Menyoal Usia

September 14, 2014 § 5 Komentar

Manusia dan sekitarnya adalah paduan dari dua hal: objek dan persepsi. Ya, manusia hidup dalam persepsi yang menjadikannya mampu mensikapi dunianya. Diawali dari persepsi, manusia menjadi beragam dalam beda, bertengkar dalam konflik, atau bersama dalam rasa. Sebuah persepsi yang menentukan. Kemudian adalah objek, sebuah tujuan pengamatan. Objek yang awalnya dirasa dengan indera manusia, kemudian dicari maknanya. Objek  bersifat statis dalam bentuk, akan tetapi bersifat dinamis jika telah terpadu dengan persepsi manusia. Di sinilah interaksi  objek dan persepsi memiliki hal paling menarik, yaitu keragaman makna. Selanjutnya keragaman makna ini memberi kita tambahan pengetahuan dan meluaskan wawasan. Marilah kita mengambil  contoh kecil dari interaksi sebuah objek dan persepsi, tentang usia. Mari menyoal usia!

Manusia hidup dalam dimensi ruang dan waktu. Dimensi waktu inilah yang dalam keseharian tersebut dengan istilah usia. Dimensi waktu yang bernama usia inilah yang membersamai manusia sejak lahirnya hingga menuju ajalnya. Usia yang dalam interaksi social bisa menjadi sebuah identitas khusus. Usia yang bisa berpengaruh dalam karakter manusia. Usia yang punya beragam makna bagi persepsi manusia. Berikut sekelumit usia dalam keragaman pandangan manusia;

Usia: Berkurang atau Bertambah?

Dalam budaya masyarakat saat ini, kita sudah mengenal lekat adanya perayaan yang berkait dengan usia, yaitu perayaan ulang tahun. Dalam pernak-perniknya, perayaan ulang tahun memiliki satu hal yang ta boleh tertinggal, yaitu prosesi tiup lilin. Ternyata perayaan ulang tahun disertai prosesi tiup lilin ini adalah sebuah peninggalan sejarah terdahulu. Ada beragam teori tentang asal-usul tiup lilin ini, mulai dari Teori Yunani Kuno, Teori Pagan, Teori Swiss, sampai Teori Jerman. Dari kesemuanya,  teori-teori tersebut memiliki satu garis makna.  Sebagai contoh, Teori Jerman mengatakan bahwa pada tahun 1746 diadakan sebuah pesta untuk Ludwig Von Zinzendorf, dalam pesta tersebut Andrew Frey memaparkan secara rinci  bahwa ada sebuah kue besar dan  diberi lubang sesuai dengan  usia si orang tersebut, setiap lubang diberi lilin di atasnya dan sebuah lilin ditempatkan di tengah kue tersebut. Lilin melambangkan usia, ini yang menjadi perhatian kita. Lilin yang menjadi perlambang usia tersebut dikahir prosesi akan ditiup hingga padam. Bermakna apakah ini? Usia yang berkurang kah? Bahwa telah terlewati sekian banyak rentang usia dalam hidup manusia, hingga masa-masa yang terlewat itu menjadi “padam”. Seperti inikah persepsi kita?

Di sisi lain keseharian kita, usia punya makna berkebalikan dari simbol “padamnya lilin” tadi. Dalam percakapan dengan anak-anak kita, mungkin kita terbiasa berucap, “ usiamu makin bertambah nak, kamu harus lebih mandiri ya”. Ya, usia pun dalam dimensi waktunya punya makna bertambah.  Adapun contoh lain yang lebih lekat dalam keseharian kita adalah perayaan-perayaan ulang tahun yang selalu saja meriah. Dengan pesta, makan bersama, atau alunan music membahana, perayaan ulang tahun sebagai wujud lain dari usia selalu saja bernada gembira. Hal ini menunjukkan bahwa seorang yang berulang tahun tidak memaknainya sebagai sebuah momentum hilangnya kesempatan mereka untuk hidup di dunia. Makna bagi yang berulang tahun dengan bahagia adalah pertambahan usia yang membawa harapan baru dan semangat baru.

Jadi usia itu di setiap tahunnya, berkurang atau bertambah? Jadi harus seperti apa kita bersikap di hari lahir yang berulang ini, bahagia karena kita anggap bertambah usia atau bersedih karena usia kita nyatanya berkurang? Dua makna berbeda yang lahir dari persepsi inilah yang seharusnya bisa melengkapi sikap kita tentang bertambah atau berkurangnya usia. Pertama, maknai bahwa usia bertambah, dan besyukurlah atas segala nikmat yang telah diterima, serta tetaplah semangat mengejar harapan baru. Kedua, maknai usia berkurang, dan siapkan bekal terbaik untuk menuju kematian kita. Dengan menyikapi adil di dua persepsi ini, kita akan menjadi manusia yang bijaksana dalam menjalani usianya.

Begitulah hubungan manusia, persepsi di matanya, dan objek di di sekitarnya. Akan ada beragam makna yang membentang, maka pintar-pintar lah saja dalam melihat panjangnya spektrum persepsi hingga sikap kita tidak akan mengerdil lagi sempit.

Salam Pembelajar!!

Iklan

§ 5 Responses to Menyoal Usia

Coretan Kawan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menyoal Usia at Mutsaqqif.

meta

%d blogger menyukai ini: