Persaingan?

Juni 11, 2012 § 24 Komentar

Sore ini, agenda rutin sedikit berubah. Haluan untuk mengistirahatkan diri di masjid kantor diganti menjadi berkunjung ke sebuah kantor bersama seorang kawan. Kantor lembaga zakat. Ada apa gerangan? Mengambil informasi. Ada sebuah tawaran program yang menarik minat saya. Sebuah kesempatan berkontribusi lebih. Daripada hanya pulang-pergi kerja tanpa ada kegiatan lain. Program ini menjawab do’a saya untuk dapat berkontribusi dalam sebuah lembaga zakat. Semoga harapan saya ini terkabul nantinya.

Tepat ketika adzan maghrib membahana, saya sudah sampai di depan pintu kantor lembaga zakat tersebut. Akan tetapi, seorang yang telah membuat janji untuk memberikan informasi belum lah datang. Disambut oleh seorang karyawan lembaga zakat tersebut, kami dipersilakan untuk sholat maghrib di dalam kantor. Pukul 18.20, si empunya janji belum datang juga. Setelah dihubungi kawan, ternyata si empunya janji lupa akan janjinya. Ok, saatnya menunggu.

Karena sudah cukup lama menunggu dan daripada waktu terbuang, sedangkan kami sudah ada di kantor lembaga zakatnya, kenapa tak langsung saja bertanya pada karyawannya? Sederhana dan cepat khan? Ok, saatnya bertanya langsung saja. Si karyawan menyanggupi. Walau sudah di luar jam kantor, ia masih mau memberikan penjelasan tentang program yang menarik minat saya.

Si karyawan mulai menjelaskan secara rinci program tersebut. Dari tutur dan gaya bahasanya, terlihat sekali dia tipikal pembicara yang “ceriwis”. Di antara penjelasannya tentang program tersebut, ada hal yang sangat mengganggu telinga saya awalnya. Setelah telinga terganggu, pemikiran saya pun ikut-ikut terganggu. Ah, tak nyaman sekali bahasa dan isi dari penjelasannya. Saya sangat tak suka.

“Indonesia punya sekitar 200 triliun potensi zakat. Dan baru terkumpul sekitar 1,5 triliun. Lembaga zakat kami mengumpulkan 1 triliun untu tahun lalu. Walau ‘dikeroyok’ lembaga zakat lain, kami masih bisa mengumpulkan 1 triliun dari total sekitar 1,5 triliun”

“Program ini sudah memakai sistem online, jadi mas bisa langsung tahu berapa jumlah zakat yang sudah dikumpulkan. Sistem ini baru kita yang pakai.”

“sistem pengumpulan zakat seperti ini baru kita yang terapkan. Lembaga zakat lain belum. Target kita akan terus berlipat tiap waktunya. Jika sudah bagus kita juga akan sosialisasikan sistem ini ke lembaga zakat lain.”

Memperhatikan penjelasan sang karyawan, saya sempatkan diri untuk berpikir sejenak dan memastikan bahwa saya berada dan sedang mendapat penjelasan tentang program di sebuah lembaga zakat, bukan sedang mendengarkan lantunan promosi barang dari seorang salesman.

Ah, mungkin saya yang terlalu awam dan bodoh akan dunia per-lembaga-zakat-an. Tapi tipikal penjelasan macam ini tak pernah saya kira akan keluar dari seorang karyawan lembaga zakat terkemuka.

Penjelasan berisi nada “persaingan”…?

Iklan

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Juni, 2012 at Mutsaqqif.