Barisan Dakwah

September 25, 2012 § 15 Komentar

Barisan
sumber gambar
“Dengarkan. janganlah engkau keberatan untuk menghimpun orang-orang yang kurang memiliki ketaatan dan masih melakukan kemaksiatan-kemaksiatan ringan, ke dalam da’wah, selama engkau mengetahui bahwa mereka memiliki rasa takut kepada Allah, menghormati aturan (hukum) dan memiliki sifat patuh. Karena, sesungguhnya mereka itu dalam waktu dekat akan bertaubat. Anggaplah dakwah itu merupakan rumah sakit, tempat dokter melakukan pengobatan, dan di situlah orang yang sakit akan memperoleh kesembuhan. Engkau jangan sampai menutup pintu di hadapan mereka. Justru jika engkau mampu menarik mereka dengan berbagai sarana, lakukanlah. Karena ini adalah tugas pertama dakwah.

Sebaliknya, berhati-hatilah terhadap dua kelompok manusia dan jangan sampai keduanya engkau ikutkan dalam barisan dakwah. Pertama, orang atheis yang tidak punya aqidah. Sekalipun ia menampakkan kebaikan, namun sebenarnya tidak ada yang dapat diharap dari kebaikannya itu, karena sesungguhnya ia jauh dari kalian dari pangkal aqidahnya. Lalu apa yang dapat Anda harapkan darinya? Kedua, orang yang menghormati aturan tetapi tidak menghargai makna ketaatan. Orang yang demikian ini hanya menguntungkan dirinya sendiri, akan tetapi dapat merusak jiwa anggota jama’ah, karena ia dapat menipu dang mengelabui jamaah dengan kebaikannya, serta dapat memecah belah jamaah dengan cara menyelisihinya. Jika engkau mampu mengambil manfaat darinya dalam keadaan ia jauh dari jamaah, maka lakukanlah. Jika tidak, barisan dapat rusak dan kacau. Manusia itu jika melihat ada seseorang di luar shaf, maka mereka tidak mengatakan bahwa ada seseorang yang keluar, akan tetapi mereka akan mengatakan bahwa shafnya bengkok. Maka dari itu, berhati-hatilah.”

-Syaikh Muhammad Sa’id Al Irfi dalam Mudzakiratud da’wah wa da’iyah Hasan Al Banna-

Iklan

Kekuatan Kata-Kata

September 13, 2012 § 3 Komentar

Kekuatan Kata-Kata

Di beberapa saat, yaitu saat-saat perjuangan yang pahit yang dilakukan ummat di masa yang lalu, saya didatangi oleh gagasan keputusasaan, yang terbentang di depan mata saya dengan jelas sekali. Di saat-saat seperti ini saya bertanya kepada diri saya: Apa gunanya menulis? Apakah nilainya makalah-makalah yang memenuhi halaman koran-koran? Apakah tidak lebih baik dan pada semuanya ini kalau kita mempunyai sebuah pistol dan beberapa peluru, setelah itu kita berjalan ke luar dan menyelesaikan persoalan kita dengan kepala-kepala yang berbuat sewenang-wenang dan melampaui batas? Apa gunanya kita duduk di meja tulis, lalu mengeluarkan semua kemarahan kita dengan kata-kata, dan membuang-buang seluruh tenaga kita untuk sesuatu yang tidak akan sampai kepada kepala-kepala yang harus dihancurkan itu?

Saya tidak menyangkal bahwa detik-detik seperti ini menjadikan saya amat  menderita. Ia memenuhi diriku dengan kegelapan dan keputusasaan. Saya merasa malu kepada diri saya sendiri, sebagaimana malunya seorang yang lemah tidak dapat berbuat sesuatu yang berguna.

Tetapi untunglah saat-saat seperti itu tidak berlangsung lama. Saya kembali mempunyai harapan dalam kekuatan kata-kata. Saya bertemu dengan beberapa orang yang membaca beberapa makalah yang saya tulis, atau saya menerima surat dan sebagian mereka. Lalu kepercayaan saya akan gunanya media seperti ini kembali lagi. Saya merasa bahwa mereka mempercayakan sesuatu kepada saya: sesuatu yang tidak begitu berbentuk yang terdapat dalam diri mereka. Tetapi mereka menunggu-nunggunya, bersiap-siap untuknya dan percaya kepadanya.

Saya merasa bahwa tulisan-tulisan para pejuang yang bebas, tidak semuanya hilang begitu saja, karena ia dapat membangunkan orang-orang yang tidur, membangkitkan semangat orang-orang yang tidak bergerak, dan menciptakan suatu arus kerakyatan yang mengarah kepada suatu tujuan tertentu,

kendatipun belum mengkristal lagi dan belum jelas lagi.

-Sayyid Quthb Rahimahullah-

sayyid Quthb

Sebuah Tanya

September 12, 2012 § 33 Komentar

tanya

Kusampaikan padamu sebuah tanya bersahaja. Sederhana.

Terserah akan kau jawab dengan tujuan apa, argumen apa,atau nada seperti apa. Jawab saja. Maka aku puaskan tanyaku tentangmu dan tentang yang lain.

Sebuah tanya: Apa Tujuanmu Berpakaian?

Bagaimana?

