Nite-Walking: Keinginan dan Kebenaran

Oktober 22, 2011 § 21 Komentar


Sudah lama rasanya kaki ini tidak melangkah perlahan di gelapnya malam. Hampir dua bulan di rumah membuat tingkat aktivitas menurun. Jarang sekali jalan sendirian malam-malam hanya untuk sekedar melayangkan pikiran. Berbeda sekali ketika masih di kampus, hampir dipastikan dalam satu minggu melakukan Nite Walking 2-3 kali. Rindu rasanya melayangkan pikiran dalam malam. Beruntung malam ini rindu itu terpenuhi. Walau tak benar-benar jalan, karena saya mengendarai motor untuk sekedar berkeliling kota kecil tempat saya tumbuh dan belajar.


Seperti biasa, ada saja pikiran-pikiran yang muncul ketika berjalan-jalan malam. Kali ini sebuah sketsa masa lalu bertemu dengan pemikiran baru, beradu dan akhirnya menghasilkan makna. Makna yang selalu saja dapat menyegarkan pikiran saya yang terkadang sudah terlalu penat. Makna yang dapat diambil hikmahnya dan ditelusuri manfaatnya. Makna yang akan saya bagi dengan kawan-kawan semua dalam jurnal sederhana ini.


Melaju dengan motor di malam minggu seperti ini, tentu saja disuguhi pemandangan khas ala anak muda. Di tengah kota, berjejerlah pasangan muda-mudi menghabiskan malam dengan pasangan mereka, atau bahasa umumnya pacar. Ada yang berpacaran di kafe-kafe, mall, atau resto. Bagi yang berdompet agak tipis, cukuplah duduk di atas motor yang di parkir di pinggir jalan di temani minuman ringan. Di jalanan, motor-motor melaju cepat dan ugal-ugalan, pembalap jalanan turun ke arena sembarang. Jika punya ayah yang kaya raya, maka mereka melaju kencang dengan mobil modifikasinya. Anak-anak muda itu keluar rumah dengan pakaian terbaik mereka, kendaraan termahal mereka, telepon selular terbaru mereka, gaya baju ter-gaul yang mereka punya.


Inilah serpih kecil dunia remaja saat ini. Mereka hidup dalam dunia yang melingkupi mereka secara menyeluruh. Dari bangun tidur sampai mereka tidur kembali. Dari ujung rambut sampai alas kaki. Dari perihal sekolah sampai sekedar hobi. Lengkap! Itulah remaja saat ini. Saya bisa katakan tidak semua seperti itu, tapi dengan kasat mata dapat kita lihat kebanyakan seperti ini.


Berpikir sejenak tentang kehidupan remaja membuat pikiran saya tersentak. Hey! Seperti inilah saya dulu. Ya. Dulu saya pun menjalani hari-hari sebagai remaja seperti ini. Di mana popularitas dan trend menjadi harga mati untuk diikuti. Lingkungan hidup yang takkan membiarkanmu menjadi warga kelas dua karena tak trendi dan tak populer di sekolah. Ya ya ya. Saya sempat merasakan masa-masa itu.


Masa-masa remaja saya kala itu adalah masa terberat bagi saya. Ya, masa terberat. Sebagai remaja yang belum punya orientasi hidup terarah, ketika itu saya menjadi sosok yang tertekan keadaan. Sudah menjadi sifat dasar saya untuk mendominasi. Bukan sekedar perasaan saya, tapi beberapa hasil psikotes telah menunjukkan bahwa saya memiliki kepribadian yang cenderung mendominasi dan ingin menonjol di lingkungan di mana saya berada. Tapi apa yang terjadi ketika itu? Lingkungan saya adalah lingkungan remaja-remaja yang memiliki uang saku berlimpah dari orang tua yang berkecukupan. Mudah saja bagi mereka membeli barang-barang terbaru macam ipod, handphone-comunicator, MP4, dan peralatan eletronik lainnya. Mudah saja bagi mereka bepergian dengan mobil-mobil keluaran terbaru. Mudah saja bagi mereka mengeluarkan uang untuk berbelanja pakaian atau sekedar untuk jalan-jalan. Hidup mudah dan mewah bagi mereka. Saya pun terpojok dalam keadaan berkeinginan tapi tak berkemampuan.


