Ia Hanya Berpesan

Desember 30, 2011 § 18 Komentar

Ia hanya berpesan
bahwa gunung tertinggi punya jurang tercuram
itu satu kesatuan
meniadakan yang satu akan menghilangkan yang lain
mendaki puncak tertinggi berarti keluar dari jurang tercuram
menuruni jurang tercuram berarti ujian tuk kembali ke puncak tertinggi
la hanya berpesan
kita butuh masa itu
di mana kegundahan bisa dinikmati
kesunyian bisa dimaknai
masa-masa “menuruni jurang” bisa memberi arti
Ia berpesan
nikmati masa melancholia-mu
karena ia punya batas waktu
setelah itu, ia akan pergi berlalu
Iklan

Sekolah Islam Terpadu, Mahal Ya?

Desember 20, 2011 § 73 Komentar

Bismillahirrahmaanirrahiim

Obrolan Pertama

Malam itu, setelah menunaikan sholat isya, seperti biasa akan ada obrolan ringan sebelum saya pulang kembali ke kos. Kali ini, obrolan bersama seorang ayah. Beliau adalah senior saya di kampus. “Duh, besar banget ya biaya buat masuk SDIT itu” keluh beliau. “Gak bisa ditawar gitu pak? Sama ikhwah gitu” jawab saya coba memberi solusi. “Wah, gak bisa ru. Saya kenal komite sekolahnya, Pak Budi. Beliau Cuma bisa kasih keringanan dengan cara mencicil sampe pegel katanya” jawab beliau dengan ringan dan tawa kami pun pecah. Saya sempat tertegun dengan pernyataan beliau ini. Kenapa? Dalam hal kemampuan finansial, beliau saya perhatikan sudah cukup mapan. Dengan kondisi tersebut, ternyata beliau masih merasa berat dengan biaya yang dibebankan SDIT tersebut.

Obrolan Kedua

Perjalanan sore dari arah Jakarta menuju daerah penyokong seperti Bintaro selalu saja menghadapi kemacetan. Dalam himpitan kemacetan yang padat, saya dan seorang ayah yang lain pun berbincang. Ia, seorang ayah dari dua orang putra-putri. Entah bagaimana awalnya, kami berdua berbincang tentang sekolah islam terpadu. Beliau merasa keberatan juga dengan biaya yang mahal untuk menyekolahkan anaknya di sekolah islam terpadu. Padahal, ia adalah seorang pegawai pajak yang punya penghasilan cukup. Obrolan tentang sekolah islam terpadu kali ini pun berujung pada sebuah pertanyaan yang saya ajukan waktu itu: Akan dibawa ke arah mana sekolah islam terpadu? Ke arah seperti YPI Al Azhar atau Sekolah Muhammadiyah? Dua yayasan pendidikan ini saya anggap sebagai dua paradigma pendidikan yang berbeda dari sudut pangsa pasar, karakteristik, maupun biaya pendidikan.

Kok Mahal?

Bukan sekali-dua kali ini saja saya mendapat keluhan tentang betapa mahalnya biaya pendidikan di Sekolah Islam Terpadu. Keluhan dari orang sekitar, di blog, atau sumber lainnya, semua mengeluhkan hal yang sama. Kenapa bisa mahal? Dari berbagai sumber yang saya temui, ada beberapa hal yang membuat biaya pendidikan di Sekolah Islam Terpadu menjadi mahal. Pertama, seluruh biaya operasional sekolah ditanggung dan dikelola secara mandiri, tidak ada dana bantuan dari pemerintah. Kedua, kegiatan belajar mengajar yang lebih lengkap karena mengintegrasikan materi sekolah umum dengan materi berbobot islam. Ketiga, Sekolah Islam Terpadu saat ini masih tergolong berusia muda sehingga belum mapan dari segi pendanaan.

Sebenarnya tidak masalah jika biaya pendidikan mahal, asal masih bisa terjangkau. Ya khan? Dan memang tidak bisa dipungkiri, pendirian Sekolah Islam Terpadu diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan bagi anak-anak ikhwah. Namun, ternyata banyak ikhwah yang tidak sanggup secara finansial untuk menyekolahkan anaknya di sana. Ironi. Jadilah biaya mahal ini tidak terjangkau oleh pangsa pasar yang diharapkan.

