Biar Malam Ini

Oktober 15, 2012 § 5 Komentar

Malam

Biar malam ini, sejenak menyandarkan diri pada ketenangan. Pada tempat nyaman yang biasa menyeka pekat lelah seharian. Pada bising di luar yang sudah kupastikan tak terdengar oleh lantunan nasihat-Mu. Senyapnya yang menenangkan bukan karena tak ada suara, tapi karena ada hati yang tenang hingga bising tak mampu datang. Biar malam ini, Kau mengistirahatkan aku barang sebentar.

Biar malam ini, kucoba lagi tapaki jalan menuju mimpi yang mungkin telah usang. Terbata-bata melafalkan dan menghafalkan bagian akhir dari kitab-Mu. Sembari mengernyitkan dahi berulang kali menyadari bodohnya diri. Kala itu berlangsung, adalah waktu tercerah bagiku, yaitu saat sadar bahwa diri ini adalah bodoh lagi alpa, tak ada istimewa. Biar malam ini, Kau nasihatiku lagi.

Biar malam ini, kuhentikan sejenak, semuanya. Ku perlu duduk sebentar, melihat semuanya kembali. Mungkin saja aku tak sadar bahwa panjangnya langkah hanya menyisakan jejak kotor, banyaknya celoteh hanya menyeruakkan bau tak sedap, lincahnya gerak hanya menyakiti tubuh yang lain. Dosa itu banyak, tapi masalahnya ia tak dapat membuatku takut. Ini yang membuatku takut. Biar malam ini, Kau tuntun aku lagi.

Biar malam ini, aku membersamai-Mu dalam hati. Tidak sekilas seperti siang, sore, atau bahkan pagi tadi. Pertemuan panjang nan tenang mungkin bisa buatku senang. Cepatnya waktu, padatnya laku, atau pikiran yang terbelenggu sudah membuat Kau terasa jauh. Walau sadarku memberitahu, bahwa Kau tak pernah beranjak dari mana pun, kecuali sangat dekat denganku. Biarlah malam ini, Kau membersamaiku dengan lekat.

Biar malam ini, aku tersambung dengan-Mu lewat do’a yang panjang dan tenang.

sumber gambar

Iklan

Partner in Crime

Oktober 15, 2012 § 20 Komentar

Ayah dan anak laki-laki itu, menurut saya, adalah analogi tepat bagi ungkapan “Partner in Crime”. Tentunya, jangan artikan “crime” di sini sebagai kejahatan, tapi ini adalah ungkapan betapa kompak dan padunya dua pihak tersebut: Father and His Son. Belakang saya bisa senyum bahkan sampai tertawa lepas melihat ulah pasangan Partner in Crime di rumah. Al Mosailem Mutsaqqif dan Ayahnya. Mulai dari gaya mereka berdua, aksi mereka, sampai acara nyanyi bareng mereka.


Sedikit dari cuplikan pasangan Partner in Crime yang sempat tertangkap kamera, saya pasang di blog ini. Masa-masa seperti ini pastinya sangat berharga untuk mereka, apalagi dengan kewajiban dinas ayahnya Almo yang jauh dan dalam waktu lama. Semoga bisa jadi penawar rindu nantinya.

 

Apalagi, si Almo ini lebih akrab dengan ayahnya dibanding dengan bundanya, tak bertemu dalam beberapa minggu pun sudah bisa membuat dia demam tinggi.

 

Dan sebenarnya, ada iri saat melihat almo dan ayahnya. Ada rindu yang memanggil masa-masa serta momen yang sama dengan ini. Saat saya dan ayah menjadi pasangan Partner in Crime dulu. Pernah sama-sama menonton ajang balap liar dan sama-sama kabur seketika ada sirine mobil polisi yang membuyarkan ajang balap malam itu. Sama-sama menjajal kecepatan tinggi dari motor yang kami kendarai, bahkan menantang pengendara lain. tapi yang paling saya rindu adalah, perjalanan kami berdua menuju masjid di kala langit masih pekat dan udara dingin berhembus. :’)

Semoga tersampaikan lagi masa-masa itu…

Terima Kasih

Oktober 10, 2012 § 37 Komentar

terima kasih

Terima kasih atas keberanian yang sejenak mengesampingkan segala perhitungan.

Terima kasih atas kekuatan tekad yang sudah lama menahan godaan sekitar.

Terima kasih atas kejujuran yang berhasil menyibak tabir gelap.

Terima kasih atas keterusterangan yang kukuh dalam berucap.

Terima kasih atas kesempatan menggenggam amanah teramat berat.

Terima kasih, Kawan.

dan

Maaf, aku tak menjadi jawaban atas tanyamu di hari lalu.

 

 

sumber gambar di sini

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Oktober, 2012 at Mutsaqqif.