September 11, 2012 § 13 Komentar

Sebuah puisi yang merangkai makna sikap dalam setangkup kata berbaris.
Bagaimana
Kau Ini Bagaimana

Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana….

Kau ini bagaimana…
Kau bilang aku merdeka
Tapi kau memilihkan untukku segalanya

Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku berfikir
Aku berfikir kau tuduh aku kafir
Aku harus bagaimana…
Kau suruh aku bergerak
Aku bergerak kau waspadai

Kau bilang jangan banyak tingkah
Aku diam saja kau tuduh aku apatis

Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku memegang prinsip
Aku memegang prinsip
Kau tuduh aku kaku

Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku toleran
Aku toleran kau tuduh aku plin-plan

Aku harus bagaimana…
Kau suruh aku bekerja
Aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa
Tapi khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa

Kau suruh aku mengikutimu
Langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum
Kebijaksanaanmu menyepelekannya

Aku kau suruh berdisiplin
Kau mencontohkan yang lain

Kau bilang Tuhan sangat dekat
Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat

Kau bilang kau suka damai
Kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun
Aku membangun kau merusakkannya

Aku kau suruh menabung
Aku menabung kau menghabiskannya

Kau suruh aku menggarap sawah
Sawahku kau tanami rumah-rumah

Kau bilang aku harus punya rumah
Aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi
permainan spekulasimu menjadi-jadi

Aku kau suruh bertanggungjawab
kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bis Showab

Kau ini bagaimana..
Aku kau suruh jujur
Aku jujur kau tipu aku

Kau suruh aku sabar
Aku sabar kau injak tengkukku

Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku
Sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu

Kau bilang kau selalu memikirkanku
Aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana..
Kau bilang bicaralah
Aku bicara kau bilang aku ceriwis

Kau bilang kritiklah
Aku kritik kau marah

Kau bilang carikan alternatifnya
Aku kasih alternative kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau
Kau tak mau

Aku bilang terserah kita
Kau tak suka

Aku bilang terserah aku
Kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana

1987
Gus mus

Banyak Jalan

September 10, 2012 § 8 Komentar

Roads
Kaki ini akan terus melangkah. Ia tak bisa menjejak tanah terlalu lama. Agar terus bergerak, menikmati perjalanan panjang ini. Selalu mengambil bekal di tiap lekuk jalan. Selalu mencari santapan hikmah di bentangan pemandangan. Selalu mengusap peluh dari teriknya cahaya.
Tapi kemana?

Banyak Jalan. Dan kesemuanya adalah pilihan. Hanya sepenggalan jalan yang dapat kulihat. Tak tahu apa rupa di sepanjang jalan. Tak tahu apa muka di penghujung jalan. Sungguh hanya sepenggalan jalan depan yang kupaham.

Banyak jalan. Banyak Pilihan. Dan kaki ini harus tetap berjalan. Maka segera tentukan pilihan sekarang!

Handphone Baru

September 10, 2012 § 28 Komentar

Sore ini, datang Majalah Tarbawi dari si mas langganan koran. Salah satu bahasannya, “Harta dan Perasaan Kita”. Tetiba teringat dialog kecil yang berujung pada sebuah pemikiran panjang. Tentang harta dan perasaan.

X : itu si fulan bisa pasang Whatsaap, gak ikutan pasang?

Y : gak bisa. handphone saya gak kompatibel sama WA.

X : gak ganti hp? si fulanah dah ganti BB, si fulan udah ganti android juga.

Y : belum butuh hape yang seperti itu. dan memang belum ada dananya juga sih…

Pemandangan yang sudah jamak saya lihat. Kawan-kawan sekitar sudah memiliki ‘kawan’ baru yang lebih canggih, trendy, dan sebagainya. Mau? Ya, tentu saja. Tapi entah, ada tabir tipis yang membuat ingin saya tak sampai pada sebuah aksi. Dana? Tidak juga. Bisa lah untuk sekedar beli ‘kawan’ itu. Lalu? Saya hanya ingin tetap seperti ini. Saya enggan sekali mengusik perasaan saya dengan hadirnya barang-barang itu. Saya hanya ingin hidup dengan sederhana. Bukan berarti semua barang itu adalah kemewahan. Tapi bagi saya, barang-barang itu belum dibutuhkan dan hadirnya hanya akan mengusik perasaan. Bahkan lebih lanjut mengubah gaya hidup.

Saya hanya ingin seperti ini, tak ada harta yang bisa mengusik perasaan. Karena ia berada jauh dari dada, ia tunduk patuh pada genggaman tangan saya.

aamiin yaa Rabbi…

Akhir Perjalanan

September 6, 2012 § 12 Komentar

“Di dunia ini, dari banyaknya jumlah manusia hanya sedikit saja dari mereka yang sadar.
Dari sedikit yang sadar itu hanya sedikit yang ber-Islam. Dari sedikit yang ber-Islam itu hanya sedikit yang berdakwah. Dari mereka yang berdakwah lebih sedikit lagi yang berjuang. Dari mereka yang berjuang sedikit sekali yang bersabar. Dan dari mereka yang bersabar hanya sedikit sekali dari mereka yang sampai akhir perjalanan”
-Hasan Al Banna-

Long Road to The End

Where Am I?

You are currently viewing the archives for September, 2012 at Mutsaqqif.