Ada kekhawatiran pribadi saya terhadap biaya yang mahal ini. Suatu fasilitas yang mahal, seperti sekolah, rumah sakit, restoran, dan lain lain memiliki sifat akan “meng-cluster-kan diri”. Ini istilah yang saya buat sendiri. Maksudnya, dengan biaya yang mahal tersebut akan mempersulit akses bagi yang tidak mampu membayar. Lebih lanjut, maka akses untuk mendapatkan fasilitas tersebut hanya akan didapatkan oleh mereka yang berkemampuan. Pada akhirnya fasilitas tersebut tidak lagi terbuka untuk semua, melainkan hanya bagi yang mampu saja. Pada tahap akhir, fasilitas tersebut akan memiliki kultur interaksi yang mencerminkan tingkat sosial dari si pengguna fasilitas tersebut, yang notabene adalah dari kalangan mampu secara finansial.

Seperti pertanyaan saya di atas: Akan dibawa ke arah mana sekolah islam terpadu? Ke arah seperti YPI Al Azhar atau Sekolah Muhammadiyah? Al Azhar, secara penilaian pribadi, sudah masuk dalam tahap akhir “meng-cluster-kan diri”. Apa yang kawan-kawan pikirkan ketika terlintas seorang anak bersekolah di YPI Al-Azhar? Jawab dalam hati aja ya. Bagaimana dengan Muhammadiyah? -lagilagi- secara penilaian pribadi, sampai sekarang masih bertahan dengan pendidikan untuk kalangan menengah ke bawah. Bahkan di beberapa daerah pelosok negeri sudah ada sekolah Muhammadiyah. Saya mendapatkan informasi bahwa Yayasan Muhammadiyah bisa bertahan sampai sekarang karena ada sokongan kuat dari Organisasi Muhammadiyah itu sendiri dan pemerintah sehingga bisa menyelenggarakan pendidikan terjangkau di seluruh negeri. Inilah dua contoh tentang penyelenggaraan pendidikan islami yang berbeda dari segi pangsa pasar, karakteristik, maupun biaya pendidikan. Lalu, Sekolah Islam Terpadu akan berada di sisi sebelah mana? Atau justru akan menciptakan sisi lain dari dua contoh ini? Wallahu a’lam.

Solusi?

Lebih tepatnya sih bukan solusi. Saya hanya akan memberikan pandangan lain dalam menghadapi problematika ini.

Dari sisi orang tua murid, berazzam lah! Memang tak mudah. Apa-apa serba mahal sekarang ini. Sekolah islami pun ikut-ikutan mahal. Tapi memang seperti itulah karakteristik jalan bagi para pencari ilmu. Perlu pengorbanan mendapatkan ilmu agama yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Tentu kita masih ingat bagaimana perjalanan hidup Imam Syafi’i. Demi menimba ilmu, ibu dari Imam Syafi’i sampai ikut berhijrah menuju Yatsrib meninggalkan kehidupan di Mekkah agar anaknya bisa belajar kepada Imam Malik.

Apa daya jika sama sekali tak mampu? Ya sudah, tak perlu bersekolah di Sekolah Islam Terpadu. Bersekolah di sekolah yang sesuai kemampuan finansial. Bukankah madrasah terbaik bagi anak-anak adalah rumah mereka dengan tuntunan akhlak dan ilmu dari ayah dan ibunya?

Dari sisi pengelola Sekolah Islam Terpadu, berazzamlah! Berazzam untuk memberikan pendidikan dengan biaya yang terjangkau. Jangan sampai justru ada penyelenggara pendidikan yang memakai sudut pandang orang tua murid: “mendapat ilmu agama itu perlu pengorbanan”. Salah. Masing-masing harus punya azzam dan sudut pandang yang saling melengkapi dan memperbaiki.

Masalah biaya menjadi sangat rumit, ketika pembangunan baru dimulai, kesejahteraan guru pun belum tercapai, atau kualitas pendidikan menuntut biaya yang tinggi. Bukan perkara mudah. Perlu perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan keuangan yang matang. Perlu ada sumber pendanaan di luar setoran yang dibayarkan orang tua murid. Pendanaan ini bisa berasal lembaga zakat, perusahaan sponsor yang terpercaya, atau sumber lainnya. Namun, dari masalah pendanaan keuangan ini harusnya membuka mata kita yang sudah sangat berlimpah harta. Ada lahan-lahan dakwah dan sarana perbaikan umat yang memerlukan dana. Ini investasi! Dunia dan akhirat! Bukan sekedar investasi dalam kepingan dinar atau lembaran surat berharga islami, tapi investasi dalam hamparan sejarah perbaikan umat menuju cahaya ilmu dan rahmat Islam.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Walaupun hanya ditulis dengan kedangkalan ilmu, pengetahuan, dan pemahaman dari saya.

Wallahu a’lam

Protes!

