anugerah berupa do’a-do’a yang mustajab. Simak sebuah hadist berikut:

“Juga kelompok yang do’a mereka tidak ditolak ialah:orang yang berpuasa sehingga dia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang teraniaya.”

[riwayat Abu Hurairah r.a. dari Ahmad, dan Ibn Majah yang dianggap sebagai hadits hasan oleh Tirmidzi, dan dishahih-kan oleh Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban,]

Betapa hebatnya efek dari ibadah shaum, yaitu terijabahnya do’a-do’a oleh Allah swt. Pantaslah Rasulullah saw mensyaratkan ibadah shaum sebagai “bantuan” agar permintaan Sa’ad ibn Abi Waqqash dapat terkabul. Tentu kita sudah bagaimana bagaimana kelanjutan kisah dari Sa’ad ibn Abi Waqqash. Do’anya menjadi mustajab dalam tiap kesempatan. Subhanallah.

Beranjak pada syarat kedua, yaitu sujud dalam shalat untuk mendapatkan surga. Mari kita simak penuturan Abdul Hamid Al Bilali dalam kitabnya Waahatu Al Iman mengenai hal ini:

”Rasulullah saw memberi penjelasan kepada sahabat itu tentang resep yang memasukkannya ke surga dan dan membuatnya dapat menemani beliau di sana. Yaitu dengan banyak sujud. Rasulullah saw bersabda kepada sahabat itu, ‘bantulah aku dengan banyak sujud’. Rasulullah saw bersabda seperti itu, sebab jiwa menyuruh kepada keburukan, tidak suka ibadah, dan benci lama ibadah. Karena itu, agar jiwa mudah dikendalikan, maka jiwa perlu dibersihkan terus-menerus dan dilawan,agar mudah dibawa kepada apa saja yang dikehendaki Allah ta’ala”

Shalat lah yang menjadi objek hisab pertama kali, jika shalatnya baik maka yang lainnya pun akan baik. Kebaikan-kebaikan ini dan ridho-Nya akan menghantarkan kita menuju surga-Nya kelak. Selain itu, sujud pula yang dapat mengangkat hamba dari neraka yang membakarnya. Imam Bukhari meriwayatkannya dalam kitab Shahihnya hadits berikut:

“Setelah Allah selesai memutuskan perkara seluruh hamba-Nya dan ingin mengeluarkan penghuni neraka yang Dia kehendaki dengan rahmat-Nya, maka Dia memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan dari neraka siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun di antara orang-orang yang dikehendaki Allah untuk dia rahmati, yaitu di antara orang-orang yang bersaksi tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan tanda sujud. Neraka menelan apa saja pada manusia, kecuali bekas sujud, sebab Allah mengharamkan neraka menelan bekas sujud. Lalu, mereka kelaur dari neraka dalam keadaan terbakar. Kemudian, mereka disiram air kehidupan, lalu mereka tumbuh di bawah air itu seperti biji-bijian tumbuh di tanah bekas banjir”

[HR Bukhari]

Syarat dari Rasulullah untuk banyak sujud ini menjadi penghantar bagi sahabat tersebut menuju keimanan yang lebih dalam, ketaatan yang lebih terhujam, dan penyelamat dari neraka. Tentulah surga menjadi balasan bagi manusia yang sujud dengan keimanan yang lurus pada Allah. Sungguh begitu lembut Rasulullah menghantarkan dua sahabatnya menuju terkabulnya permintaan mereka. tidak menggurui dan tidak memerintah, tapi memotivasi dengan bahasa yang sangat lunak, “bantulah aku. . .”. Subhanallah. . .

Anda sudah sedikit bingung dengan penjelasan ini? Atau anda kira saya salah memberi judul tulisan ini? Kebetulan saya tidak salah memberi judul tulisan ini. Dua aktivitas ini dan ramadhan adalah berkaitan erat. Sadarkah kawan, menjaga makanan dengan shaum dan memperbanyak sujud dengan memperbanyak shalat adalah hal yang baru saja kita lakukan dengan semangat luar biasa tepat sebulan lamanya? Di bulan Ramadhan yang baru saja beberapa hari meningalkan kita, shaum menjadi amalan kita di siang hari nan terik, shalat malam menjadi agenda tak terlewatkan di malam yang dingin. Kita mengejar keutamaan beribadah di bulan nan agung itu.

T a p I. . .

Ada apa setelah Ramadhan?

