Antara Alang-Jalan yang Dulu-Mengembalikanmu

Januari 4, 2012 § 29 Komentar


Arisan Kata 16, sebuah acara mengekspresikan karya dengan kata-kata yang sudah ditentukan sebelumnya. Ini kali pertama saya mengikuti acara ini. Bermaksud mengembangkan rasa dalam merangkai kata menjadi karya. Sesederhana itu. Malam tadi, pukul 22.00 wib, sudah menyendiri di kamar hanya berteman alunan seadanya, bermaksud menulis puisi. Pukul 23.00 wib, puisi sudah selesai ditulis. Publish, setor ke si empunya acara. Setelah itu, maksud hati ingin melihat karya kawan-kawan yang lain.

Ada dua Mper lain yang sudah meenyetor karya. Kebetulan saya sudah menjadi kontak keduanya, mbak Fajar (jaraway) dan teh ripi (rifzahra). Seketika meluncur lah saya menuju karya mereka. Pertama, mbak fajar, postingannya sudah saya lihat siang tadi, pun sudah berkomentar di sana. Namun, tadi siang, saat komentar saya sisipkan di karyanya, saya tak membaca penuh puisinya. Maksud saya hanya untuk komentar, bukan untuk membaca secara detail karyanya. Oh ya, puisinya berjudul “Alang”. Kedua, menuju karya teh rifi, “Mengembalikanmu”. Kali ini, niat saya memang membaca secara baik dan benar. Seperti biasanya, puisi teh rifi bisa “berbicara” kepada saya atas maksud yang diusung. Bagus!

Namun, ada yang tiba-tiba menghentakkan saya. Puisi itu punya garis maksud yang sama dengan yang saya buat. Sama. Dengan bahasa dan kata yang berbeda. Akan tetapi, menuju satu simpul maksud yang sama. Aneh? Kebetulan mugkin. Segera saya mengunjungi kembali karya mbak fajar. Ada suatu yang menarik saya ke sana. Kali ini, saya membaca dengan baik dan benar. Lagi-lagi, saya terhentak. Satu garis maksud yang sama. Sama. Karya mbak fajar pun berkisah sama dengan kisah saya dan teh rifi.

Saya belum melihat karya teh rifi sebelumnya, pun tidak memperhatikan karya mbak fajar. Kok bisa sama? Kebetulan bisa jadi jawaban paling mudah diterima. Namun, saya melihat titik lain. Saya, mbak fajar, dan teh rifi punya gelisah yang sama. Atas sahabat dan keadaannya. Atas kawan dan jalannya. Atas karib dan nasibnya. Hal ini sudah di luar dari bentuk karya-karya kita. Di luar perkara ide yang menguap sama dari tempat berbeda. Di luar kebetulan unik yang menarik. Namun, ini adalah bentuk rasa kita, cinta kita, yang mendesak-desak pikiran dan perasaan. Buah karya ini adalah kata yang berbicara, untuknya, sahabat kita.

Dalam do’aku, ada namamu, Kawan. Semoga Allah mendampingi langkahmu, serta meridhoi langkah-langkahmu. aamiin

*)bagi yang mau lihat ketiga karya-karyanya, silakan lihat karya mbak fajar di sini, karya teh rifi di sini, dan karya saya di sini.

Iklan

[Arisan Kata 16] Jalan yang Dulu

Januari 4, 2012 § 30 Komentar

Saat ini, lihat lah

Jejak-jejak kita masih jelas, di jalan itu.

Menapak kuat membekas tanah basah.

Karena saat hujan datang berbuai, sedang kita berlari pergi.

Jauh kita tetap berlari, cencawan berguncang tanda letih diri.

Menghempas diri dalam lari, sedang keluwung cantik mengelon hati.

Membelok, berputar, menyimpang, pergi!

Kita dan jalan itu, saat ini, mencapai kejauhan arti.

Di mana?

Saat ini, aku dan dirimu.

Tapak kaki telah jauh dari jalan itu.

Rangkai visiun kita telah tertinggal di jalan itu.

Campin dalam diri pun hanya tinggal kisah lalu.

Kita yang dramatis atau jalan itu terlalu syahdu?

Kita dan jalan itu, saat ini, mencapai kejauhan arti.

Ke mana?

Saat ini, aku dan dirimu.

Mongkok telah menjejaki diri juga hati.

Kaldron telah mati sejak jalan itu kita tinggal pergi.

Kritis membunuh kuasa didaktis di jalan itu.