Desember 18, 2011 § 67 Komentar

Sudah pernah lihat khan girl band di SCTV yang semua personilnya memakai jilbab? Saya hanya melihat itu sekilas saja, tak sampai dua detik. Ketika itu terlintas penampilan mereka di iklan. Setelah tidak pernah melihat lagi.

Mau protes? Iya. Tapi saya menahan diri. Ada pemikiran yang muncul ketika mereka tampil seperti itu. Sulit diungkapkan tadinya. Tapi setelah melihat postingan seorang adik tingkat di kampus, barulah terwakili pemikiran saya ini. Begini yang ia tulis di sebuah media sosial “sebagai makhluk jilbaber entah mengapa saya merasa ada bagian dari diri saya yang dinistakan, lebai si, tapi inilah rasanya.”

Tepat! Ini yang sempat saya pikirkan ketika melihat gaya dan aksi mereka.Walaupun saya bukan makhluk berjilbab.

Tapi kawan, menghujat mereka atau sekedar marah-marah lewat dunia nyata atau maya hanya akan menghabiskan energi. Ada cara lain yang lebih bermakna untuk kita. Bersama menyebarkan pemahaman ke orang-orang sekitar kita tentang gambaran muslim sejati.

Bagaimana gambaran muslim sejati?

Analoginya seperti seekor Harimau. Bagaimana kau mendeskripsikan seekor Harimau? Binatang yang memiliki kulit loreng, pemakan daging, mengaung, dan lain-lain. Bagaimana jika ia memakan daging tapi kulitnya justru totol hitam putih? Apa ia termasuk Harimau? Mungkin masuk ke dalam kategori Harimau aneh. Atau ia memiliki kulit loreng tapi memakan bayam dan wortel. Apa ia termasuk Harimau? Mungkin ini jenis lain dari Harimau aneh lainnya. Paham khan ya analogi ini? Bahwa seorang muslim dan muslimah adalah mereka yang memiliki keislaman di luar dan di dalam. Keislaman dalam berpakaian dan keislaman dalam berprilaku. Pakaian Islam kayak gimana? Pakaian takwa, menutup aurat dan sopan. Prilaku Islam kayak gimana? Kayak Rasulullah shalallahu a’laihi wassalam.

Semoga dengan sama-sama kita menyebarkan kebaikan dan teladan yang baik, tak ada lagi aksi-aksi di televisi yang akan mengundang protes kita. aamiin

Ok! Jadi protes sama girl band-nya disalurkan jadi energi positif untuk menyebarkan kebaikan ya kawan-kawan J

BERBAGI CATATAN HIKMAH #9: Pengaruh Al Qur’an Terhadap Tubuh

Desember 7, 2011 § 12 Komentar

Pengaruh Qur’an Terhadap Organ Tubuh [Dievalusi dengan menggunakan perangkat elektronik]

Dr. Ahmad Al-Qadhiy (United States of America)

Ada menyeruak perhatian yang begitu besar terhadap kekuatan membaca Al-Qur’an, dan yang terlansir di dalam Al-Qur’an, dan pengajaran Rasulullah. Dan sampai beberapa waktu yang belum lama ini, belum diketahui bagaimana mengetahui dampak Al-Qur’an tersebut kepada manusia. Dan apakah dampak ini berupa dampak biologis ataukah dampak kejiwaan, atakah malah keduanya, biologis dan kejiwaan.

Maka, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kami memulai sebuah penelitian tentang Al-Qur’an dalam pengulangan-pengulangan “Akbar” di kota Panama wilayah Florida. Dan tujuan pertama penelitian ini adalah menemukan dampak yang terjadi pada organ tubuh manusia dan melakukan pengukuran jika memungkinkan. Penelitian ini menggunakan seperangkat peralatan elektronik dengan ditambah komputer untuk mengukur gejala-gejala perubahan fisiologis pada responden selama mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok manusia:

1.Muslimin yang bisa berbahasa Arab.

2. Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab

3. Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.

Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur’an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.

Dan pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang Al-Qur’an, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dan dampak ini terlihat pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada syaraf secara sprontanitas. Dan penjelasan hasil penelitian ini aku presentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Univ. Kedokteran Islam di Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah Mizore, Agustus 1984.

Dan benar-benar terlihat pada penelitian permulaan bahwa dampak Al-Qur’an yang kentara pada penurunan tekanan syaraf mungkin bisa dikorelasikan kepada para pekerja: Pekerja pertama adalah suara beberapa ayat Al-Qur’an dalam Bahasa Arab. Hal ini bila pendengarnya adalah orang yang bisa memahami Bahasa Arab atau tidak memahaminya, dan juga kepada siapapun (random). Adapun pekerja kedua adalah makna sepenggal Ayat Al-Qur’an yang sudah dibacakan sebelumnya, sampai walaupun penggalan singkat makna ayat tersebut tanpa sebelumnya mendengarkan bacaan Al-Qur’an dalam Bahasa Arabnya.

