Cinta Dari Bilik Mihrab

November 29, 2011 § 11 Komentar

Cinta Dari Bilik Mihrab

Cinta seperti ulat yang damai dalam kepompong hidup. Menanti metamorfosis. Tak ada cemas. Semua berlangsung seperti gelombang angin. Menabur desis sunyi ke setiap penjuru waktu.

Cinta seperti detak jarum jam yang singgah dalam perdebatan antara gelap dan terang. Menari telanjang di antara remah-remah gerimis tadi malam. Bertafakur mengangkasa sempurna seperti do’a-do’a rabiah, rumi, dan ghazali.

Adalah ranum matamu yang sebabkan aku derita, disalib pekik rindu dan gelegak daun-daun cahaya

[Jaya Komarudin Cholik-Tamasya Ke Masjid hal.57]

Iklan

Salah Paham

November 29, 2011 § 31 Komentar


Dialog Pertama, M = Mutsaqqif, SM = Senior Mutsaqqif

SM: dek, tahu gak tata cara pernikahan adat betawi?

M: Duh, gak tahu sama sekali mbak. Mang ada apa?

SM: Adik ipar saya mau lamaran ke akhwat betawi dari depok. Bingung mau bawa apa waktu seserahannya. Padahal acaranya akhir pekan ini.

M: oh gitu, yaudah deh mbak nti saya tanya ke temen yang anak betawi asli ya.

SM: Ok! Ditunggu ya

Dialog Kedua M= Mutsaqqif, TM = Teman Mutsaqqif

M= tahu barang seserahan ala adat betawi kagak? Denger2 mpe bawa lemari dan ranjang segala?

TM: ente mau sm orang betawi? Alhamdulillah, serius lu? Kalo sepengetahuan aye sih mang kayak gt. Nti deh kalo rincinya aye tanya babeh. Mang betawi mana?

M: Depok gan. Tolong tanyain ke bokap ya. Mohon do’anya juga biar lancar

TM: siip. Ntar malem aye tanya babeh

Dialog Ketiga M= Mutsaqqif, TM = teman Mutsaqqif

TM: (penjelasan panjang lebar ttg seserahan)

M: oh gitu. Insya Allah akhir pekan ini pihak keluarga mau ke depok.

TM: siip. Mantabh benar sdr satu ini. Semoga dilancarkan. Antum lewat MR gak?

M: Eh dudul!! Yang bilang kalo gue yang lamaran siapa?

TM: $&&%^%$#&@@!! Ngomong kek kalo bukan lu. Mana gue bilang ke bokap, lu lagi mau kawin. Udah bahasa nanyanya tadi serius bgd. Grrrrr….

M: yang lamaran itu adik iparnya mbak itu. Lu mah maen ambil kesimpulan aja -.-‘

TM: bubaaaaar! Lenongnya bubaaaarrr!

-THE END-

Rupa Malam

November 28, 2011 § 18 Komentar

Rupa Malam

Ia yang pekat, tutupi pandang dengan gelap

Ia yang sunyi, berikan mimpi buaikan diri

Ia yang dingin, semai sejuk sepoi angin

Ia yang terang, tengadah lurus menuju bintang

Ia yang diam, tegar tegas menjaga temaram

Mengalun alfa menuju kepala, tanda raga bisa melena

Menyusup tanya tembus dada, maka mata tetap terjaga

Melambai bayang memejam mata, tepat mimpi akan menyapa

Menghantar nyaman dalam malam, nikmati gelap sampai datang terang

Selamat malam, kawan

Risiko Menolong

November 26, 2011 § 37 Komentar

Ada yang menonton acara Super Trap di Trans Tv malam tadi? Sebuah acara yang menyajikan jebakan-jebakan tertentu. Nah, jebakan khusus malam ini sedikit mengusik pikiran saya. Teman-teman yang pernah hidup di kota metropolitan jika melihat tayangan pasti -minimal- akan sepaham dengan saya.

Jebakan ini dirancang sedemikian rupa, melibatkan dua orang talent sebagai pasutri. Sang suami menelepon korban untuk datang ke apartemen mereka. Si korban ada yang berprofesi petugas layan antar, penjual parsel, dan lain-lain. Setelah si korban datang, sang suami keluar dari apartemen tersebut dengan alasan ingin mengambil uang di ATM untuk membayar si korban. Setelah si suami pergi, si istri meminta korban mengambil sebuah kunci. Kunci apa? Kunci untuk membuka gembok pasungan si istri. Ya. Si istri dipasung! Dengan rengek tangis dan pinta meronta, si istri memohon pertolongan si korban. Kontan korban pun semuanya bingung, bahkan ada yang sampai menangis. Dari reaksi si korban inilah yang menggelitik pikiran saya. Mungkin juga menggelitik pikiran teman-teman.

Semua korban ingin menolong si istri, apalagi ketika melihat lebam-lebam di sekujur tubuh si istri dan pasungan yang mengekang kakinya. Siapa yang akan tega mengabaikan orang dengan keadaan seperti ini? Namun, semua korban pun ragu untuk menolong. Ada yang sangat ragu sampai menolak dengan dalih tak mau ikut campur masalah keluarga atau dalih lainnya. Tak hanya ragu, mereka pun terlihat takut akan berbagai risiko yang akan mereka terima karena menolong seorang istri yang disiksa dan dipasung oleh suami sendiri. Ragu dan takut pun membuncah ketika di akhir skema penjebakkan, si suami datang tepat ketika para korban akan membantu si istri. Si suami kontan marah kepada korban, tak hanya itu, keadaan diperburuk karena si istri yang ditolong malah berbalik menuduh korban melakukan kejahatan. Ah! Terjebaklah mereka!

Bagian yang mengusik pikiran saya ada di sikap ragu dan takut para korban yang hendak menolong. Inilah yang terjadi pada masa-masa sekarang. Menolong, bukan lagi perkara keikhlasan dan rasa peduli, akan tetapi juga perkara kesiapan berkorban dan berani menanggung risiko! Di kota besar macam Jakarta ini, sudah menjadi pemandangan umum (bagi saya minimal) bagaimana orang sekitar bisa menjadi sangat abai dengan orang yang sedang butuh pertolongan. Takut tertipu, takut harus menanggung biaya, takut terbawa-bawa masalah, atau alasan lain menjadi dalil penguat bagi sikapnya. Ah…rasa-rasanya dalil macam itu juga sering saya gunakan. Saya yang sudah terbawa budaya metropolitan atau memang sikap saya yang tak berani untuk menolong? Aaahhh…tayangan Super Trap kali ini sunguh menampar saya dengan keras. Tentang sikap menolong…

Lalu, beranikah kita menanggung risiko menolong?

Hikmah Di Pojok Masjid

November 25, 2011 § 24 Komentar

Dalam sebuah catatan, ia tuliskan kisah-kisah perjalanan juangnya. Ia ceritakan sebuah kisah di pojok sebuah masjid. Mencoba menggali hikmah dan membangun peradaban dari sana.

Beginilah ia menuturkan kisahnya.

“Pada suatu hari saya merasakan adanya sesuatu yang aneh, suasana pertengkaran, keributan, dan perpecahan. Saya melihat para pendengar dalam ceramah yang saya sampaikan telah terpecah menjadi kelompok-kelompok, dan mengambil tempat sendiri-sendiri. Sehingga sebelum saya mulai ceramah, saya dikejutkan oleh satu pertanyaan, ‘Bagaimanakah pendapat ustadz tentang tawassul?’ Kemudian saya menjawabnya, ‘Wahai saudaraku, saya kira Anda tidak hanya ingin bertanya kepadaku tentang

masalah itu saja, tetapi Anda hendak bertanya kepadaku tentang masalah shalat, salam setelah adzan, membaca surat al-Kahfi pada hari Jum,at, penggunaan kata sayyid untuk Rasulullah saw dalam tasyahhud, tentang nasib kedua orangtua Nabi saw, di manakah tempat mereka, disurga atau neraka? Dan juga tentang bacaan al-Qur’an yang dikirimkan kepada orang yang meninggal dunia apakah pahalanya sampai kepadanya ataukah tidak? Juga pertemuan yang diadakan oleh para ahli tarikat, apakahitu kemaksiatan ataukah pendekatan kepada Allah SWT? Masalah-masalah khilafiyah ini merupakan penyebar fitnah dan perselisihan pendapat yang sangat dahsyat di antara mereka.’ Karenanya, orang yang bertanya itu merasa heran, lalu dia berkata, ‘Ya, saya menginginkan jawaban untuk semua pertanyaan itu.'”