Rasa tertekan kala itu berasal dari obsesi menjadi remaja yang populer, keren, gaul, atau sebutan lainnya, akan tetapi apa daya saya tak mampu mengikuti gaya hidup mereka. Mencoba bergaya ala mereka, membeli apa yang mereka beli, menjadi seperti mereka, ternyata menekan saya secara mental. Mungkin pengalaman seperti ini sudah sering hadir dalam berita-berita di layar kaca. Remaja terpaksa menjadi PSK hanya untuk memenuhi hasrat menjadi remaja hedonis, mencuri dari orang tua sendiri untuk sekedar membeli handphone terbaru, atau memaksakan diri bergaya gaul walau dari hasil menjual narkoba.


Setelah melewati masa itu barulah saya tersadar, ternyata rasa sakit dan tertekan yang saya alami berasal dari sebuah keinginan yang tidak benar. Keinginan mengada-ada yang tak jelas juntrungannya. Memaksakan diri untuk menjadi sesuatu yang sebenarnya tak membawa manfaat bagi saya. Menyia-nyiakan masa muda tenggelam dalam khayalan menjadi remaja idaman. Sungguh ironis memang, tapi ada selaksa hikmah di tiap liku perjalanan.


Saat ini, dengan sudah merasai pengalaman masa lalu, saya yakini bahwa manusia akan didorong oleh keinginan-keinginan mereka, baik yang lahir sebagai fitrah ataupun hasil bentukkan lingkungan. Keinginan itu yang menguasai mereka dan menjadi kekuatan tersendiri bagi mereka. Di sisi lain, keinginan itu juga yang dapat menyiksa mereka begitu hebat atau malah membahagiaan mereka dunia akhirat. Dari sini lah pertanyaan dasar mencuat, keinginan macam apa yang akan membawa manusia kepada kebahagiaan? Keinginan yang benar lah yang akan mendorong manusia menuju kebahagiaan. Benar seperti apa? Maka yang Maha Mengetahui memiliki jawaban untuk kita

“Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permo-honan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segalaperintah)Ku dan hendaklah me-reka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenar-an.” (Al-Baqarah:186).

Rasulullah berpesan pada kita tuk menjawab pertanyaan itu.

“Ya Allah sesungguhnya aku serahkan jiwaku pada-Mu, aku hadapkan wajahku pada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu,: dengan penuh harap dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan tempat mencari keselamatan dari-pada-Mu kecuali kepada-Mu jua.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Mus-lim dari AI-Barra’ bin ‘Azib).

Seorang ulama besar dunia pun memiliki nasihat untuk menjawab pertanyaan itu.

“kehidupan dan sehatnya hati tidak akan didapat kecuali dengan mengetahui, menginginkan dan mengutamakan kebenaran daripada yang lain”

“tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan dan kebaikan hati melainkan jika Allah sebagai tuhannya, penciptanya yang mahaesa, sembahannya, puncak tujuannya dan yang paling dicintainya daripada yang lain”

[Ibnul Qayyim Al Jauzi- Ighatsatul Lahfan]


Ternyata Allah jawabannya! Jika semua keinginan terbingkai dengan keridhoโ€™an Allah maka itulah jalan menuju kebahagiaan. Keinginan-keinginan yang di luar ridho Allah justru akan menyiksa dan menekan batin seseorang. Maka saatnya berhenti sejenak dan memeriksa hati kita, apakah ia menjadi bahagia dengan mengejar inginnya atau justru makin tersiksa dengan tujuan yang hendak dicapai? Saatnya memeriksa ingin kita, apa ia dalam ridho-Nya atau justru dalam larangan-Nya? Jangan sampai kerja keras kita hanya berujung pada tersiksanya hati dan jiwa. Kekosongan jiwa memenuhi hidup karena bertujuan di luar keridhoan-Nya. Jangan sampai, naudzubillah.


Saatnya meluruskan ingin kita di atas jalan keridhoโ€™an Allah Maha Kuasa. Menjadikan Allah ujung dari segala harap dan asa. Menjadi hamba yang sempurna dalam ketaatan pada-Nya.


Semoga kita menjadi hamba yang senantiasa hanya menyembah pada-Nya dan memohon pertolongan hanya pada-Nya.

Aamiin

Iklan

§ 21 Responses to Nite-Walking: Keinginan dan Kebenaran

Coretan Kawan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Nite-Walking: Keinginan dan Kebenaran at Mutsaqqif.

meta

%d blogger menyukai ini: