Tentang Kenyamanan

Mei 16, 2013 § 18 Komentar

Gambar

Omar Mukhtar,Hasan Al-Banna,Sayyid Qutb,Yahya Ayyash, Syeikh Ahmad Yassin, Abdul Aziz Rantisi, Abdullah Yusuf Azzam, Dzokhar Musayevich Dudayev, Ibnul Khattab dan Abdullah Syamil Salmanovich Basayev

10 nama yang ditulis kembali sejarah hidupnya oleh seorang penulis, jurnalis, da’i, Herry Nurdi, dalam bukunya Perjalanan Meminang Bidadari. Kesepuluhnya punya jalan masing-masing dalam tapaknya di atas perjalanan meminang bidadari. Menjadi mujahidin, politisi, ulama, tokoh masyarakat, serta pemimpin negara pada saat yang bersamaan. Perjuangan di segala aspek kehidupan menjadi peranan mereka selama hidup. Daya juang yang membuat segenap dunia di sekitar mereka bergetar. Dan tinta emas serta lisan insan tak hentinya menceritakan kembali kisah epic mereka.

Ada satu hal yang sangat membekas ketika membaca tentang mereka: hidup dalam perjuangan. Ya, perjuangan. Dan corak perjuangan salah satunya adalah melepaskan diri dari kenyamanan. Ibnul Khattab yang masuk kamp pelatihan mujahidin Afganistan pada usia 18 tahun, Abdullah Azzam yang berposisi sebagai ulama turun ke medan jihad, mengamalkan apa yang tadinya berada di atas kitab menjadi amalan di atas dunia, atau Syaikh Ahmad Yasin yang tua lagi renta, memilih maju sebagai pemimpin perjuangan perlawanan, sedang tubuhnya lumpuh di sebagian tempat. Tak ada pencarian hidup mereka menuju kenyamanan, atau mereka justru merasa nyaman dengan perjuangannya?

Lalu bagaimana dengan diri ini? Ketika amalan mencari nafkah dimaksudkan untuk mencari harta, harta, dan harta hingga nyamanlah kehidupan dunia. Amalan mencari ilmu agar mudah mencapai jabatan sehingga nyamanlah menikmati fasilitas. Amalan dakwah hanya sesuai kemauan semata hingga tidak mengganggu hidup yang sudah nyaman ini. Atau amalan menggenapkan dien sebagai kenyamanan hati, bukan sebagai pelengkap kekuatan perjuangan.

Maka mencari kenyamanan dalam buaian dunia adalah langkah-langkah yang menjauhkan diri dari perjuangan. Sedang para pejuang itu hidup menderita karena mereka yakin bahwa Surga adalah kenyamanan yang mereka tuju.

Gambar

sumber gambar: di sini dan sini

Iklan

Berhenti Menulis

Mei 6, 2013 § 8 Komentar

Gambar

 

Berhenti menulis berarti berhenti membaca. Berhenti menulis berarti berhenti berpikir. Berhenti menulis berarti berhenti membagi cerita. Berhenti menulis berarti berhenti berjuang.

 

Bagi sebagian orang, berhenti menulis adalah perkara besar seperti yang tertulis di atas. Bagi sebagian yang lain, berhenti menulis adalah perkara remeh. Dan saya termasuk sebagian yang kedua. Berhenti menulis karena menganggap remeh menulis. Terlintas akan menyalahkan keadaan, tapi sayangnya keadaan tak berubah dengan disalahkan. Terbersit akan mengumpat si waktu yang berputar cepat, tapi sayangnya mengumpat waktu takkan memperlambatnya. Jadi sudahlah, kembali saja pada rumus dasarnya: Jika ingin menulis, maka menulislah!

Maka kali ini saya tobat. Segera menulis lagi, yang dengan itu saya akan membaca lagi, berpikir lagi, membagi cerita lagi, dan berjuang lagi.

“Saya merasa bahwa tulisan-tulisan para pejuang yang bebas, tidak semuanya hilang begitu saja, karena ia dapat membangunkan orang-orang yang tidur, membangkitkan semangat orang-orang yang tidak bergerak, dan menciptakan suatu arus kerakyatan yang mengarah kepada suatu tujuan tertentu,kendatipun belum mengkristal lagi dan belum jelas lagi.”

-Sayyid Quthb Rahimahullah-

 

sumber gambar: sini

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Mei, 2013 at Mutsaqqif.