Saya berkata kepada orang itu, “Aku bukanlah seorang ulama, akan tetapi aku adalah seorang guru yang terpelajar yang hafal beberapa ayat al-Qur’an, sebagian hadits Nabi saw, hukum-hukum agama yang saya peroleh dari beberapa buku, dan aku berbaik hati mengajarkannya kepada orang banyak.

Apabila engkau keluar bersama diriku untuk membicarakan masalah-masalah itu, maka sesungguhnya engkau telah mengeluarkanku dari majelis ini. Dan siapa yang berkata bahwa dia tidak tahu berarti dia telah memberikan fatwa. Jika kamu merasa tertarik terhadap apa yang aku katakan, dan melihat ada kebaikan di dalamnya, maka dengarkanlah apa yang saya sampaikan dengan penuh rasa syukur,

dan apabila engkau hendak memperluas lagi pengetahuan itu, maka bertanyalah kepada ulama-ulama selain diriku yang memiliki kelebihan dan spesialisasi. Mereka mungkin dapat memberikan kepuasan yang engkau cari, sedangkan diriku ini tidak lain hanyalah penyampai ilmu pengetahuan. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.” Orang itu kemudian merasa terpukul dengan jawaban itu, dan tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang dia sampaikan. Begitulah cara yang sengaja saya lakukan dalam memberikan jawaban kepadanya, dengan berkelakar. Semua orang –atau kebanyakan –yang hadir

pada pertemuan itu merasa puas hati dengan adanya penyelesaian seperti itu.

Akan tetapi, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Saya berpaling ke arah mereka sambil berkata, “Wahai saudara-saudaraku, aku menyadari sepenuhnya kepada saudara kita yang bertanya itu, dan kebanyakan saudara yang hadir di majelis ini. Menyadari sepenuhnya apa yang ada di balik itu, yaitu untuk mengetahui siapakah guru baru ini dan dari golongan manakah dia? Apakah dia termasuk golongan Syaikh Musaataukah dari golongan Syaikh Abd al-Sami’? Sesungguhnya pengetahuan tersebut sama sekali tidak akan bermanfaat untuk kamu semua, karena kamu telah bergelimang dalam fitnah selama delapan puluh tahun, dan itu sudah cukup. Pertanyaan-pertanyaan di atas telah diperselisihkan oleh kaum Muslimin selama ratusan tahun dan mereka hingga kini tetap

berselisih pendapat. Sesungguhnya Allah akan rela kepada kita apabila kita saling mencintai dan bersatu, dan tidak suka kepada kita apabila berselisih pendapat dan berpecah belah. Saya berharap bahwa kamu semua sekarang ini mau berjanji kepada Allah SWT untuk meninggalkan perkara-perkara tersebut, dan berusaha keras untuk belajar pokok-pokok dan kaidah agama, mengamalkan akhlak, sifat-sifat yang baik, pengarahan yang menyatukan ummat, melakukan perkara-perkara yang difardukan dan disunnahkan kepada kita, dan kita tinggalkan mencari-cari masalah dan memperdalam masalah khilafiyah, sehingga jiwa semua kaum Muslimin menjadi jernih, dengan satu tujuan yang hendak kita capai, yaitu mencari kebenaran dan bukan sekadar mencari kemenangan berpendapat. Dengan cara seperti itu kita dapat belajar bersama-sama dalam suasana penuh rasa cinta, saling percaya, kesatuan dan keikhlasan. Saya juga berharap kamu semua dapat menerima pandangan saya ini, dan berjanji kepada saya untuk melakukan perkara di atas.”

“Hendaknya kita tidak keluar dari pelajaran ini kecuali kita masih memegang janji setia antara kita, dan hendaknya kita saling bekerja sama serta berkhidmat untuk Islam yang m
ulia, menyingkirkan segala bentuk perselisihan pendapat, menghormati pendapat kita masing-masing sehingga Allah memutuskan perkara yang mesti dilaksanakan.”

Pelajaran di sudut (zawiyah) masjid itu terus berlangsung dalam suasana yang jauh dari pereselisihan pendapat berkat taufiq dari Allah. Suasana pada majelis itu semakin baik, karena setiap topik dalam pengajian tersebut dikaitkan dengan makna persaudaraan antara orang-orang yang beriman, untuk

memantapkan persaudaraan dalam jiwa mereka. Di samping itu, masalah khilafiyah senantiasa ditekankan untuk tidak diperdalam dalam perdebatan di antara mereka. Dengan demikian timbul rasa untuk saling menghormati dan menghargai di antara mereka. Cara seperti itu saya pergunakan sebagai contoh dari para ulama salaf yang shaleh, yang wajib kita tiru dalam memberikan toleransi dan menghormati pendapat yang berbeda di antara kita.

Saya sebutkan satu contoh yang sangat praktis, saya berkata kepada mereka, “Siapakah di antara kamu sekalian yang bermazhab Hanafi?” Kemudian ada salah seorang di antara mereka yang datang kepadaku. Lalu aku berkata lagi, “Siapakah di antara kamu yang bermazhab Syafi’i?” Ada seseorang yang maju kepadaku. Setelah itu aku berkata kepada mereka, “Aku akan shalat dan menjadi imam bagi kedua orang saudara kita ini. Bagaimana kamu membaca surat al-Fatihah wahai pengikut mazhab Hanafi?” Dia menjawab, “Aku diam dan tidak membacanya.” Aku bertanya lagi, “Dan bagaimana engkau wahai kawan yang bermazhab Syafi’i?” Dia menjawab, “Aku harus membacanya.”

Kemudian aku berkata lagi, “Setelah kita selesai shalat, maka bagaimanakah pendapatmu wahai pengikut mazhab Syafi’ i tentang shalat yang dilakukan oleh saudaramu yang bermazhab Hanafi?”

Dia menjawab, “Batal, karena dia tidak membaca surat al-Fatihah, padahal membaca al-Fatihah termasuk salah satu rukun shalat.” Aku bertanya lagi, “Dan bagaimana pula pendapatmu wahai kawan yang bermazhab Hanafi tentang shalat yang dilakukan oleh saudara kita yang bermazhab Syafi’i?” Diamenjawab, “Dia telah melakukan sesuatu yang makruh dan mendekati haram, karena sesungguhnya membaca surat al-Fatihah pada saat seseorang menjadi ma’mum adalah makruh tahrimi.”

Lalu aku berkata, “Apakah salah seorang di antara kamu berdua memungkiri yang lain?” Kedua orang itu menjawab, “Tidak.” Kemudian aku bertanya kepada orang-orang yang hadir di situ, “Apakah kamu memungkiri salah seorang di antara mereka berdua?” Mereka menjawab, “Tidak.” Lalu aku berkata, “Subhanallah, kamu semua dapat diam dalam menghadapi masalah seperti ini, padahal ini adalah perkara yang berkaitan dengan batal dan sahnya shalat; pada saat yang sama kamu tidak dapat

memberikan toleransi kepada orang yang dalam shalatnya membaca “Allahumma shalli ala Muhammad” atau “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad” dalam tasyahud, serta menjadikannya sebagai bahan perselisihan pendapat yang sangat dahsyat.”

Metode seperti itu sangat berkesan, karena mereka dapat mempertimbangkan sikap sebagian orang atas sebagian yang lain, dan mengetahui bahwa agama Allah SWT sangat luas dan mudah, serta tidak ditentukan oleh pendapat satu orang atau satu kelompok. Semua amalan itu ditujukan kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada jamaah kaum Muslimin dan imam mereka, kalau mereka dianggap memiliki jamaah dan imam.