Kita dan jalan itu, saat ini, mencapai kejauhan arti.

Salahmu! Menarik tangan dan mengayun lari.

Kau lemah pada basah!

Mungkin, juga salahku?! Mengajakmu menatap pelangi.

Aku lemah pada pesona!

Kita dan jalan itu, saat ini, mencapai kejauhan arti.

Kawan, aku rindu jalan yang dulu.


*)dalam rangka berpartisipasi dalam arisan kata 16 di sini

*)puisi yang bermaksud menasihati diriku dan dirimu, semua kawanku 🙂

Salah Paham #3

Januari 4, 2012 § 59 Komentar

Dialog 1

M = Mutsaqqif, KM = Kakak Mutsaqqif, PL = Penjual Laptop

Setting: Rumah Penjual Laptop

KM : Kamu mau laptop yang mana, ru?

M : yang itu aja deh mbak.

KM : dengan spefikasi kayak gitu udah cukup?

M : cukup ko, buat kuliah ya paling ms office aja yang kepake

*di tengah obrolan, ada suara menyela

PL : jadi suaminya mau laptop yang mana nih?

M : *celingakcelinguk

KM : oooh, ini mah adik saya pak, bukan suami…

M : @#$%^^&%$

Dialog 2

M = Mutsaqqif, Penjual Mie Ayam = PM

Latar : Kios Mie Ayam Di Kampus

M : *sibuk makan mie ayam

PM : kerja di mana pak?

M : ooh, belum kerja pak.

PM : mahasiswa?

M : Iya pak

PM : mahasiswa D4 ya? (D4= program kuliah lanjutan setara S1 untuk PNS yg sudah kerja min. 2 tahun)

M : ooh, bukan, bukan pak. Saya masih D3 kok.

PM : oh, D3-khusus ya (D3-khusus = program kuliah lanjutan setara D3 untuk PNS yg sudah kerja min. 2 tahun)

M : *mulai kesel *tarik nafas

M : saya D3 reguler kok masih, masih kuliah belum kerja…

PM : halah, si bapak nih bisa aja becandanya….

M : #@$$!!*^(^%$

Riuh yang Terbawa Pergi

Januari 3, 2012 § 38 Komentar


I’ll be on my way, wait till you see the toys I bought

You’ll be on my mind, wait till it’s time for me to go

Can’t wait to see those sleepy eyes

They will refuse to end the day

Can’t wait to hear those mumbling goo

Saying I got a lot to learn

And I will see through it all now saying yeah yeah yeah

I’ll be all right singing yeah yeah yeah

I see through it all now singing yeah yeah yeah

Cause you’ll be my greatest cure of all

I’ll be on my way, wait till I open up the door

Now you stay on my mind, there’s no time like coming home tonight

I’ll be on my way, wait till you see the toys I bought

I’ll be by your side, let’s close our eyes and end the day

(Adhitia Sofyan-Greatest Cure)

Biasanya, menjelang senja seperti ini, ia akan terus merengek untuk keluar dan bermain. Dalam gendongan bundanya, seraya menerima suapan bubur. Setelah makan selesai, sesi berjalan pun mulai. Mungkin baru sekitar seminggu yang lalu ia bisa berjalan sendiri. Sejak saat itu, tiap sore dan pagi ia berjalan dengan langkah sempoyongan mencari keseimbangan. Jika ada yang tiba-tiba mengagetkannya dan berpura-pura mengejarnya, seketika ia mempercepat langkah menuju bundanya mencari tempat bersandar.


Tapi sore ini tak biasanya. Sekarang kami sedang membereskan kamarnya. Mengatur kembali tata letak lemari, meja rias, dan membuang barang-barang usang. Teman-temannya masih bermain di luar. Namun, tanpa dia. Mungkin hening tanpa diai ni akan bertahan sampai senja datang dan semburat jingga menyala, hingga terus sampai hari berganti.


Malam nanti kuyakin juga tak seperti biasanya. Jika aku sudah terbiasa mendengar rewelannya
yang sudah kantuk, mungkin nanti malam tak ada teriakan itu lagi. Malam nanti, aku harus mengalihkan aktivitas menggodanya sebelum tidur dengan aktivitas lain. Malam nanti, ia tak lagi bisa menunggu ayahku pulang malam ini. Ia tak lagi bisa meminta ibuku menggendongnya agar cepat terlelap.