Adapun Tahapan kedua adalah penelitian kami pada pengulangan kata “Akbar” untuk membandingkan apakah terdapat dampak Al-Qur’an terhadap perubahan-perubahan fisiologis akibat bacaan Al-Qur’an, dan bukan karena hal-hal lain selain Al-Qur’an semisal suara atau lirik bacaan Al-Qur’an atau karena pengetahun responden bahwasannya yang diperdengarkan kepadanya adalah bagian dari kitab suci atau pun yang lainnya.

Dan tujuan penelitian komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa “Kata-kata dalam Al-Qur’an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya bila didengar oleh orang yang memahami Al-Qur’an . Dan penelitian ini semakin menambah jelas dan rincinya hasil penelitian tersebut.

Peralatan

Peralatan yang digunakan adalah perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan syaraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Univ. Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston. Perangkat ini mengevaluasi respon-respon perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal: (i) Perubahan gerak nafas secara langsung melalui komputer, dan (ii) Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan menambah semakin menguatkan hasil validitas hasil evaluasi.

Subsekuen:

1. Program komputer yang mengandung pengaturan pernafasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer.

2. Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk, layar monitor dan printer.

3. Perangkat monitoring elektronik yang terdiri atas 4 chanel: 2 canel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang diterjemahkan ke dalam respon-respon gerak syaraf otot; satu chanel untuk memonitor arus balik listrik yang ke kulit; dan satu chanel untuk memonitor besarnya peredaran darah dalam kulit dan banyaknya detak jantung dan suhu badan.

Berdasarkan elektrisitas listrik dalam otot-otot, maka ia semakin bertambah yang menyebabkan bertambahnya cengkeraman otot. Dan untuk memonitor perubahan-perubahan ini menggunakan kabel listrik yang dipasang di salah satu ujung jari tangan.
Adapun monitoring volume darah yang mengalir pada kulit sekaligus memonitor suhu badan, maka hal itu ditunjukkan dengan melebar atau mengecilnya pori-pori kulit. Untuk hal ini, menggunakan kabel listrik yang menyambung di sekitar salah satu jari tangan. Dan tanda perubahan-perubahan volume darah yang mengalir pada kulit terlihat jelas pada layar monitoryang menunjukkan adanya penambahan cepat pada jantung. Dan bersamaan dengan pertambahan ketegangan, pori-pori mengecil, maka mengecil pulalah darah yag mengalir pada kulit, dan suhu badan, dan detak jantung.

Metode dan Keadaan yang digunakan:

Percobaan dilakukan selama 210 kali kepada 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan yang berusia antara 40 tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun.

Dan setiap responden tersebut adalah non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Dan percobaan ini sudah dilakukan selama 42 kesempatan, dimana setiap kesempatannya selama 5 kali, sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Dan dibacakan kepada responden kalimat Al-Qur’an dalam bahasa Arab selama 85 kali, dan 85 kali juga berupa kalimat berbahasa Arab bukan Al-Qur’an. Dan sungguh adanya kejutan/shock pada bacaan-bacaan ini: Bacaan berbahasa Arab (bukan Al-Qur’an) disejajarkan dengan bacaan Al-Qur’an dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telingga, dan responden tidak mendengar satu ayat Al-Qur’an selama 40 uji-coba. Dan selama diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam. Dan posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 uji-coba bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an.

Dan ujicoba menggunakan bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an seperti obat yang tidak manjur dalam bentuk mirip seperti Al-Qur’an, padahal mereka tidak bisa membedakan mana yang bacaan Al-Qur’an dan mana yang bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an. Dan tujuannya adalah utuk mengetahui apakah bacaan Al-Qur’an bisa berdampak fisiologis kepada orang yang tidak bisa memahami maknanya. Apabila dampak ini ada (terlihat), maka berarti benar terbukti dan dampak tidak ada pada bacaan berbahasa Arab yang dibaca murottal (seperti bacaan Imam Shalat) pada telinga responden.

Adapun percobaan yang belum diperdengarkan satu ayat Al-Qur’an kepada responden, maka tujuannya adalah untuk mengetahui dampak fisiologis sebagai akibat dari letak/posisi tubuh yang rileks (dengan duduk santai dan mata terpejam).