[Tentang kisah Imam Hasan Al Banna dalam buku Fiqh Prioritas karya Dr. Yusuf Al Qardhawi]

Bersabarlah Dengan Buku-Bukumu

November 25, 2011 § 26 Komentar

Akhir-akhir ini sering sekali tak fokus menyelesaikan buku-buku yang sudah dibaca. Ada perasaan tergesa untuk mendapatkan inti dari bukunya. Gak sabaran rasanya membuka lembar demi lembar atau bab demi bab. Alhasil buku-buku itu malah terbengkalai tak dibaca.
Untuk bahan bacaan yang saya baca, memang ketahanan dalam membaca menjadi kuncinya. Saya sangat jarang membaca fiksi, seperti novel atau kumpulan cerpen. Buku-buku non fiksi yang selalu menemani saya. Jika tak pintar-pintar mengatur ritme membaca maka akan menjadi mudah bosan dan tak sabaran tadi.
Akhirnya saya tahu makna dan buah kesabaran itu. Dalam kebosanan dan ketidaksabaran saya dalam membaca buku saya tersadarkan. Buku itu, Fiqh Prioritas karya Dr. Yusuf Qardhawi menjadikan saya paham makna sabar. Dengan halaman yang beratus-ratus, sudah bosan rasanya saya membuka buku tersebut. Untungnya ada teman yang mengingatkan, bahwasanya menuntut ilmu itu butuh kesabaran. Butuh kesabaran! Saya teruskan untuk membaca buku tersebut. Bagian per bagian, sedikit demi sedikit. Sampai pada akhirnya sampai pada bagian akhir. Tepat di bagian akhir buku inilah saya tersadar. Bagian akhir buku ini ternyata menyempurnakan materi keseluruhan dari buku ini. Berisi pemahaman menyeluruh atas isi dari bagian-bagian sebelumnya. Membuncah rasanya dalam dada ketika membaca bagian akhir ini. Terbayar sudah kebosanan dan kejenuhan saya dalam membaca buku ini.
Ternyata memang harus sabar untuk mendapatkan ilmu dan manfaat dari buku…
Maka, bersabarlah kawan dengan buku-bukumu 🙂
Nb: tulisan ini dalam rangka latihan menulis cepat dan tak panjang-panjang… 🙂

Tangis Peduli

November 14, 2011 § 17 Komentar

Bismillahirrahmanirrahiim…

Setelah shalat dzuhur siang ini, jadi teringat kembali kejadian shalat dzuhur beberapa hari lalu. Kejadian yang mengharukan menurut saya, pun memberi hikmah mendalam.

Seperti ini kejadiannya:

Adzan dzuhur sudah membahana di sekitar rumah, waktunya menyahut panggilan-Nya. Melangkahkan kaki menuju masjid dekat rumah yang diberi nama An Nadwa. Sudah menjadi rutinitas hampir dua bulan belakangan untuk bolak-balik masjid ini. Biasanya jika di kampus akan berpindah-pindah masjid sesuai dengan aktivitas harian, akan tetapi ketika di rumah pilihan utama adalah masjid ini.

Memasuki ruang masjid, hening sepi yang langsung terasa. Kosong begitu saja. Ramai akan pernak-pernak khas masjid tapi kosong dari jamaahnya. Hanya ada seseorang, yang ternyata muadzin yang sudah mengumandangkan adzan sekaligus iqamah. Ia sedang menunaikan shalat dzuhur. Sendiri. seorang diri. Maka saya tepuk pundaknya dan berdiri sejajar di sebelah kanannya. Menjadi jamaah satu-satunya hingga salam terucap mengakhiri shalat.

Namun, ada yang mengganjal hati ketika shalat berlangsung. Ia, sang muadzin yang sudah mencapai umur senja, shalat dengan isak tangis menghenyak heningnya suasana masjid. Subhanallah. Tangis mengalir di sela shalat adalah bukan perkara ringan, pasti ada sesuatu yang mendorong kesedihannya. Kesedihan yang berada di tengah ritual penghambaan pada Sang Pencipta.

Ada apa?

