Cerita Jakarta #2: Sarana Transportasi [Part 1]

Oktober 8, 2011 § 19 Komentar

Bercerita tentang Jakarta takkan lengkap tanpa berbicara transportasi. Tentu saja, bagi kota metropolitan seperti Jakarta, transportasi menjadi sorotan utama. Transportasi bisa jadi masalah, transportasi bisa jadi rekreasi, transportasi bisa menjadi hal unik dan menarik untuk dibicarakan baik bagi masyarakat urban atau masyarakat di luar Jakarta.

Inilah Cerita Jakartaku tentang transportasi. . .

Mobil Pribadi

Selama saya berdomisili di Jakarta, jarang sekali menggunakan mobil pribadi. Pertama karena tak punya, kedua tak bisa mengemudi, dan ketiga biayanya mahal. Mobil pribadi adalah tumpuan bagi masyarakat urban yang punya mobililtas tinggi, mencari kenyamanan, dan tentu saja berkantong cukup tebal tuk membiayai segala pengeluaran untuk pemakaian mobil. Ada pengeluaran untuk bensin, jalan tol, biaya servis, dan lain-lain.

Ada sisi lain dari penggunaan mobil pribadi sebagai sarana transportasi, yaitu sisi prestise. Akan ada kebanggaan lebih jika kau berada dalam mobil, apalagi mobil mewah. Bahkan, seorang teman pernah mengatakan, “jangan cari mobil keluaran terbaru di showroom, kau cukup datang ke mall-mall besar di Jakarta maka semua mobil keluaran terbaru akan ada di sana” setelah saya mencoba mendatangi mall-mall besar di Jakarta ternyata memang benar. Indonesia yang katanya termasuk negara dengan jumlah penduduk miskin yang sangat banyak ternyata juga memiliki pengendara mobil mewah yang banyak juga. Sebut saja pabrikan ternama otomotif, semua ada di Jakarta. Mulai dari Ferarri (bahkan ada klubnya), Mercedez Benz, Maserati, Lotus, Rolls Royce, Jaguar, Lamborgini, dan masih banyak lagi mobil super mewah ada di Jakarta. Selain dari segi kualitas kemewahan mobil, dari segi kuantitas juga luar biasa. Satu rumah, 5 anggota keluarga, minimal sekali punya dua mobil. Ada mobil untuk ayah, mobil untuk ibu, mobil untuk kakak, mobil untuk kondangan, untung gak sampe ada mobil untuk pembantu dan satpam.

Bus

Banyak sekai jenis bus di Jakarta, bus dapat dikategorikan berdasarkan ukuran bus, trayek bus, kecepatan bus, dan mungkin berdasarkan tingkat keamanan juga bisa. Saya coba cerita beberapa jenis bus saja di sini. Terutama bus yang memang sudah pernah saya naiki.

Metro mini. Saya sering metro mini 74 atau 71, dari Blok M menuju daerah sekitar Bintaro. Bus dengan ukuran ¾ ini hampir dapat dipastikan dikendarai oleh mantan pembalap nascar atau rally wrc. Luar biasa kecepatan dan tingkat ugal-ugalannya. Jika anda mau sekedar muhasabah diri dengan metode dzikrul maut maka metro mini dapat menjadi alternatif.

Ada beberapa cerita unik dan menarik tentang metro mini. Pernah satu saat saya terkena “rayuan maut” dari kernet metro mini yang berteriak keras “terakhir..terakhir…!!” Kebetulan saat itu sudah larut malam jadi mendengar teriakan itu saya langsung saja naik metro mini itu, walau keadaan sudah penuh sesak. Sangat penuh sesak. Jika saya dicopet pun dapat dipastikan takkan terasa. Sudah seperti ikan asin dipaksa masuk ke atas truk pick up. Ternyata teriakan itu adalah bagian dari strategy marketing si kernet. Ada lagi cerita lain. Kali ini dari seorang kawan saya. Dia sedang naik metro mini, tiba-tiba metro mini yang ia tumpangi berhenti, bukan sekali dua kali tapi sampai beberapa kali. Pada kali terakhir metro mini itu berhenti, kernet memeriksa bus beberapa saat dan naik kembali ke metro mini. Sang supir bertanya “kenapa lai??” Dengan teriakan keras si kernet menjawab “Minyak rem abis bang..!!” Alhasil semua wajah penumpang panik!

Kopaja. Bus ini mirip dengan metro mini, tapi dengan kecepatan dan tingkat ugal-ugalan yang lebih rendah. Saya hanya beberapa kali naik kopaja karena trayeknya tidak melalui jalur yang sering saya lewati dalam beraktivitas sehari-hari. Dengan warna hijaunya, kopaja ini akan lebih menenangkan hati jika dibandingkan dengan saudara dekatnya si oranye, metro mini.

Transjakarta. Yap bus fenomenal yang punya jalur sendiri ini jadi alternatif transportasi yang praktis dan murah. Dengan Rp3500 saja anda dapat mengelilingi Jakarta dari barat sampai timur atau dari utara sampai selatan. Jika kondisi normal, bus Transjakarta bisa jadi alternatif transportasi yang aman dan nyaman. Tapi jika keadaan tidak normal, bersiapsiagalah! Jika jam padat datang, yaitu jam pulang kantor atau berangkat kantor, maka keadaan akan penuh sesak. Lagi-lagi, mirip tumpukan ikan asin yang dipaksa masuk ke dalam truk pick up.

Bus Kota. Bus jenis ini banyak lalu lalang di jalanan tengah kota. Ada banyak jenis bus kota, setahu saya, ada Bus Mayasari Bakti, ARH,dll. Ketika masih duduk di bangku SD atau SMP saya diajak ayah ke Jakarta. Waktu itu untuk menuju rumah tante yang berada di Sawah Besar, Kebon Jeruk, kami naik bus kota. Ketika akan turun ayah berpesan “Turunnya kaki kiri dulu ya” Saya bingung dengan pesan itu. Apa bedanya juga turun dengan kaki kiri atau kanan? Apa ini ada hubungannya dengan takhayul? Begitulah gumam saya dalam hati. Tepat ketika turun baru saya tahu kenapa ayah berpesan seperti itu. Jelas saja ayah berpesan seperti itu, turun dengan kaki kiri terlebih dahulu, ternyata bus kota itu tidak berhenti ketika menurunkan penumpang! Haduuuuh!








~bersambung

Iklan

§ 19 Responses to Cerita Jakarta #2: Sarana Transportasi [Part 1]

Coretan Kawan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cerita Jakarta #2: Sarana Transportasi [Part 1] at Mutsaqqif.

meta

%d blogger menyukai ini: