Selamat Datang Jakarta!

Februari 27, 2012 § 35 Komentar

Selamat Datang Jakarta!!

Kok judulnya berasa aneh? Bukannya yang lazim mengucapkan selamat datang itu kota yang bersangkutan ya? Lazimnya papan besar yang terpampang di batas-batas kota yang mengucapkan selamat datang atau di sisi yang lain mengucapkan selamat tinggal.

Kali ini berbeda!

Jakarta lah yang akan masuk dalam kehidupan saya, bukan saya yang memasuki kehidupan Jakarta. Jakarta lah yang menjadi warna dalam hidup saya, bukan saya yang menjadi warna Jakarta. Saya yang akan mengambil manfaat dari Jakarta, bukan Jakarta yang “memanfaatkan” saya. Memegang kendali penuh sebagai penduduk Jakarta nantinya. Arus boleh saja deras, akan tetapi ikan yang bertahan hidup lah yang akan melawan.

Mungkin ada yang pernah baca jurnal lalu yang berjudul “Cerita Jakarta”. Di situ saya pernah menyinggung tentang betapa angkernya kota ini digambarkan oleh kedua orang tua saya. Sejak kecil, ungkapan tentang kerumitan Jakarta seperti, “Jangan hidup di Jakarta kalau gak kaya-kaya banget mah, repot!” sudah sering saya dengar. Tinggal di Jakarta tak pernah terlintas dalam benak saya sebagai tujuan. Kota ini sungguh penuh pesona, walau sarat dengan kecewa.

Takdir menguji saya. Jakarta akan masuk tepat sesaat lagi dan mungkin bertahan dalam jangka waktu panjang dalam jejak sejarah hidup saya. Saatnya sudah datang, mempersiapkan diri untuk menyambut Jakarta. Mental, fisik, keuangan, dan aspek lainnya. Akan banyak penyesuaian, akan penuh tantangan, akan menempuh jarak yang panjang, akan butuh kesabaran.

Semua terlihat samar ketika akan menyambut Jakarta. Namun, saya melihat titik terang yang terkadang bisa mencerahkan di waktu suram. Satu bulan bergulat dengan Jakarta, titik terang ini yang menunjukkan jalan pada saya untuk bertahan. Titik terang itu adalah rasa syukur. Jakarta adalah ladang bersyukur, kawan. Di mana lagi di Indonesia kau akan bersyukur dengan sangat atas keselamatanmu berkendara dari tempat singgahmu ke kantor dan dari kantor kembali ke tempat singgah? Di mana lagi kau akan bersyukur dengan udara yang agak mendung hingga ada hawa sejuk menyentuh kulit yang terbiasa terbakar panas? Di mana lagi kau akan bersyukur dengan sangat atas nasibmu ketika tayangan tentang kesenjangan sosial berada tepat di depan matamu? Di mana lagi kau akan berucap syukur hingga meneteskan air mata atas rehat yang kau dapatkan hingga bisa menemui karibmu di kampung sana? Jakarta ladang bersyukur, kawan. Cara menikmati Jakarta adalah dengan memperluas sikap syukur. Syukur atas hal-hal yang sangat kecil seperti udara hingga hal terbesar seperti takdir atas dirimu.

Selamat datang Jakarta…!!

“But if you stay, I will stay. Even though the town’s not what it used to be. And pieces of your life you. try to recognize. All went down”

-Forget Jakarta, Adhitia Sofyan-

Iklan

Catatan Seorang Pekerja

Februari 14, 2012 § 30 Komentar

Sudah lebih dari dua minggu, mengubah status dari “pengangguran” menjadi “Pekerja Jakarta”. Terus gimana rasanya? Macem-macem deh. Tapi intinya, menjalani status dan dunia baru itu menantang. Banyak bertemu hal baru, belajar hal baru, beli hal baru juga hahaha…

Di antara banyak hal baru itu ada beberapa yang terasa sekali pengaruhnya. Salah satunya tentang “feel” menjadi seorang pencari nafkah. Walaupun dalam tujuan sebenarnya kerja yang saat ini saya lakoni adalah “sambilan” selagi menunggu penempatan, akan tetapi sudah seperti berasa kerja sungguhan. Pergi pagi, pulang petang, berinteraksi dengan pekerja-pekerja lain, menghitung-hitung pengeluaran dan pemasukan, dan lain-lain. Kondisi dan aktivitas seperti ini yang membuat sebuah pikiran terlintas: jadi pencari nafkah itu, Super Hero banget ya! Apalagi kalau ditambah dengan ucapan: “Saya bekerja untuk menjemput rizki-Nya untuk anak dan istri”. Ini bukan galau lho yaa, tapi sekedar perasaan bangga sekaligus bertanggung jawab. Perasaan khas seorang laki-laki…*tssaaah

Semoga segera penempatan dan bisa merasakan mnjadi pekerja yang sesungguhnya… J

Aamiin…

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Februari, 2012 at Mutsaqqif.