Dan sungguh telah kelihatan dengan sangat jelas sejak percobaan pertama bahwasannya posisi duduk dan diam serta tidak mendegarkan satu ayat pun, maka ia tidak mengalami perubahan ketegangan apapun. Oleh karena itu, percobaan diringkas pada tahapan terakhir pada penelitian perbandingan terhadap pengaruh bacaan Al-Qur’an dan bacaan bahasa Arab yang dibaca murottal seperti Al-Qur’an terhadap tubuh.

Dan metode pengujiannya adalah dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu bacaan Al-Qur’an, kemudian bacaan vahasa Arab, kemudian Al-Qur’an dan seterusnya atau sebaliknya secara terus menerus.
Dan para responden tahu bahwa bacaan yang didengarnya adalah dua macam: Al-Qur’an dan bukan Al-Qur’an, akan tetapi mereka tidak mampu membedakan antara keduanya, mana yang Al-Qur’an dan mana yang bukan.
Adapun metode monitoring pada setiap percobaan penelitian ini, maka hanya mencukupkan dengan satu chanel yaitu chanel monitoring elektrisitas listrik pada otot-otot, yaitu dengan perangkat Midax sebagaimana kami sebutkan di atas. Alat ini membantu menyampaikan listrik yang ada di dahi.

Dan petunjuk yang sudah dimonitor dan di catat selama percobaan ini mengadung energi listrik skala pertengahan pada otot dibandingkan dengan kadar fluktuasi listrik pada waktu selama percobaan. Dan sepanjang otot untuk mengetahui dan membandingkan persentase energi listrik pada akhir setiap percobaan jika dibandingkan keadaan pada awal percobaan. Dan semua monitoring sudah dideteksi dan dicatat di dalam komputer.

Dan sebab kami mengutamakan metode ini untuk memonitor adalah karena perangkat ini bisa meng-output angka-angka secara rinci yang cocok untuk studi banding, evaluasi dan akuntabel..

Pada satu ayat percobaan, dan satu kelompok percobaan
perbandingan lainnya mengandung makna adanya hasil yang positif untuk satu jenis cara yang paling kecil sampai sekecil-kecilnya energi listrik bagi otot. Sebab hal ini merupakan indikator bagusnya kadar fluktuasi ketegangan syaraf, dibandingkan dengan berbagai jenis cara yang digunakan responden tersebut ketika duduk.

Hasil Penelitian

Ada hasil positif 65% percobaan bacaan Al-Qur’an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33 % pada responden yang diberi bacaan selain Al-Qur’an.
Pada sejumlah responden, mungkin akan terjadi hasil yang terulang sama, seperti hasil pengujian terhadap mendengar bacaan Al-Qur’an. Oleh karena itu, dilakukan ujicoba dengan diacak dalam memperdengarkannya (antara Al-Qur’an dan bacaan Arab) sehingga diperoleh data atau kesimpulan yang valid.

Pembahasan Hasil Penelitian dan Kesimpulan

Sungguh sudah terlihat jelas hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur’an pada penelitian terdahulu bahwasanya Al-Qur`an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap syaraf. dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh inipun terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, voleme darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.

Dan semua perubahan ini menunjukan bahwasanya ada perubahan pada organ-organ syaraf otak secara langsung dan sekaligus mempengaruhi organ tubuh lainnya. Jadi, ditemukan sejumlah kemungkinan yang tak berujung ( tidak diketahui sebab dan musababnya) terhadap perubahan fisiologis yang mungkin disebabkan oleh bacaan Al-Qur`an yang didengarkannya.

Oleh karena itu sudah diketahui oleh umum bahwasanya ketegangan-ketegangan saraf akan berpengaruh kepada dis-fungsi organ tubuh yang dimungkinkan terjadi karena produksi zat kortisol atau zat lainnya ketika merespon gerakan antara saraf otak dan otot. Oleh karena itu pada keadaan ini pengaruh Al-Qur`an terhadap ketegangan saraf akan menyebabkan seluruh badannya akan segar kembali, dimana dengan bagusnya stamina tubuh ini akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya. Dan hal ini sesuai dengan keadaan penyakit tumor otak atau kanker otak.

Juga, hasil uji coba penelitian ini menunjukan bahwa kalimat-kalimat Al-Qur`an itu sendiri memeliki pengaruh fisiologis terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila disertai dengan mengetahui maknanya.
Dan perlu untuk disebutkan disini bahwasanya hasil-hasil penelitian yang disebutkan diatas adalah masih terbatas dan dengan responden yang juga terbatas.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Desember, 2011 at Mutsaqqif.