Merasakah kita bahwa semangat menurun karena “reward” dari Allah tak sebesar di bulan Ramadhan? Baca lagi penjelasan tentang shaum dan sujud di atas! Betapa Allah tetap memberikan reward luar biasa besar bagi amalan yang kita lakukan di bulan Ramadhan, jika kita tetap melakukan amalan itu di luar bulan Ramadhan. Penjelasan di atas tidak berdasar pada masa-masa tertentu, tapi sepanjang tahun, di tiap bulan, di tiap hari kita berpuasa dan shalat. Allah mengganjar amalan itu dengan luar biasa besar. Untuk shaum saja, Allah siapkan do’a-do’a yang mustajab, sedangkan untuk memperbanyak shalat, surga! Apa lagi? Kurang besarkah rewards Allah di luar Ramadhan ini?

Maka jika ada pertanyaan “Ada Apa Setelah Ramadhan?”, jawablah dengan lantang “Ridho, karunia, dan nikmat Allah yang (masih) luar biasa besar!”. Jadikanlah tiap bulan menjadi bulan Ramadhan dengan tetap membawa semangat Ramadhan sepanjang tahun. Maka tercapailah moto yang kita azzamkan selama Ramadhan lalu, “menjadi hamba rabbani, bukan ramadhani!”

Wallahu a’lam. . .

**sebuah pengingat diri yang sering lalai**

[Rumah, 8 Syawal 1432 H]

Rencana Tulis-Tulis

September 6, 2011 § 24 Komentar

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Jika kau tak disibukkan oleh kebaikan maka kau sedang disibukkan dengan maksiat. Astagfirullah… Berhubung saat ini sedang dalam masa transisi menunggu kelulusan dan penempatan maka banyak waktu luang yang tersedia. Kesempatan emas ini tak boleh dilewatkan begitu saja. Sudah banyak e-book menanti untuk dibaca atau buku-buku lain yang hanya terbaca sepotong-potong. Waktunya produktif dengan masa senggang seperti ini. Jangan sampe masa senggang malah diisi galau-galau mulu. Gak mutsaqqif banged dah 😀

Dalam jurnal ini saya coba mendaftar judul-judul jurnal yang akan saya tulis dalam waktu dekat. Buat apa? Kalau Kak Ai dan beberapa kawan MP menulis rencana dan hasil baca buku bulanan maka saya mencoba menulis rencana tulisan mingguan. Dengan begini, rasa “terpaksa” itu akan cepat hadir dan tulisan-tulisan pun lahir dengan tidak diundur-undur. Seringkali ide sudah nyangkut di kepala tapi tak lahir menjadi tulisan. Banyak hal yang sebenarnya mau saya tulis, tapi cukup beberapa ini dulu deh. Ini dia daftar tulisan yang akan saya buat dalam waktu dekat:

1. Dari Kampus ke Kampung

Sebuah kisah persiapan menuju lahan hidup baru

2. Cerita Jakarta (the series)

Mengabadikan romantisme diri dengan Ibu Kota selama tiga tahun terakhir

3. Logical Fallacies

Tentang kesalahan berlogika yang dianggap kebenaran umum

4. Ada Apa Setelah Ramadhan?

Penyemangat diri sendiri menghadapi bulan-bulan setelah ramadhan

Empat jurnal ini saya targetkan akan selesai dalam waktu satu minggu. Nah, buat kawan-kawan MP, minta tolong yah, tagih aja saya kalau-kalau ternyata tulisan saya ini tak kunjung muncul di inbox anda. Terima kasih kawan-kawan MP J

Tulis-Tebar-Manfaat!

Luka

September 4, 2011 § 27 Komentar

Jika menulis adalah sarana menyembuhkan, maka di malam ini, saat sendiri di kamar dengan lantunan lembut lagu Healing-Sammy Yusuf, akan ku coba sembuhkan apa-apa yang terluka.

Luka itu, saat kau menengadah ke atas dalam menjejakkan langkah
jatuh!
terluka
Luka itu, saat kau tergores benda yang sangat tajam
gores!
terluka
Luka itu, saat kau menghantam benda yang sangat keras
hantam!
terluka
Luka itu, sakitnya pasti, bentuknya tidak!
Darah, memar, bengkak, atau patah
Tapi
Tak pernah ku menengadah dalam menjejak langkah
Tak tergores kulitku oleh benda tajam
Tak menghantam padatnya benda-benda
Tapi
Tak tampak merahnya darah
Tak muncul birunya memar
Tak timbul besarnya bengkak
Tak terasa patahnya tulang
Tapi
Percayalah, ini luka
yang sakit terasa. . .
sebab asa yang yang mengangkasa
jatuh ditarik tangan realita!
bodoh menutup logika
ragu merangsang prasangka!
diam sejenak, biar hikmah terbawa dalam luka yang menganga..
[Rumah, 4 September 2011]

Where Am I?

You are currently viewing the archives for September, 2011 at Mutsaqqif.