Salam sudah diucap, shalat sudah selesai. Saat duduk sejenak dalam dzikir setelah shalat, sang muadzin memalingkan wajahnya ke arah saya seraya mengatakan sesuatu dengan masih terisak tangis, “masya Allah, masjid kok kosong begini? Cuma satu orang. Masyarakat harus disadarkan” Menanggapi perkataan sang muadzin, saya hanya bisa menyungging senyum dan menganggukkan kepala. Walau haru pun sudah berkumpul dalam dada dan mata hampir berkaca-kaca. Dengan sebuah isyarat tangan, sang muadzin mempersilakan saya melanjutkan dzikir setelah shalat.

Sebuah tangis itu ternyata berasal dari keprihatinan akan masjid yang kosong, yang tak terisi oleh jama’ah sholat. Tangis yang berasal dari kepedulian akan nasib umat yang meninggalkan masjid sebagai media pemersatu umat. Tangis dari insan yang hatinya sudah terpaut dengan umat.

Sikap seperti ini, yaitu sikap peduli dengan umat. Sifat yang membuat seseorang dilanda gelisah dan resah akan nasib umat yang semakin menjauh dari nilai kebaikan khususnya nilai Islam. Sifat yang juga dimiliki pula oleh Rasulullah saw, sebelum wahyu pertama turun, Rasulullah pun sering bertahannuts memikirkan nasib masyarakat arab jahiliyah ketika itu. Tokoh-tokoh besar Islam pun memiliki sifat seperti ini, seperti Imam Hasan Al Banna, Muhammada Abduh, Rasyid Ridho, dan masih banyak tokoh lain yang kesemuanya merasakan resah dari nasib umat dan bergerak untuk memperbaikinya.

Inilah sifat yang menjadi ciri pribadi rabbani yang Allah tuliskan dalam Al Qur’an:

“…hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani karena kamu selalu mengajarkan al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Qs Ali Imran:79)

Imam ibnu Jarir Ath-Thabrani dalam kitab Jami’ul Bayaan fii Ta’wilil Quraan menjelaskan karakteristik pribadi rabbani, yang salah satu sifatnya adalah Al Qiyam bis su-unir ra’iyah li mashlahatid dunyaa wad diin. Kata kunci dari sifat ini adalah peduli pada kepentingan publik.

Dengan memiliki sifat ini, seorang insan akan memperbaiki dirinya secara berkesinambungan sebagai sebuah awalan menuju perbaikan umat. Sifat ini akan menghasilkan semangat perubahan yang luar biasa. Baik bagi diri sendiri maupun bagi umat.

Tentu kita sudah sangat hapal bagaimana Muhammad Al Fatih II Sang Penakluk Konstantinopel adalah seorang remaja parlente hasil didikan kerajaan yang bersifat manja dan sulit diatur, sampai pada akhirnya hidayah Allah datang melalui amanah itu dan dia pun melihat keadaan umat. Maka perubahan besar pun terjadi, di dirinya dan bagi umatnya. Atau kisah lain tentang perjalanan perjuangan Imam Hasan Al Banna, seorang lulusan Darul Ulum yang berbicara mengenai gerakan besar untuk menolong umat Islam yang terjajah di negaranya sendiri. Kegelisahan akan nasib umat menggelayuti pikirannya, yang kemudian ia konversi kegelisahan itu menjadi semangat perubahan. Semoga Allah meridhoi para pejuang umat yang senantiasa berjalan di atas perintah Allah swt dan tuntunan Rasulullah saw.

Lalu, di manakah diri kita saat ini?

Masihkah sibuk dengan kebutuhan diri sendiri dan terlupa akan tugas khalifah di muka bumi? Masihkah keberadaan kita justru memperburuk keadaan umat? Masihkah diri ini terus berkubang dalam dosa, yang dengan dosa itu menutupi kebeningan hati untuk tersentuh dan tergerak untuk membantu umat?

Astaghfirullah…

Semoga Allah mengampuni dosa kita dan menjadikan kita pribadi rabbani yang bermanfaat besar b
agi umat.

Aamiin.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for November, 2011 at Mutsaqqif.