Sudah dua hari ini, bagian terbesar rumah tak berjalan seperti biasanya. Ada riuh yang terbawa pergi. Bersamanya. Baru dua hari saja, tapi sudah bisa meyakinkan bahwa rumah menjadi lebih hening. Riuh yang tercipta dari candaanmu hilang. Riuh yang keluar dari tawamu itu senyap seketika. Riuh yang hanyut dalam tidurmu di kamar itu pun tak ada.


Ternyata ini, “Greatest Cure” yang dimaksud sang penulis lirik di atas. Penyembuh terbesar atas penat-penat di luar. Penyembuh terbesar atas keheningan yang menyiksa. Penyembuh terbesar atas aktivitas tak berkesudahan. Ternyata begini rasanya. Terlepas dari riuhmu yang terbawa pergi.

Almosailem Mutsaqqif (keponakan) sudah pindah menuju asrama bersama Ayah-Ibunya. Terhitung hampir 48 jam meninggalkan rumah ini. Sekarang ia resmi menjadi resmi “anak kolong”. Jangan nakal ya nak, temani bundamu di sana…


Terjebak Dalam Rima

Januari 3, 2012 § 17 Komentar

Kau bisa mulai dari mana saja, tapi khan berakhir di sana.
Kau punya sejuta kata, tapi tak berarti jika tak sama di sana
Kau bisa berbahasa segala, tapi ia menuntut satu hal: sama.

Ia menjebakku dalam rangkai kata serupa, sama.
Mematikan maksudku yang menunggu kata.
Menahan imaji sesaat menuju memori mencari.
Membuncah diam terpangku menimbang.

Ya, kau menjebakku!

Tuk dapatkan keindahan di ujung sana, sebuah sama.

Ya, kau menjebakku!

Memeras rasa tuk lahirkan rangkai harmoni, sebuah sama.

Kau menjebakku, rima.
Dalam sajak ini dan lainnya.

Karena Sujud

Januari 1, 2012 § 14 Komentar

“Setiap orang dari umatku aku kenali pada hari kiamat.“ Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau bisa mengenalinya, di tengah kerumunan manusia yang banyak sekali?” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bagaimana pendapatmu, kalau engkau masuk ke tempat kumpul kuda, di dalamnya ada kuda hitam pekat dan kuda yang wajah dan kakinya putih; bukankah engkau dapat mengenali manakuda hitam putih dan kuda hitam?” Para sahabat bertanya, “Ya, betul.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari itu, umatku punya tanda putih (di kening) karena sujud dan tanda cemerlang (di tangan dan kaki) karena wudhu.” (Diriwayatkan Ahmad di Al Musnad, dengan sanad yang bagus)


“Setelah Allah selesai memutuskan perkara seluruh hamba-Nya dan ingin mengeluarkan penghuni neraka yang Dia kehendaki dengan rahmat-Nya, maka Dia memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan dari neraka siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun di antara orang-orang yang dikehendaki Allah untuk Dia rahmati, yaitu di antara orang-orang yang bersaksi tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan tanda sujud. Neraka menelan apa saja pada manusia, kecuali bekas sujud, sebab Allah mengharamkan neraka menelan bekas sujud. Lalu, mereka keluar dari neraka dalam keadaan terbakar. Kemudian, mereka disiram air kehidupan, lalu mereka tumbuh di bawah air itu seperti biji-bijian tumbuh di tanah bekas banjir.” (Diriwayatkan Al Bukhari)


Dari Abu Salamah yang berkata, Rabi’ah bin Ka’ab Al Islami radhiyallahu anhu bercerita kepadaku, “Aku pernah menginap di tempat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Aku datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan membawa air wudhu dan kebutuhan beliau, tiba-tiba beliau bersabda kepadaku, ‘Mintalah’ Aku berkata, ‘Aku minta kepadamu agar dapat menemanimu di surga.’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada permintaan lain?’ Aku berkata, ‘Itu saja.’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Bantulah aku, dengan banyak sujud’.” (Diriwayatkan Muslim)


What is Your Deepest Fear?

Januari 1, 2012 § 10 Komentar


Our deepest fear is that we are powerful beyond measure

It is our light, not our darkness that most frightens us

Your playing small does not serve the world

There is nothing enlightened about shrinking

So that other people won’t feel insecure around you

We were all meant to shine, as children do

It is not just in some of us. It is in everyone

And as we let our own light shine, we unconsciously give other people permission to do the same

As we are liberated from our own fear, our presence automatically liberates others

[Taken From Coach Carter Movie]

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Januari, 2012 at Mutsaqqif.